Sunday, 7 December 2003
“Pagi ini ada telepon dari surga, mereka bilang kehilangan banyak malaikat, tapi tenang saja, aku tak akan beri tahu mereka kalau kalian ada disini…. pssstttttt… love u friends”
kemarin genap satu bulan umur negeri senja, rumah senja sederhana yang awalnya enggan saya wujudkan. berjalan dari satu rumah senja ke rumah senja yang lain akhirnya menggoda saya untuk perlahan-lahan membangun rumah senja ini.
terima kasih telah menyempatkan mampir sejenak di sela-sela waktu berharga yang kalian punya, menjadi sahabat senja yang menyenangkan, berbagi kisah, saling menyapa, merenda tawa, menjalin simpul dari benang kasih dan memanen rindu kala tak bersua.
“jadi… kalian sembunyikan dimana sayap-sayap itu?”
Friday, 5 December 2003
Ini langkah kedua dari lima tahapan yang mesti kujalani. Setelah tes tulis, kali ini giliran wawancara dengan jajaran redaktur pelaksana dan pemimpin redaksi. Bergabung dengan para pencari kerja lain di ruang tunggu sebelum memasuki empat kubus tertutup.
Namaku disebut. Rasa gugup yang coba kuusir sejak tadi, menyergap kembali. Memasuki kubus, detak jantung makin tak beraturan. Setelah membaca file yang tergeletak di meja, laki-laki paruh baya dihadapanku mulai mengeluarkan suaranya.
“jadi… kamu tertarik untuk bergabung disini”
retorik, pikirku. Kalau menolak bergabung untuk apa kulayangkan surat itu.
-iya pak-
“sering baca koran”
-iya- (diiringi anggukan kepala)
“kenapa?”
-kebutuhan pak-
“kalau gitu sering baca B*S**S I***N***A donk?”
-gak juga pak-
(bodoh, kenapa tidak berbohong dan merangkai kalimat indah)
“lo… kenapa?, gak penting ya?, terus, biasanya baca apa”
-K*M**S, sesekali K*R*N T*M*O
(menyebut kompetitor? selamat atta, kamu membuat darahnya mendidih)
“ngikutin isu ekonomi nggak”
-biasa aja, nggak terlalu detail
(aduh… jawabanmu itu lo sayang…)
“yang lagi hangat apa sekarang”
-harga gula makin tinggi pak-
(ck..ck..ck.. nona, kamu bisa pilih isu yang lebih keren kan? Bank Mandiri atau isu yang lain)
“kamu masih kerja ya?, pakai SDN BHD? Perusahaan malaysia? Di bagian apa?”
-marketing export pak-
“kenapa pengen pindah?kamu nggak loyal donk?”
(terbayang wajah-wajah menyenangkan. chelaine soo di headquarter, pairin boonsong di thailand, andrew di singapura dan rekan-rekan ceria di perwakilan indonesia. kenangan manis yang berganti pada sosok mr. Ng, dengan prinsip kesempurnaan yang diterapkan, dan target-target dalam dolar yang sudah tidak masuk akal)
-saya rasa, saya harus mencari pekerjaan yang mencintai saya pak-
(aha… say the magic words, inspirasi kilat yang datang, tidak klise dan unik, tidak curhat tentang kebetean di tempat lama)
“kalau bergabung disini, kamu mau nulis apa”
-film, budaya, sosial-
(eit… sadar donk. ini koran ekonomi bu!, tapi kan ada edisi minggu. ya sudahlah, toh sudah terucap)
“kamu lulusan komunikasi, mampu nulis ekonomi nggak?”
-maaf pak, background bapak apa?-
(mengambil posisi penanya? apa maksudnya nih?)
“Pertanian”
-nah… bapak yang pertanian saja bisa. kenapa saya enggak. (mudah-mudahan egonya tak terusik)
“ah kamu bisa aja… bener, siap jadi wartawan?”
-cita-cita terpendam kali pak-
(media cetak? yang bener ah… jujur nggak? bohong kali… bukannya binar mata akan lebih berpijar selagi menonton tayangan informasi via layar kaca)
“biasa nulis?”
-gak juga pak-
(hahahaha… wartawan kok nggak biasa nulis)
“terus kamu ngambil ini buat apa?”
(si bapak menunjuk sertifikat tanda selesai kelas penulisan yang dikeluarkan dari lembaga pendidikan kantor berita tanah air)
-karena saya nggak pinter nulis, akhirnya saya ngambil kelas-
“sekarang udah pinter donk?”
-enggak juga pak-
kali ini saya dan si bapak sama-sama tergelak.
Tiga penanya lain menciptakan nuansa senada. Penuh selidik… Saya sangat tak yakin mereka akan memberi angka yang cukup baik pada form penilaian. Tapi… nampaknya dewi keberuntungan sedang berada didekatku. Sekarang… saya disini, di meja kerja saya sendiri yang hanya berjarak beberapa kubus dengan bapak penanya diatas. Bukan di ekonomi, tapi di dwi mingguan tentang teknologi. Hanya sesekali saja saya menulis untuk harian. Memasuki tujuh bulan masa kerja… dan… psst… kalian dengar tidak; Pekerjaan ini mencintai saya… 
Wednesday, 3 December 2003
“Lalu…..dimana kalian bertemu?”
Pertanyaan ini kerap terlontar ketika para sahabat memperkenalkan pujaan hati mereka, terutama jika si pasangan berasal bukan dari jejaring pertemanan kami.
Jawaban yang keluar pun sangat bervariasi. Kebanyakan terlontar dengan pandangan menerawang dan senyuman, mencoba mengingat awal perjumpaan yang akhirnya menjadi tonggak bersejarah dalam hidup mereka.
-Di masjid Al-Azhar- ini jawaban dari Faisal, sahabat saya semasa kuliah yang akan mempersunting gadis manis berjilbab tahun depan.
-Di kereta api- yang ini melengkapi kisah Wahyu, teman kost saya yang akhirnya menikah dengan teman satu bangku di perjalanan Jakarta - Semarang.
-Di bursa efek jakarta- rekan satu kantor saya akhirnya menemukan jodoh sesama wartawan yang meliput kegiatan bursa.
-Di kampus- wah… jangan paksa saya untuk menyebut siapa saja yang bertemu dengan soul mate mereka di perguruan tinggi. Daftarnya bisa sangat panjang dan tak cukup satu kali posting.
-Di gunung ciremai- ini versi si dewi selebriti, ine febriyanti dan yudi datau, meski keduanya tak langsung jatuh hati saat pertemuan pertama.
Dan beragam nama tempat lainnya bisa muncul, mewarnai kisah yang terjalin. mIRC, toko buku, fitness centre, senayan, bis kota, stasiun, tempat kerja, supermarket, mal, halte bis, kafe, galeri, taman ismail marzuki, bandara…
Dalam format masa depan nanti, di beranda rumah dengan halaman yang asri. Pertanyaan senada akan lahir dari mulut si sulung. Dan saya, ibunya, akan menjawabnya dengan kasih, sambil membelai rambutnya penuh sayang dan sesekali menatap laki-laki yang menemani saya hingga ujung waktu….
“Ketika langit dihiasi semburat keemasan, ibu menemukan rumah senja ayahmu. Rumah senja yang nyaman dengan untaian kisah yang ibu yakin keluar dari seorang pria yang cerdas. Tak ada sesuatu yang terjadi antara kami… hingga satu hari ibu memberanikan diri mengirimkan sepucuk surat padanya, hanya sekedar menyapa. Dan… perjumpaan kami berikutnya mengantarkan ibu pada sosok yang tidak hanya ramah tapi juga hangat. Perlahan mulai tumbuh rindu ketika suaranya tak menyapa. Namanya lalu mulai tersebut dalam hembusan doa; Semoga Allah menjaganya dan memberinya kekuatan. Dia laki-laki yang datang bersama fajar, melengkapi semburat keemasan kala senja… membuat hidup terus berputar, mengisi…berbagi.”
Ini kisah saya. Bagaimana dengan kalian….di manakah kalian bertemu?
Monday, 1 December 2003
Masih ingat lagu ini?
Sinergi Ruth Sahanaya dan Katon Bagaskara menghantarkan lantunan nada yang tidak hanya merdu tapi juga sarat arti…
Kulihat mendung menghalangi
pancaran wajahmu
Tak terbiasa kudapati terdiam mendura
Apa gerangan bergemuruh di ruang benakmu
Sekilas galau mata ingin berbagi cerita
Ku datang sahabat, bagi jiwa
Saat batin merintih
Usah kau lara sendiri
Masih ada asa tersisa
Letakkanlah tanganmu di atas bahuku
Biar terbagi beban itu dan tegar dirimu
Di depan sana cahaya kecil ‘tuk memandu
tak hilang arah kita berjalan menghadapinya
Sekali sempat engkau mengeluh
Kuatkah bertahan?
Satu persatu jalinan kawan
Beranjak menjauh
________________________________________
“Saya ingin berbuat baik kepada orang lain dan tidak merugikan orang lain. Saya tidak mempunyai rencana ke depan yang banyak. Saya serahkan masa depan saya kepada Tuhan.”
-Yanti, ibu rumah tangga yang positif terinfeksi HIV dari suaminya yang telah berpulang tahun kemarin. Saat ini ia hidup dengan dua buah hatinya. Belakangan si bungsu yang berumur tiga tahun juga positif terinfeksi HIV- (seperti dikutip dari Koran Tempo, Minggu 30 November 2003)
Kemarin, Yanti juga muncul di Liputan 6 SCTV. Perempuan ini tampak tegar, menuturkan kisahnya dengan tetap menebar senyum.
*Di Indonesia, data menunjukkan jumlah orang dengan HIV/AIDS hingga tahun 2002 berkisar antara 90 ribu - 130 ribu orang. Departemen Kesehatan memperkirakan sekitar 13 juta sampai 20 juta orang beresiko terkena infeksi HIV.
*Pada tahun ini diperkirakan terjadi 80 ribu infeksi baru.
Untuk orang-orang yang berkelahi dengan waktu, maaf belum sempat berbuat satu apapun…