Tuesday, 11 November 2003

Saya dan Amplop

Jam baru menunjukkan pukul 09.45 WIB ketika saya memasuki halaman kantor. Matahari masih hangat menyapa kulit. Setelah menggesekkan kartu absen, dimulailah ritual rutin yang biasa saya jalankan.

Mengambil koran pagi, berjalan ke kubus sambil melirik sekilas headline yang dipilih sidang redaksi untuk menghias produk kami dan menghidupkan komputer setibanya di meja kerja tercinta.

Dering ponsel memecah kesunyian, nomor asing yang masuk.

“Pagi”
-Halo Rat?- (suaranya sudah saya kenal, si public relations di sebuah perusahaan elektronika ini sebaya dengan saya. Obrolan di antara kami cukup dengan menyebut nama)
“Kenapa? Mau kasih release lagi?” (Belakangan perusahaan dari negeri ginseng ini cukup gencar meluncurkan produk baru)
-Nggak, maaf ya yang kemarin-
Saya tertegun sejenak. “Ah nggak pa-pa kok”
-abis kalo udah nyampur gitu, suka susah bedainnya-
Obrolan singkat kami menemui ujungnya dengan satu kata maaf lagi yang keluar dari perempuan ramah ini.

Biasanya saya selalu bisa menolaknya dengan halus ketika wawancara berlangsung secara eksklusif. Saya beberapa kali datang ke kantornya di bilangan Slipi dengan perjanjian yang sudah dirancang beberapa hari sebelumnya. Lulusan perguruan tinggi negeri di Bandung ini selalu menemani saya selama wawancara dengan aneka General Manager dan Product Development. Semestinya dia tahu saya tak terbiasa menerima itu.

Tapi yang terjadi satu hari sebelum penggalan obrolan diatas bukanlah wawancara eksklusif. Press Conference alias konferensi pers biasanya selalu didatangi banyak media.

Setelah acara selesai, saya terpaksa menemui perempuan berkulit putih ini kembali. Saya malas membawa amplop ini sampai ke kantor, menyerahkannya pada sekretaris redaksi dan mengembalikan melalui pos. Akhirnya saya berhasil menarik si cantik dari keramaian dan dengan santun mengembalikan benda mungil berwarna putih di dalam tas kertas yang dibagikan untuk rekan media.

Bukan saya tak butuh uang. Walaupun tidak banyak, apa yang diberikan perusahaan saya rasa sudah cukup

(Bukankah rasa kecukupan bersemayam di hati? ketika Tuhan memberikan rejeki yang diselipi keberkahan, rasanya kok ya cukup. Cukup untuk creambath, membawa karya Djenar, Ayu Utami atau Fira Basuki ke rumah, pulang atau pergi liputan dengan Blue Bird, nonton film, atau berenang. Sebaliknya ketika uang berlimpah dan rasa syukur tak sedikitpun mampir di hati, apa saja yang kita miliki, katanya, tetap saja gagal menghapus dahaga).

Tidak bijak rasanya menambah pundi uang dengan cara seperti itu. Takut ada rasa hutang budi ketika berita tak jadi turun. Saya juga bisa lebih bebas menulis. Ketika mereka di ambang kesuksesan atau menuai kegagalan, saya tetap menceritakannya tanpa beban yang menggelayut.

Tapi akhir-akhir ini wish list saya rasanya makin panjang saja. Ada niatan mengistirahatkan si ponsel low end dan mempekerjakan yang agak mid end Atau membeli voice recorder digital. Saya juga tak sabar melongok gerai Palm di Ratu Plaza. Kartu nama narasumber yang berserakan mungkin bisa teratasi dengan bantuan Mr. Palm ini. Kamera digital terbaru, lebih cantik dari milik redaktur saya yang biasanya saya tenteng menemani liputan, terus menari-nari di pelupuk mata.

Rasa-rasanya ini momen yang tepat untuk mendalami kembali makna kata “cukup….” dan mengekalkan lagi ikhtiar saya.

*Tulisan ini dibuat untuk para jurnalis yang tetap teguh di jalan yang benar*

Tinggalkan Komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 8:24.

kembali ke atas

Saturday, 8 November 2003

Dibalut rindu…

Kata orang jaman dahulu; apabila telah kau lewati tujuh pelangi bersama, hanya tepian waktu yang akan memisahkan. Aku harap itu kita…

Ditulis dalam balutan rindu akan laki-laki dengan pendar srengenge, torehan keemasan membias lembut tubuhnya.
saat rintik ritmis memulas cakrawala, dia petik pelangi kembar… dibaringkannya ke pangkuanku, ini untukmu.
laki-laki pemilik fajar, adakah bongkahan rindumu sebesar rinduku?

.emang ada pelangi kembar.
ada dong ta. saat dua tarian warna terajut, dengan latar biru yang teduh, yang satu datang dengan warna yang lebih kuat. sementara yang lain, dengan warna yang lebih lembut setia menemani
.kok aku nggak pernah liat.
di jakarta, pelangi sudah tertelan beton-beton. sulit menghadirkannya disini

Dan hari ini bahkan kecanggihan teknologi tak mampu menolongku… “anda terhubung dengan mailbox… 081xxxxxxx”

Tinggalkan Komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 20:27.

kembali ke atas

Saturday, 8 November 2003

Akhirnya…

Awalnya adalah sebuah perahu kertas, yang berlayar mengikuti air mengalir, menuju samudera yang menunggu, hening…

Minggu-minggu pertama di kantor baru memaksa saya untuk sedikit bersabar. Membiasakan diri dengan kubus-kubus terbuka dan ritme yang bergerak amat cepat sempat menciptakan kelelahan yang sangat.

Hingga… berkelanalah saya. Menciptakan dunia sendiri, sejenak pergi dari riuhnya sekitar. Menemukan perahu kertas sore itu menorehkan sentuhan baru. Seperti menjumpai seorang teman yang berbisik; “Kamu tak sendiri…”

Awalnya adalah sebuah perahu kertas, yang berlayar mengikuti air mengalir, menuju samudera yang menunggu, hening…

Setelah itu, saya juga mulai melongok rumah-rumah senja yang lain. Dengan rangkaian kisah-kisah cantik, lucu, hangat atau sesuatu yang bisa membuka lebar cakrawala berpikir.

Tanpa sadar, saya mulai merasakan simpul yang menautkan kubus saya dengan mereka.

Ada saat ketika seorang teman menanti kelahiran putra pertama, saya yang terpisah ribuan kilometer ikut berharap-harap cemas. Saat sang bayi lahir, barulah perasaan itu hilang. Sekarang Mahes, begitu biasa jagoan kecil ini disapa, juga mulai menghiasi untaian kisah di rumah ayahnya.

Rumah senja lain mulai rajin saya tengok. Seorang teman yang terpisah hanya beberapa kubus menemani saya berpetualang. Dia juga yang memberi saya kekuatan penuh untuk mewujudkan negeri senja. Thank u my big bro…

Dari dunia ini saya juga tahu, di Bangkok ada sepasang suami istri dengan dunia yang penuh warna. Di Myanmar seorang ibu muda dengan putrinya, Cemara, yang cantik selalu datang dengan kisah-kisah dengan latar kebudayaan. Di New York ada seorang perempuan muda cerdas yang hadir lengkap dengan galeri foto yang memikat.

Di Pulogadung, si editor bahasa yang suka flying fox dan sinetron tiga dimensi tetap setia menawarkan kesegaran tiap kali saya datang ke rumahnya. Belakangan kami juga rajin bertelepon ria. I love u sist… Juga ada pria ramah yang rajin berkebun dan mengidam-idamkan EOS300D hadir ke pelukannya.

Rumah senja malaikat kecil yang pintar menyanyi dan bekerja di majalah remaja juga menjadi menu saya sehari-hari. Cowok kecil, funky, bekerja untuk operator seluler termuda yang menerima saya dengan ramah di lebatnya hujan sore itu juga saya dapatkan dari persentuhan saya dengan rumah senjanya.

Masih ada seseorang yang mencoba membekukan waktu dan sekarang menyepi. Hari-hari saya juga diwarnai tawa yang bersumber dari seorang pendaki gunung yang baik hati dan tidak sombong. Titian alam yang dibuatnya benar-benar mengantarkan saya ke nirwana…

Ada angsa cantik di danaunya yang sunyi, seorang perempuan dengan dongeng dan sepatu merahnya, dan pria cerdas dengan wilayah abu-abunya. Belakangan, saya juga makin tak sabar melihat kisah terbaru dari suami istri yang saat ini bermukim di Papua.

Rumah senja terbaru yang membawa keceriaan, saya dapat dari labelnya yang merujuk pada film besutan Tom Tykwer, Run Lola Run.

Deretan rumah senja diatas hanya sebagian dari rumah-rumah penuh inspirasi yang kerap saya kunjungi. Masih ada rumah senja lain yang tidak bisa terwakilkan disini.
Terimakasih telah membuat senja saya tak lagi muram…

Awalnya adalah sebuah perahu kertas, yang berlayar mengikuti air mengalir, menuju samudera yang menunggu, hening…

Dan… akhirnya disinilah saya. Menciptakan satu rumah senja sederhana. Setelah sekian lama perenungan…

1 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 14:39.

kembali ke atas

Kredit

© Negeri Senja | Ditenagai oleh WP 3.1.3. | Tree oleh Headsetoptions, tema minimal berbasis HyperBallad | Kandungan: XHTML + CSS | Ke Atas