Wednesday, 14 January 2004

Aaaaaaaaaaarrrgggggggghhhhhh….

bisa jadi tidak diperpanjang
atau keluar Surat Peringatan
mempengaruhi penilaian…
kalau dipanggil?
tak perlu beralasan
ya…saya salah
aduh… kenapa bisa begitu bodoh
mimpi buruk
sudah hilang akalmu ratna?
……
saya bahkan belum menulis dengan kode

Aaargggggggggggggggghhhhhhhhhhhhh

Tinggalkan Komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 14:14.

kembali ke atas

Tuesday, 13 January 2004

Minggu yang cantik…

“Abang mau langitnya warna apa?”
Ungu bunda
“Oke, Abang bisa kasih warna ungu di langit”

Pendar matanya, saat penggalan kisah ini datang, tertangkap jelas dari tempatku. Rasa kasih dan segenap cinta terpancar dari senyum yang tak henti terurai.

Ah… pendar matanya kutemukan lagi kala ia bertutur tentang Dede. Gadis cilik yang bertaut sekitar 1,5 tahun dari Abang itu juga sumber inspirasi baginya.

“Kalau ujan, mereka suka main ujan. nggak pa-pa. selesai mereka ujan-ujanan, aku mandiin pake air hangat, bikinin susu coklat, terus ku selimutin, wah… seneng banget deh”

Perempuan di awal 30. Siapa sangka? dengan kemeja putih, kacamata, sepatu merah, postur yang mungil serta gaya bertutur dengan kecepatan tinggi, si mbak yang satu ini bisa jadi membuat orang salah menerka usianya.

“Kami juga suka liat awan. ke pinggir tol tanjung priok, Abang dan Dede seneng nebak bentuk awan yang mereka pandang”

Jalinan hari, hidup, rangkaian minggu, masa, memintalnya menjadi perempuan kuat. Perempuan cerdas ini mengingatkan saya pada sosok yang selama ini dekat, yang harum tangannya menanti saat saya kembali ke rumah. Bedanya hanyalah; Ma’e tidak familiar dengan bahasa Inggris.

Saya terbiasa menyambangi rumah senjanya jauh sebelum halaman negeri senja dibangun. Menyimak kisah, senyum, ritme kerja yang cepat, proses kreatif, dua permata hatinya atau nuansa merah jambu yang tersirat dari untaian kata yang diramunya.

Dan … di senja di Minggu yang cantik, sedikit pembangkangan kecil dari saya. (”boleh ya pak, besok saya pagi-pagi kesini lagi deh, cuma kurang tulisan GPRS aja kan?, ntar malem saya kerjain, senin siang sebelum bapak dateng, udah jadi deh. oke pak?”) Anggukan kepala redaktur yang bijak; pasti datang dari rasa sayangnya pada reporter tercinta, selama ini saya tak pernah meninggalkan deadline.

Pertemuan dadakan menjelang semburat jingga turun ke bumi. Satu dering telepon menjadi gerbang; temu muka saya dengan dua orang pemilik rumah senja.

Dua orang? ya … selain perempuan dengan tawa yang renyah, minggu yang cantik itu juga dihiasi dengan kehadiran laki-laki yang kerap meninggalkan jejak di negeri-senja. Laki-laki dengan selera humor yang tinggi, dengan sebentuk keramahan…

Kawasan Jalan Sabang, malam yang menyelimuti Jakarta, sate ayam, sembilan teh botol, satu piring pecah, rintik gerimis, lampu jalanan… beranjak ke Tebet, Daeng Tata, es palubutung (Hey… es durennya terlewat) masih ditemani rintik gerimis, pinggir jalan, deru mobil….

Ada keceriaan disana, berbagi cerita; tentang rumah senja, sahabat senja yang lain, cinta, harapan, hidup, keteguhan, kekuatan, semangat menyambut pagi… Suatu minggu yang cantik, hadiah dari Tuhan untuk saya.

Dalam perjalanan pulang, saya membayangkan wajah-wajah lain. Sahabat senja yang juga kerap menghiasi hari saya… semoga satu hari akan ada hari cantik yang lain, dengan kalian di dalamnya…

Untuk Morningdew dan Q ; terima kasih, senang sekali bisa bertemu kalian berdua…

Tinggalkan Komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 21:22.

kembali ke atas

Thursday, 8 January 2004

Tanpa Judul…

25 Desember 2003, Export, Jl. Sumatera, Bandung
Keluarga kecil, ayah, ibu dan putrinya. Si kecil tampak nyaman dalam pelukan ayah yang tengah memilih ransel. Karena ruang yang sejuk dan musik yang mengalun merdu, perempuan cilik dalam balutan busana casual berwarna pink tampak tertidur. Saya mengamati mereka dari kejauhan. Menghentikan kegiatan berbelanja dan sejenak mengamati aktifitas ketiganya. Sesekali tangan sang ayah mengusap punggung putrinya dengan lembut.

26 Desember, Lembang Kencana, Bandung
Udara dingin, angin sepoi-sepoi dengan ramah menerpa wajah. Kami, si lima sekawan yang sedang berlibur menaruh Lembang dalam list yang wajib dikunjungi. Di tempat yang kami singgahi, dengan interior kayu, kami menikmati sajian susu segar. Dari tempat saya duduk, saya dapat dengan leluasa melihat sekeliling… sampai mata saya tertambat pada satu pemandangan cantik; ayah yang sedang bersibuk diri mengganti pakaian putrinya. Di meja, sang putri sesekali melakukan gerakan, ayah menyediakan pertahanan ganda dengan tangannya. Tak jelas apa yang mereka perbincangkan, yang pasti saya melihat keduanya tersenyum.

27 Desember, Kartika Sari, Bandung
Ramai orang memilih, aneka buah tangan tersaji dalam display berlapis kaca. Di luar toko, banyak sajian lain yang juga patut dilirik. Berbaur dengan para pembeli yang lain. Batagor, rambutan, pisang sale, keripik oncom dan…. seorang pemain biola yang menyuguhkan lagu kanak-kanak. Laki-laki kecil terpaku di depannya. Mencoba menyimak dan mengikuti irama. Ayahnya melihat dari tempatnya berdiri, tak jauh dari tempat saya berdiri. Mengabadikan gerak-gerik putra tercinta dengan kamera… mendekat… mengusap sayang di helaian rambut sang anak. Saya tertegun…

Liburan di Bandung beberapa pekan lalu menyisakan kepingan momen yang tanpa sengaja bertebaran di sekeliling. Ungkapan kasih dari ayah pada anaknya… membawa saya pada sosok yang saat ini saya rindukan.

Rindu? adakah dia menyimpan rasa yang sama?…. Titik-titik penting dari seorang Ratna Ariyanti bahkan berlalu tanpa sosoknya, karnaval di taman kanak-kanak, pengambilan raport kenaikan kelas, pengumuman UMPTN, saat saya harus meninggalkan Jakarta untuk sementara waktu (bahkan beberapa sahabat mengantar saya hingga stasiun), wisuda di Desember yang penuh warna, saat saya dinyatakan layak bergabung dengan perusahaan tempat saya berkarya atau ketika saya memberanikan diri menerima kunjungan pacar pertama…

Putusnya pernikahan semestinya tak mematikan tanggung jawabnya sebagai ayah… semestinya….

Tak baik menyimpan dendam. Saya tahu itu. Perlu waktu lama untuk mematikan bibit rasa tidak peduli saya padanya. Memaafkan dan melupakan bukan satu pekerjaan yang mudah. Tapi tak bisa dipungkiri… sebagian darah yang mengalir di tubuh saya berasal darinya…

Saya, putri bungsunya, masih menyebut namanya dalam doa; semoga kesehatan selalu besertanya, semoga kebahagiaan menaunginya, semoga Tuhan melindungi setiap gerak dan langkah yang diambilnya…

Malam ini saya merasa sangat penat, hingga tak kunjung menemukan judul yang tepat untuk cerita kali ini….

Tinggalkan Komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 22:29.

kembali ke atas

Friday, 2 January 2004

Pusaran Waktu….

Jakarta, Pertengahan Desember 2003, 16.00 WIB

Aku berkerudung putih, memangku kitab suci, duduk dan menjadi bagian dari lingkaran kecil. Sore itu, genap tujuh bulan kandungan Yeni.

Tiba waktuku, melantunkan penggalan surat Yusuf dengan tenang, jalinan doa agar bayi yang dikandung Yeni lahir dengan selamat. Tak jauh dari tempatku, calon ibu muda yang cantik itu berkali-kali menyeka sudut mata.

Pusaran waktu… hari berganti minggu, bulan, tahun…

Rasanya baru kemarin kami melewati masa kecil, tumbuh dan berkembang bersama, berbagi pijar bahagia, menguntai manik-manik perkawanan…

Masih terbayang, menempuh perjalanan Solo-Jakarta, dalam balutan kebaya putih, menahan haru (akad nikah, apalagi kerabat dekat, selalu bertabur airmata bahagia), menerima bisikan dari sahabat tercinta; aku duluan ya Ta, doain kami baik-baik, jaga diri, jangan larut, kelak aku yang datang di akadmu…

dan di Februari nanti, putra pertama, tumpuan kasih dan asa, buah pernikahan Yeni dengan seorang pekerja di sebuah biro iklan akan hadir.

Pusaran waktu … hari berganti minggu, bulan, tahun…

Cepat sekali waktu berlalu… meninggalkan bekas, jejak, tapak, tersimpan dalam kubus memori. Persahabatan dengan Yeni berdiam di salah satu ruang dalam kubus.

Selebihnya, dalam pusaran waktu bersemi kisah lainnya, tahun-tahun yang lewat, ada dan tiada, tawa dan tangis, perjalanan penuh selaksa makna…

Pusaran waktu … hari berganti minggu, bulan, tahun… Penuh harap semoga kisah yang akan di jelang lebih baik untuk aku, kamu, dunia, untuk semua…

Tinggalkan Komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 14:39.

kembali ke atas


Kredit

© Negeri Senja | Ditenagai oleh WP 2.3.1. | Tree oleh Headsetoptions, tema minimal berbasis HyperBallad | Kandungan: XHTML + CSS | Ke Atas