Saturday, 14 February 2004
Hai. Tadi saya lewat depan kantor kamu. Pagi hari saat berangkat liputan dan sore hari kala kembali ke kantor. Tak perlu membelalakkan mata; kamu tahu saya jarang libur di akhir pekan.
Siang tadi ada liputan ke Glodok. Sekarang Glodok bukan mimpi buruk lagi untuk saya. Sejak ada Busway, ups… salah, maksud saya TransJakarta, Glodok bisa diakses dengan mudah.
Tadi saya sempat mendongak lo. Saya lupa; kamu di lantai berapa? Percuma juga bertelepati; toh kamu tidak ada disana. Andai saja kamu bekerja hari ini.
Di liputan tadi; seorang penjaga sebuah toko memberi saya balon merah muda. Bentuknya hati. Cantik. Saya bingung bagaimana membawanya, hari ini saya tidak naik taksi. Tadinya itu untuk kamu. Saya ingin kamu turun ke lantai bawah. Balon merah muda itu untuk menebus apa yang saya lakukan kemarin.
Maaf ya; saya masih belum bijak rupanya. Menyatakan ketidaksetujuan dengan cara yang frontal. Dengan nada suara yang berubah serta kejengkelan yang tersirat. Itu bentuk lain dari protes saya atas sikap yang kamu ambil.
Saya sayang kamu. Sebagai teman, saya ingin yang terbaik yang datang dalam hidup kamu. Saya ingin dia yang kamu pilih setia menemani kamu menorehkan pendar pelangi dalam hidup.
Yang kamu jalani sekarang pasti sulit. Berada dalam hubungan yang sumir antara kamu, dia dan dia yang lainnya bisa jadi menguras pikiranmu. Ya… ya saya tahu; mestinya saya tidak perlu seketus itu.
Saya tidak bersikap layaknya teman. Tidak menyediakan telinga untuk mendengarmu. Tidak menyelipkan sabar dalam hati. Tidak memberikan jemari saya untuk memegangmu. Saya bahkan belum memberi sentuhan di pundak kamu dan berkata dengan pelan; semua akan berakhir dengan baik.
Ingat tiket Cold Mountain yang saya tawarkan?. Kamu masih ada di list paling atas. Tapi… kamu sudah menolaknya. Mudah-mudahan apa yang terlontar dari mulut saya kemarin tidak membuatmu menjauh. Jangan pergi… tangan saya sulit menggapaimu nantinya.
Jaga diri baik-baik. Minum obat; tenggorokan sakit itu mestinya diobati bukan dijamu dengan air es. Terus berdoa ya… agar titik terang turun ke bumi dan menemuimu di satu hari. Semoga akhir yang baik yang datang dalam kisah yang sedang kalian lakoni.
Salam
atta
ps: Balon merah muda yang cantik itu sudah diminta Dana tadi. “Tante Ratna… ini buat aku aja”. Saya ganti dengan makan siang ya? Kita cari hari yang tepat untuk itu.
updated : Senang sekali bisa mendengar suaramu lagi. Terima kasih untuk tidak tergesa-gesa meletakkan gagang telepon saat kamu tahu itu dari saya. Setelah liputan yang melelahkan; tawa kamu meluruhkan penat lho….
Dari kamu saya belajar banyak… I love u. Nggak marah lagi kan?
Friday, 13 February 2004
- “Akbar Tandjung dinilai tidak terbukti melakukan tindak pidana korupsi dana nonbudgeter Bulog senilai Rp 40 miliar. Akbar Tandjung juga dibebaskan dari segala hukuman dan nama baiknya harus direhabilitasi. Akbar Tandjung hanya menjalankan tugas, kala itu selaku Mensesneg, dari presiden BJ Habibie untuk menyalurkan sembako” - (kutipan dari putusan MA; Majelis Hakim Agung pimpinan Paulus Effendi Lotulung, Kamis menjelang adzan Maghrib berkumandang)
- “Saya yakin seratus persen Akbar akan bebas. Rumput bergoyang pun sudah tahu. Menurut informasi yang saya terima, skornya 4-1, 4 hakim menyatakan bebas, 1 hakim tidak” - (Ruhut Sitompul, penasihat hakim nonligitasi, sehari sebelum putusan dibacakan)
- “Rasanya gue pengen ngotak-ngatik websitenya Akbar” - (suara seorang teman di seberang telepon, sesaat setelah putusan MA dibacakan)
- “Akbar bebas. Jakarta aman aja kan?” - (pesan pendek dari Abang, sekitar pukul 7 malam, tanpa dibubuhi… “Kamu dimana? atau masih di kantor ta?” atau kangen kamu nih…
)
- “Saya akan mengundurkan diri dari hakim dan lingkungan peradilan. Karena pendapat saya Akbar bersalah. Keputusan ini murni dari hati saya” - (Amiruddin Zakaria, mantan ketua majelis hakim yang menangani kasus AKbar Tandjung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat)
- “Keputusan tersebut tidak dipengaruhi oleh kepentingan politik. Keputusan politik hanya bisa diputuskan melalui rakyat, sedangkan keputusan hukum ada lembaga peradilan. Keputusan Mahkamah Agung harus dihormati karena merupakan keputusan tertinggi” - (Akbar Tandjung, dengan rona muka segar, sesaat setelah berbuka puasa, menanti putusan dari layar kaca yang berjalan sekitar 8,5 jam, di rumahnya, bersama isteri tercinta dan anak-anak yang manis)
-”……!!!!!!! (saya, dengan enam titik dan tujuh tanda seru)
Selamat datang di Indonesia, negeri tercinta, negeri yang pandai melihat peluang; satu lagi komoditas yang bisa diperdagangkan di negeri dimana kita tumbuh dan berkembang ini …. keadilan
Tuesday, 10 February 2004
Apa rasanya naik BMW 530i selama dua hari?
-enak. nyaman. goncangannya terasa… dikit, gimana nggak… jangan salahin mobilnya, jalanan jakarta aja yang parah- (dikutip dari seorang rekan desk otomotif dalam satu obrolan ringan di sela-sela kerja)
Hanya itu?
Dua hari beraktifitas dengan mobil yang mengundang decak ini juga memberinya satu pelajaran. Perbedaan perlakuan masih bertebaran di sekeliling
-biasanya itu tempat parkir nggak boleh dipake. kemaren sampe dibukain pagernya. udah gitu disebrangin sampe jalan pula-
Obrolan ringan itu membawa saya ke satu pengalaman yang masih lekat dalam ingatan. Akhir tahun lalu, seorang perempuan di garda depan supermarket dekat kantor mengembangkan senyum. Aneh, pikir saya. Biasanya ia selalu menerima tas ransel hitam, sahabat setia liputan, dengan muka ditekuk. Tapi hari itu ia memberikan nomor tanda penitipan dengan muka yang ramah.
Yang saya ingat, waktu itu saya menjawab panggilan masuk lewat O2 XDA II, PDA Phone yang sedang saya trial untuk beberapa hari. Dan O2 menjelma menjadi sebuah penanda dari status ekonomi yang lebih baik. O2 berujung pada sebentuk senyum ramah…
Betapa dalam hidup, apa yang kita kenakan, yang kita sandang, yang melekat pada kita sama artinya dengan strata. Apakah kamu akan kami perlakukan begini atau begitu. Apakah kami perlu tersenyum atau tidak. Lalu apakah senyum kami perlu mengembang atau cukup di ujung bibir. Apakah kami perlu menjawab pertanyaan dengan menoleh, menatap dengan dua mata sarat kebaikan atau sambil lalu. Ah dunia…
Mungkin itu sebabnya saya begitu larut dalam pelukan tempat-tempat tanpa sekat. Saya menikmati malam di pelataran Menara Danamon, makan siomay, berbincang dengan sahabat yang bekerja sebagai editor di stasiun televisi yang berkantor tak jauh dari situ. atau menikmati waktu sambil berlama-lama di Bengkel Deklamasi kawasan Taman Ismail Marzuki, mencari buku, duduk tanpa alas sambil membaca sebelum saya membayarnya. juga merindukan bakmi pinggir jalan di daerah Menteng, pergi kesana dengan beberapa teman redaksi, menghabiskan malam dengan berbagi tentang banyak hal.
Bukan. bukan saya anti kemapanan. kadang saya juga lebih memilih Djakarta Theater atau Plasa Senayan ketimbang Slipi Jaya. atau pergi ke kafe di bilangan Kuningan dengan sahabat. Mendengarkan live music di Bale Air juga membuat hati saya gembira. Memilih kursi beratapkan langit dengan lilin kecil di meja, ikut bersenandung dengan suara yang ngepas.
Tapi di tempat tanpa sekat; saya menemukan wajah-wajah yang memperlakukan saya dengan ramah. Tak peduli hari ini saya datang dengan ojek, taksi atau bis kota. Apakah saya menjinjing O2 XDA II, Nokia 3315 atau ponsel lain. Yang pasti di kedalaman tempat tanpa sekat tidak ada topeng yang bertengger, di wajah saya atau wajah mereka.
Malam ini saat rekan desk otomotif hendak pulang, saya sempat menggodanya; “Nggak naek BMW lagi?”
BMW 530i telah direnggut darinya beberapa hari yang lalu, dikembalikan lagi ke dealer, yang tersisa kini hanya tugas untuk menulis artikel berdasarkan pengalaman empiriknya. Kembali ke selera asal sama artinya dengan berpanas-panas ria, dengan perlakuan yang minimalis.
Ah dunia… terlalu sulit rupanya memperlakukan kita seperti apa adanya kita…
Sunday, 8 February 2004
Saya anak kedua dari dua bersaudara. Kakak laki-laki saya, hingga saat ini belum berkeluarga. Alhasil tak ada satu celoteh sarat kelucuan yang menyapa saya dengan panggilan tante.
Kabarnya, panggilan ini juga bisa bersumber dari pertalian darah yang lain. Sayangnya saya tak terlalu dekat dengan keluarga Bapak, hanya bersumber dari keluarga ibu rasanya tak banyak menolong. Selain kendala jarak dan jarang bertemu, Ma’e juga berasal dari keluarga kecil.
Dulu, saya sempat dirubung rasa iri jika para sahabat perempuan berbagi tentang kebahagiaan menjadi seorang tante. Saya kerap memandangi binar mata mereka saat bertutur betapa keponakan tersayang menunjukkan perkembangan dalam bilangan waktu.
Di kubus kantor, dua orang rekan sekerja, menjadi om dan tante dengan jumlah keponakan yang lumayan banyak. Si om, yang terpaut satu kursi dengan saya, dianugerahi keponakan hingga 14 orang. Sedang si tante, yang tepat bersebelahan dengan saya, memiliki 5 orang keponakan.
Dan saya, duduk di sudut, tanpa keponakan dan saudara yang memanggil saya dengan imbuhan tante di depan nama saya…
Tapi, Tuhan tahu bagaimana cara menyenangkan hamba-NYA yang baik hati ini, di akhir pekan kadang-kadang celoteh itu datang dan menyapa saya dengan merdunya…
“Tante Ratna….”
Pekerjaan kami, seringkali memangkas libur akhir pekan. Kantor tetap buka 7 hari dalam seminggu. Dan Sabtu-Minggu adalah masa dimana beberapa rekan senior memboyong kru redaksi cilik ke kantor.
Dana, dengan bolanya, setengah berteriak memanggil saya. Dia tahu saya pandai mendongeng. Kebetulan selera kami sepadan. Saya menonton pertunjukan live Pika-Pika Kuro gelaran Majalah Bobo dan Dana mengkonsumsi versi VCDnya berulang-ulang.
Matanya menyipit, menahan gelak saat Tante Ratna bersenandung… “Pika ro, Pika ro, Pika-Pika Kuro” dengan suara mirip makhluk nakal berwarna hijau itu.
Atau Salma, putri tunggal salah seorang redaktur, yang datang menjemput ayahnya. Berjalan malu-malu ke kubus Tante Ratna. Salma tak perlu waktu lama untuk mengakrabkan diri.
Meja Tante Ratna, surga bagi gadis kecil nan cantik ini. Salma berkenalan dengan Sasa, sapi yang duduk di bantal berbentuk hati, Lula, lumba-lumba dari kayu berornamen batik, lalu ada Kutam, si kucing hitam dengan buntut yang panjang. Di atas komputer, yang biasa digunakan tante Ratna menulis, bersanding Pingu si pinguin dan Ago si ayam jago.
Salma juga senang memotret dengan ponsel Tante Ratna. “Nggak pa-pa sayang, pegang yang erat ya… Salma mau potret apa?”, kami tertawa, Salma sesekali berteriak dan terkagum-kagum dengan hasil bidikannya. Pertanyaan yang dilontarkan juga kritis. Bakat jurnalis yang terpendam, meski dengan penuh percaya diri ia berkata mantap; “Aku nggak mau jadi wartawan, ayah aja kerjanya sampe malam, capek kan Tante…”
Masih banyak kru redaksi cilik yang kerap datang. Dari mereka saya mendapatkan yang selama ini saya cari… gelak tawa, berondongan pertanyaan yang bertubi-tubi, bening mata, cerita yang meluncur dengan deras, kecupan di pipi kiri dan kanan, juga panggilan merdu yang datang dari bibir mungil mereka…
“Tante Ratna”
Tuesday, 3 February 2004
Tolong beritahu saya.
Bagaimana caranya meringkas dua tahun menjadi satu malam…
hanya satu malam…
(jadi kalau sekarang saya ada di 2004, malam nanti saya akan terlelap, dalam balutan bunga tidur terindah yang pernah singgah, dan tarammmmm…. kala fajar menyingsing, saya telah masuk ke 2006, april yang anggun. sinar hangat mentari dengan malu-malu menerobos daun jendela. melelehkan titik-titik embun yang tengah mencumbu dedaunan. harapan. hidup. cinta…)
Tolong beritahu saya.
Bagaimana caranya meringkas dua tahun menjadi satu malam…
hanya satu malam…