Thursday, 8 April 2004
Mohon bantu doa untuk kelancaran operasi tulang belakang Retno yang kedua. Operasi hari ini tanggal 7 jam 5 sore di Rumah Sakit Mitra Kemayoran. Terima Kasih. ; sebuah pesan pendek yang masuk ke ponsel saya pagi kemarin…
Saya menemuinya sore itu. Retno atau yang kerap disapa de terbaring. Badannya tampak lebih kurus. Tapi senyum tak pernah lebas dari bibirnya. Senyum? bukan, ada lebih dari senyum, menjelang senja di Ruang 201, ia tertawa, bercerita; tentang blog, Rafa-buah hatinya, rencana keberangkatan Mas Teguh-suaminya ke Jerman bulan depan, tentang dokter yang akan menangani operasinya, tentang penyakitnya…
Nada bicaranya masih sama; cepat dan sedikit bersemangat. Wajah ekspresifnya juga tak berubah seperti saat saya secara tak sengaja bertemu dengan perempuan kelahiran 20 April ini di sebuah acara operator seluler beberapa bulan silam. Saat seraut wajah manis berkerudung melemparkan senyum dan memandangi wajah saya dengan ramah. Ia mendekat dan… “Atta, atta negeri senja kan?”.
Kami belum pernah bertemu sebelumnya, tapi aktifitas saling menyambangi rumah senja di dunia virtual sudah terjalin cukup lama. Ia mengenali saya di tengah keramaian kafe; di antara membaurnya wartawan dan rekan-rekan dari operator seluler, tempat de pernah bekerja.
Siang kemarin; setelah liputan di sebuah gedung jangkung di bilangan Sudirman. Saya menjemput Pey, pemilik rumah senja yang bermukim di Bandung ini kebetulan tengah berada di Jakarta. Berdua kami menjenguk de. Ini kali pertama saya bertemu Pey. Tak bisa menemui de secara bersamaan; jam besuk di Rumah Sakit Mitra Kemayoran terbilang ketat. Saya dan Pey masuk ke Ruang 201 secara bergantian.
Senjapun tiba; langit sore memerah, semburat jingga terlukis di barat langit. Saya pandangi wajah de, berjalan di samping ranjang yang didorong menuju kamar operasi. Berusaha menahan haru dalam dada; mencegah butiran bening mengalir di ujung kelopak mata. Kenapa menangis? Yang dia butuhkan saat ini adalah doa. Dan lihatlah; tidak sedikitpun terlihat gundah di wajahnya. Meski terbaring dengan lemas; dia tetap tersenyum. Dalam diam; saya mohonkan kesembuhan untuknya…
Saya agak kesulitan menjawab waktu ibu kandung de melempar pertanyaan pada saya; “Mbak ini teman apanya Retno?”. Wajah saya pasti masih asing, bukan teman kuliah, bukan teman bekerja, tapi cukup mengerti tentang Rafa, kepindahan de ke rumah kontrakan yang baru dan hal-hal kecil seputar kehidupannya. Saya hanya tersenyum. Semestinya saya menjawab; saya mengenal putri ibu yang baik hati dan cerdas dan mas gondrong di samping saya ini lewat rumah senja mereka. Saat sulur kata-kata merambat… membentuk sebuah kekerabatan, bergerak menjalin jejaring pertemanan.
Monday, 5 April 2004
“Dek, Ma’e nyoblos apa nih”
terserah Ma’e donk
“Adduh, kok jadi bingung gini”
gak papa, ntar dipikir lagi kalo udah deket TPS
Pertanyaan Ma’e membuat saya tersenyum. Semalam, ibu saya tercinta ini sudah dengan mantapnya mengukir nama satu partai dalam benaknya. Tapi, pagi 5 April tadi, kebimbangan sempat juga mampir di hatinya.
Pagi, 5 April tadi, suasana TPS menjadi lebih dari sekedar tempat menuangkan aspirasi politik, tapi juga wadah berkumpul, terutama untuk saya yang jarang bertemu dengan tetangga sekitar. Si Eno, gadis 4 tahun yang lucu dekat rumah sudah semakin besar, anak kost di rumah pak Haji juga semakin keren-keren atau sahabat dari masa kecil saya yang duduk manis menjadi Panwaslu.
Pagi, 5 April tadi juga merebak keceriaan. Pesta demokrasi, perhelatan besar yang terbilang menganut style baru ini tak ayal berujung pada kelucuan disana-sini. Nyai yang tidak sanggup melipat kertas, yang bukan besar; tapi besar banget, tangan Nyai terangkat keatas, memanggil petugas. “Udeh ah, kagak bise, repot, ngerjain orang tue aje nih,” tawa pun berderai. Atau Pak Dadang yang ingin meralat pilihannya. “Abis di depan tadi, susah banget nyari mukanya, waduh salah nusuk deh”.
Di pagi, 5 April tadi juga terjadi kegemparan di rumah. Mas Andi, kakak semata wayang saya yang memang gemar sekali tidur, tetap tidak terbangun dari mimpinya hingga pukul 11 siang. Ma’e dengan segenap tenaga membangunkannya. “Mas….bangun dong, jadi warga negara yang baik, kalau nggak bangun ntar dipanggil pak RT lho,”
Kata “warga negara yang baik” dan embel-embel pak RT yang dibawanya sontak membuat saya terbahak-bahak. Dengan pelan saya ingatkan, Golput pun pilihan yang harus dihargai. “Tadi malam, Mas Andi udah tukar pikiran sama Ma’e soal partai yang mau dicoblos, berarti pagi ini dia mestinya ke TPS juga kan?”. Tahulah saya, tadi malam terjadi diskusi kecil, minus saya tentunya, di rumah soal pilihan dukungan mereka.
Pagi, 5 April yang baru saja berlalu. Dengan satu jari yang tertandai saya meninggalkan TPS, bersama Ma’e yang akhirnya kembali mantap pada kata hatinya, selain jujur, kata Ma’e pilihannya ini juga tidak neko-neko, cenderung tenang dalam bertindak. Alasan lain? “Abis mukanya mirip bapakmu”. Ah… satu romantisme masa lalu yang tetap saja berbekas….
Beranjak dari TPS senada dengan menaruh sejumput asa saya akan kecerahan nasib negeri ini, melepas sebongkah harap semoga yang terbaik yang akan datang untuk Ibu Pertiwi, berharap awan mendung tidak lagi memayungi negeri tempat saya tumbuh dan bergerak. Semoga…
ps: Setengah mengantuk Mas Andi akhinya bangun dan pergi ke TPS juga. Sampai di rumah, ia malah membawa pisang rebus. “Siapa yang ngasih, jangan sampai terjadi politik pisang nih,” Ma’e setengah menyelidik berkata sambil menatap si pisang rebus.