Sunday, 21 June 2009

Menjadi Tua

Waktu menggelinding. Memakan usia kita. Berpuluh-puluh senja telah kita sambangi.

Dan, kita tiba di satu masa, di mana aku akan menjadi tua. Begitu juga kau.

Pada masa itu, fisik kita tak lagi sama. Aku akan lebih kesulitan menguruskan badan (aha) dan kau mungkin akan lebih tak tahan berlama-lama di udara dingin. Kita bisa jadi akan mudah lelah melakukan banyak aktivitas yang dulu bisa dengan leluasa kita jalani saat kita muda.

Warna rambutmu, dan rambutku tentunya, akan berubah menjadi abu-abu.

Ya, abu-abu. Seperti warna rambut dua bapak dan dua ibu, yang duduk di barisan di depan kita saat GM menyampaikan kuliah umum tentang humanisme di Salihara, pekan lalu. Dan warna rambut seorang bapak berbaju batik lengan panjang yang sore itu bertanya dan tahu banyak tentang Pram.

Rambutku dan rambutmu akan menjadi abu-abu. Kita mungkin akan tetap melaksanakan ritual memutari kota, memandangi lampu jalan, berbincang-bincang tentang apa saja, melewati rute yang sama, melihat tempat-tempat yang memiliki arti dalam perjalanan kisah kita, kemudian berhenti sebentar untuk minum air jahe yang dihidangkan di gelas kaleng di angkringan langganan di pinggir jalan.

Aku bayangkan satu sore kau akan duduk di kursi kayu ditemani teh tawar panas di halaman belakang rumah kita, memeriksa tulisan mahasiswamu. Atau bersandar, meluruskan kaki, di kursi malas di ruang tengah, tak jauh dari jendela lebar yang daun jendelanya dibiarkan terbuka, membaca buku atau jurnal, sesekali membetulkan letak kacamata, menggosok-gosok hidung, membiarkan angin memainkan anak rambutmu.

Aku mungkin akan mengedit atau menjelajah dunia maya, satu hal yang aku gemari sejak muda, melihat kabar teman-teman lama atau membaca cerita pendek di koran edisi akhir pekan atau bermalas-malasan bersama anjing berbulu coklat muda peliharaan kita

Berdua, kita akan saling menjaga.

Dan ya, kendati usia kita tua, kita akan tetap melakukan perjalanan, sayang. Tak berhenti bahkan ketika rambut kita berubah menjadi abu-abu.

Kita … mengantungi begitu banyak bahagia.

Satu hal yang aku tahu dengan pasti; saat itu, ketika helai-helai rambut hitammu berjejalan dengan helai-helai putih rambutmu, kau akan terlihat jauh lebih tampan dibandingkan hari pertama aku melihatmu puluhan tahun lampau.

Percayalah, akan ada banyak kasih di kisah kita; saat kita menjadi tua, bersama…

-aku menyayangimu, selalu-

Tags:

7 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 12:29.

kembali ke atas

Thursday, 30 April 2009

Bergerak Menuju Holland


Jakarta terlihat lebih molek dari ketinggian. Apalagi saat malam datang. Saya menikmati wajah Ibu Kota dari sebuah restoran di lantai sepuluh di sebuah pusat perbelanjaan. Alfian, teman yang ingin saya temui, belum nampak.

Tapi jurnalis muda, dari harian berbahasa Inggris The Jakarta Post itu tak membuat saya menunggu lama. Perjumpaan pertama saya dengan laki-laki kelahiran Desa Krueng Seunong, Aceh Utara, terjadi pada awal Februari tahun lalu. Kala itu kami meliput perayaan akbar hari lahir sebuah organisasi keagamaan yang digelar di Gelora Bung Karno, Jakarta. Setelahnya, saya juga kerap bersua dengan Alfian dalam beragam liputan. Dalam beberapa kali perjumpaan dan percakapan, saya akhirnya tahu ia pernah mengecap studi Master of Arts in Media Culture, Faculty of Arts and Social Sciences, Maastricht University, Belanda.

Malam itu, saya khusus memintanya menyisihkan waktu untuk berbagi pengalaman selama ia menempuh pendidikan di Negeri Kincir Angin pada Juli 2006 hingga Juli 2007. Ia menyambut permintaan saya dengan bersemangat. Berdua kami melewati mesin waktu miliknya.

Alfian mengantarkan saya pada September 2005, saat perwakilan dari Netherlands Education Centre (NEC) -pada 2007 berganti nama menjadi Netherlands Education Support Office (NESO)- memberikan presentasi mengenai pendidikan di Belanda. “Pemaparannya memicu untuk mulai lagi mempersiapkan diri dan berusaha mendapatkan beasiswa,” ujarnya.

Dan cerita setelahnya adalah serangkaian upaya persiapan yang dijalani lulusan S1 Agribisnis dari Institut Pertanian Bogor itu, termasuk upaya menggenjot skor Test of English as a Foreign Language (Toefl).

Maastricht nan cantik

Maastricht nan cantik

Saat itu, Alfian masih bekerja di sebuah majalah mingguan berbahasa Indonesia di Jakarta. “Mulainya dari skor 500. Ikut kursus, terus naik 530. Tapi udah itu mandek, susah naik lagi. Hahaha,” ia tergelak. Tidak berhenti sampai di situ, Alfian kemudian mengubah cara belajarnya. Selama satu jam setiap hari ia bergulat dengan contoh soal-soal Toefl. Begitu terus selama sekitar sebulan. Hasilnya? “Skor naik jadi 580.” Ia juga berhasil diterima di Maastricht University dan pergi meneruskan sekolah dengan mengantungi beasiswa Studeren in Nederland (StuNed).

Cerita sebenarnya pasti jauh lebih panjang dari rangkuman kisah yang dituturkannya malam itu. Di sana berbaur ketekunan, kesabaran, keteguhan, dan keyakinan akan keberhasilan menggapai mimpi. Anak keenam dari enam bersaudara itu mengaku beruntung dikelilingi sahabat dan teman, yang disebutnya kelompok pendukung, dan keluarga yang berperan dalam memompa semangatnya.

Masih dengan mesin waktunya, Alfian kemudian membawa saya ke kesibukan menjelang keberangkatan, mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa, saat pertama kali tiba di Bandar Udara Internasional Schiphol, Amsterdam, sambutan hangat dari teman mahasiswa Indonesia di sana, adaptasi awal, rindu rumah, kesulitan memahami buku teks, mendengarkan aneka aksen dari orang-orang berbagai bangsa, interaksi dengan teman dari beragam latar belakang budaya, hingga kegagalan presentasi pertama.

Ah ya, ia juga bertutur tentang betapa ia dengan mudah jatuh hati pada Maastricht, pada lalu lintasnya yang teratur, pada perpustakaan yang nyaman, pada udara yang bersih -sangat bersih-, pada suasana kelas kecil yang mengasyikkan -tempat di mana mahasiswa berdiskusi dan bebas mengeluarkan pendapat-, pada kemudahan menjelajah kota-kota lain di Eropa.

Alfian belajar banyak hal dari Belanda. “Dari kebingungan bikin paper pada awal-awal kuliah sampai akhirnya diminta untuk presentasi tesis di konferensi bersama dari tiga universitas dari Belanda, Kanada, dan Amerika Serikat. Benar-benar peningkatan,” tuturnya.

Suasana kota Amsterdam

Suasana kota Amsterdam

Ia tak sendiri. Belanda juga adalah jalinan kisah milik Rizki Pandu Permana, lulusan program Master di bidang Forest and Nature Conservation, Wageningen University dan tengah menempuh studi S3 Human Geography, Utrecht University dan Farid F. Nasution, peraih gelar LL.M dalam International Business Law di Vrije Universiteit Amsterdam, yang kini menjabat sebagai Kepala Subdirektorat Pemberkasan Direktorat Penegakan Hukum Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Apa yang dipetik dari pengalaman bersekolah di Belanda? “Etos kerja yang jauh lebih baik, juga kemampuan berbahasa yang jauh lebih pede dibanding dulu,” ujar qq, sapaan akrab Rizki. Untuk Farid, pengalaman terbesar dari tinggal di Belanda pada 2005 sampai 2006 adalah bagaimana ia merasakan pergaulan antarbangsa. “Bahwa after all we all are human, enggak ada bedanya satu sama lain. Dan we belong to the great nation of Indonesia. Saya merasakan betul bangga berbangsa Indonesia di tengah-tengah pergaulan global,” urai Farid.

Magnet Penarik Mahasiswa

Belanda laksana magnet yang setiap tahunnya menyedot mahasiswa dari berbagai penjuru dunia. Pada tahun akademik 2007-2008, jumlah mahasiswa internasional mencapai 70.000 orang. Jerman menjadi negara asal terbesar dengan 16.750 mahasiswa, lalu China 4.750 mahasiwa, Belgia 2.450 mahasiswa, Spanyol 2.000 mahasiswa, dan Perancis 1.650 mahasiswa.

Pemerintah Belanda berupaya keras untuk membuat pendidikan tinggi bisa dengan mudah diakses oleh tidak hanya mahasiswa tapi juga kalangan profesional dari negara lain, misalnya dengan pemberian subsidi. Alhasil biaya kuliah dapat jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Inggris dan Amerika.

Di sini tersedia dua jenis pendidikan tinggi reguler yang utama, yaitu universitas riset, yang melatih para mahasiswa untuk menggunakan ilmu secara mandiri, dan university of applied sciences, yang lebih berorientasi ke praktek. Ada 1.391 program studi internasional, yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar, terdiri dari 1.006 program dengan gelar dan 385 program short course dan preparatory course. Sejumlah disiplin ilmu telah menggondol pengakuan internasional, antara lain manajemen dan bisnis, pertanian, kedokteran, teknik sipil, dan seni serta arsitektur.

Menghargai pendapat dan keyakinan individu, yang menjadi landasan negara Belanda, termanifestasi dalam metode pengajaran. Hasilnya, para siswa memiliki kebebasan dalam mengembangkan pendapat dan kreativitas.

Banyak Jalan Menuju Holland

Utrecht, salah satu kota tertua di Belanda

Utrecht, salah satu kota tertua di Belanda

Kalau ada banyak jalan menuju Roma, pasti hal senada juga berlaku untuk kalian yang ingin melanjutkan studi di Holland. Ada beragam jalur untuk dapat menjejakkan kaki di sana. Pilihan pertama adalah pergi dengan biaya sendiri. Biaya untuk mahasiswa dari luar negara-negara Uni Eropa umumnya berkisar antara 2.000 euro hingga 15.000 euro.

Persiapan sebelum studi dapat dilakukan dengan mengontak universitas yang dituju secara langsung atau dapat juga melalui agen pendidikan di Indonesia, seperti Atlas Education Services (AES), Consultancy Dutch Universities (CDU), Dua Bangsa Education Service, Groningen, dan StudyLINE. Hubungi agen-agen ini untuk mengetahui apakah mereka memiliki kerja sama dengan universitas yang kalian tuju.

Kalian juga dapat mengambil program bersama antara universitas di Indonesia dengan universitas di Belanda. Program dual degree misalnya. Melalui program ini, selama tiga tahun mahasiswa belajar di kampus di Indonesia kemudian sisanya selama satu tahun dihabiskan di Belanda.

Data dari Biro Perencanaan dan Kerja sama Luar Negeri Departemen Pendidikan Nasional menunjukkan pada periode 2006-2007 terdapat 16 peserta program yang belajar di sejumlah daerah di Belanda. Jumlah ini meningkat menjadi 40 orang pada periode tahun 2007-2008.

Cara lain yang tak kalah menarik, dan juga menantang, adalah mengajukan aplikasi beasiswa. Tren pelamar beasiswa terus menunjukkan peningkatan. Informasi dari NESO menunjukkan pada 2006, jumlah pelamar mencapai 731 dengan penerima beasiswa sebanyak 183 dan meningkat menjadi 877 pelamar dengan 187 penerima beasiswa pada 2007. Pada tahun lalu, aplikasi beasiswa yang masuk tumbuh menjadi 1.000 dengan total penerima beasiswa sebanyak 214. Selama kurun waktu 2000 sampai 2008, aplikasi beasiswa mencapai 5.283 dan penerima beasiswa sebanyak 1.269.

Melihat deretan angka ini, tolong jangan dulu ambil langkah seribu. Ada beragam beasiswa yang menanti kalian untuk direbut, sebut saja HSP Huygens Programme, Netherlands Fellowship Programme (NFP), StuNed, The Indonesian Young Leaders Scholarship Programme, Amsterdam Merit Scholarships, Berlage Institute Scholarship, CHN-SGS Scholarship, Erasmus Mundus Scholarship programme, Eric Bleumink Fund Ph.D. researchers, Eric Bleumink Fund Students, dan Japan/World Bank Graduate Scholarship Program.

Daftar ini dapat lebih panjang lagi dengan LUF Scholarship, NWO Rubicon Scholarship, Rembrandt Scholarship for new students, RSM Scholarships, TU/E Scholarships, Ubbo Emmius programme University Groningen, University of Groningen Phd Fellowship, juga Utrecht University Excellence scholarship.

Masih ada Utrecht University TNO Scholarship, VU Fellowshiship Programme, Webster University “Gateway” Graduate Studies, dan WOTRO Integrated.

Informasi mengenai beasiswa di Belanda dapat diperoleh dari NESO. Pintu menuju Belanda ini menyediakan segudang informasi mengenai universitas dan program studi di sana. Para staf yang ramah akan dengan senang hati membantu kalian.

Dari dalam negeri juga tersedia beasiswa Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) dan Departemen Komunikasi dan Informatika.

Jadi percayalah banyak sarana untuk bisa turut menikmati suasana pendidikan di Belanda, mereguk pergaulan internasional, meraup begitu banyak pengalaman berharga.

Untuk Alfian, Negeri Tulip tetap menariknya untuk kembali. Mulai tahun depan, Alfian -yang kini meliput di desk pertambangan dan energi- akan kembali mengajukan aplikasi beasiswa. “Wartawan kan mesti banyak tahu. Sesuai dengan desk yang sekarang, jurusan yang akan dipilih kemungkinan public policy atau business administration,” ujarnya, mantap.

Jalannya mungkin akan sama berlikunya seperti sebelumnya. Tapi langkahnya tak surut. “Setelah kuliah S2 selesai, rasa percaya diri saya meningkat. Saya tak lagi takut meraih mimpi.”

Jadi tunggu apalagi? Jangan hanya menggantang asa, kini saatnya bergerak, menuju Holland ;)

Keterangan: foto-foto milik Rizki Pandu Permana. Dipasang atas seizinnya

Tags:

36 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 12:52.

kembali ke atas

Tuesday, 31 March 2009

Tentang Mereka yang Lebih Dulu Pergi

Siang tadi. Pemuda itu memegang pengeras suara. Sepatu bot yang dikenakannya penuh lumpur. Peluh menetes di keningnya.

Matahari di Cirendeu, Tangerang Selatan, tepat di atas kepala.

Tak jauh darinya, orang nomor dua di Republik ini tengah memantau perkembangan terakhir. Ini satu lokasi pengungsian dari empat titik yang ada.

Pemuda tadi kemudian lantang berteriak. Mengingatkan agar kunjungan petinggi tidak hanya menjadi ajang kampanye. Penanganan pascamusibah memang dituntut untuk cepat dan sigap.

Siang tadi, kali kedua saya berada di Cirendeu. Saya datang pertama kali pada Jumat pekan lalu. Meliput di tengah derasnya wisatawan bencana merupakan hal yang merepotkan untuk saya yang mudah panik dan pusing di tengah keramaian.

Ah ya, saya juga mudah iba. Jadi mencari tahu momen sebelum bendungan Situ Gintung jebol dari para korban adalah tantangan yang lainnya.

Berkali-kali saya menahan air mata, mengeraskan hati untuk tidak ikut terisak ketika kisah pilu itu dituturkan dari seorang ibu yang saya temui di tenda darurat.

Saya juga berupaya untuk tetap tenang ketika perempuan yang tengah mengandung, yang duduk tak jauh dari tempat saya menulis berita, tiba-tiba menangis sekencang-kencangnya. Ia mungkin mengingat kembali rasa kehilangannya. Saya bantu memegang tangannya. Kepalannya erat. Ia terlihat pias. Beruntung ambulans diparkir tak jauh dari tempat kami berada sehingga pertolongan dapat segera datang.

Saya tak tahu bagaimana pola kerja malaikat pencabut nyawa. Tapi ia pasti sibuk sekali pada Jumat selepas subuh, saat dentuman itu memecah pagi, dan humbalang mengguyur kampung. Dan bendungan kering, licin, tandas.

Ratusan rumah rusak. Sebagian bahkan tak berbentuk dan rata dengan tanah. Puluhan nyawa pergi. Kesedihan di mana-mana.
Bencana menyelinap di dini hari. Air menunjukkan otoritasnya.

Saya yakin bencana tak berdiri sendiri. Di belakangnya ada kelalaian banyak pihak. Tata ruang yang dilanggar misalnya. Dekatnya permukiman warga dengan bendungan, yang dibangun pada 1932 saat Belanda masih menjajah negeri ini, membuat mereka berkawan dengan bahaya.

Ada banyak kehilangan pada subuh Jumat pekan lalu. Benar bahwa sekarang semua harus memikirkan apa yang akan dilakukan untuk wilayah itu ke depannya.

Tapi bergerak ke depan tanpa menyelesaikan pekerjaan rumah yang tertinggal jelas akan berakibat fatal. Carut marut tata ruang misalnya harus dibenahi. Pengawasan terhadap bendungan menjadi isu lain yang juga penting.

Tidak memetik pelajaran dari musibah itu sama saja dengan mengabaikan mereka yang lebih dulu pergi, menemui ajal di tengah derasnya air Situ Gintung.

Tags:

7 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 23:40.

kembali ke atas

Thursday, 19 March 2009

Tentang Rindu Kepada Teman

Saya tak pernah mengantuk saat hati saya sedang kesal. Ya, meski seharian beraktivitas dan lelah, saya bisa tetap terjaga.

Dan yang lebih membuat kesal, dan tentu saja karena kesal maka saya semakin tidak dapat segera terlelap, biasanya saya lalu memikirkan banyak hal.

Seperti malam ini. Karena tak kunjung tidur, akibat kesal atas satu hal, alih-alih tertidur pikiran saya malah berputar-putar dan sampai pada satu hal; saya sangat merindukan teman-teman.

Saya tak banyak memiliki teman dekat. Malam ini saya begitu merindukan kelompok kecil, teman-teman dekat, semasa kuliah. Saya ingat Anti, Hana, Lila, Indi, dan Sari. Saya mengingat mereka hingga dada saya sesak dan entah kenapa saya diliputi kesedihan. Rindu yang mendatangkan sedih; satu bentuk kerinduan yang aneh, bukan begitu?

Saya merindukan mereka.

Hana meneruskan sekolah di Bandung. Keempat nama lainnya berada di Solo.

Saya juga merindukan Wahyu. Teman kuliah, sahabat terbaik yang setia. Saya ingat ia ikut bermalam, menemani saya di ruang perawatan selepas saya menjalani operasi dua tahun lalu.

Saya merindukan mereka.

Saya tak banyak memiliki teman dekat. Kadangkala saya iri pada teman yang masih terhubung dengan teman-teman lama mereka. Melihat bagaimana waktu menempa jalinan perkawanan menjadi semakin erat.

Saya misalnya mulai kehilangan kontak dengan teman-teman dekat semasa sekolah menengah dulu. Orang yang pernah lekat perlahan-lahan menjadi sosok yang asing. Dia banyak mempertanyakan pilihan hidup yang saya ambil; sebaliknya saya kian tak mengerti landasan berpikir yang dianutnya.

Dan malam ini saya teramat sangat merindukan teman-teman lama. Orang-orang yang hidup di lain kota. Betapa teknologi kurang dapat menggantikan nikmatnya pertemuan.

Saya merindukan kelimanya, ah ya merindukan Wahyu juga tentu. Merindukan masa-masa di mana ketakutan bersembunyi di satu tempat yang jauh, ketika hidup begitu ringan, saat tak ada pertanyaan: apakah pilihan ini benar? Bagaimana jika pilihan itu yang jauh lebih benar?.

Saya merindukan masa itu dan keenamnya, malam ini.

Tampaknya ini akan menjadi satu malam yang panjang. Karena jika sedang kesal saya tak dapat segera tidur, lalu saya akan berpikir, tentang ini, tentang itu; kali ini tentang rindu kepada teman-teman lama.

17 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 1:19.

kembali ke atas

Saturday, 3 January 2009

Puisi

“Terima membuat puisi. Hubungi penyair-pembuat-puisi di alamat ini: Jalan Cempaka 2 A”.

Perempuan mengamati iklan kecil di harian pagi. Saat ia menghabiskan sarapan. Akan kusambangi penyair-pembuat-puisi itu dan memesan satu puisi untuk kekasih hati, begitu ujarnya.

Begitu sampai di alamat penyair-pembuat-puisi, perempuan mengutarakan maksudnya.

penyair-pembuat-puisi menyambutnya dengan ramah. Ia berkata pada perempuan;ceritakan padaku tentang kisah kalian, bagaimana kalian bertemu, mengapa kau jatuh hati padanya, ceritakan, karena itu bahan mentah yang penting dan menjadi modalku untuk bekerja membuat puisi pesananmu,

Dan perempuan kemudian memulai kisahnya. Tentang pertemuan yang terjadi ketika senja turun dan hujan baru saja usai. Tentang kecintaannya pada harum tubuh yang meruap dari lelaki yang kemudian menjadi kekasihnya. Tentang kesenangannya menghabiskan hari bersama, berdua. Tentang kebahagiaan yang menetap. Tentang tawa, tangis, pemahaman, berbagi, memupuk rasa percaya. Tentang kasih. Tentang beragam hal.

penyair-pembuat-puisi menyimak dengan baik. Mencatat ini dan itu.

Tampaknya aku sudah mendapatkan bahan-bahan yang kubutuhkan, katanya kemudian.

Tapi aku perlu bertemu dengan kekasihmu, ujar penyair-pembuat-puisi, untuk mengetahui bentuk puisi seperti apa yang diinginkannya. Agar puisi pesananmu, yang aku buat nanti, benar-benar memenuhi seleranya. Sepekan setelah itu kau dapat mengambil puisimu di sini.

Baiklah, jawab perempuan, akan kuatur pertemuan kalian.

Tujuh hari berselang. Perempuan kembali mendatangi penyair-pembuat-puisi. Ia membayangkan rupa dari puisi pesanannya untuk kekasih hati.

Ini, ujar penyair-pembuat-puisi pada perempuan, seraya menyodorkan kertas putih.

Tak ada puisi? perempuan bertanya bercampur heran

Ya, tak ada puisi pesanan, jawab penyair-pembuat-puisi. Aku menyambangi kekasih hatimu dan berharap menemukan gambaran mengenai bentuk puisi yang ia sukai, yang sesuai dengan selera. Tapi bukan itu yang kudapatkan, sebab kekasih hatimu berkata: untuknya kau adalah deretan kalimat yang menenangkan dan menentramkan, paragraf yang membawa kebahagiaan jiwa. Melengkapi. Mana mungkin aku membuat pesanan puisi untuk kekasihmu, seperti yang kau minta pekan lalu, sebab baginya kau adalah puisi…

33 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 1:26.

kembali ke atas


Kredit

© Negeri Senja | Ditenagai oleh WP 2.7. | Tree oleh Headsetoptions, tema minimal berbasis HyperBallad | Kandungan: XHTML + CSS | Ke Atas