Wednesday, 19 May 2004
Saat Dekat Kembali…

Bagaimana rasanya terpisah selama hampir satu tahun dengan orang yang dicintai? terpisah jarak, berpindah-pindah lokasi di dalam hutan, menjemput malam sendiri, memendam rindu yang sangat pada irama tawa si buah hati, selarik senyum dan sentuhan hangat belahan jiwa, harum rumah atau pada stasiun televisi tempatnya berkarya.
Bagaimana rasanya terpisah selama hampir satu tahun dengan orang yang dicintai? kehilangan teman terbaik dalam sebuah bentrokan senjata, proses pembebasan yang mengalami penundaan, menjadi bagian (atau korban?) dari sebuah perseteruan sesama anak negeri, rangkaian doa yang tak putus untuk sebuah akhir yang baik.
“Bagaikan mimpi,” ujar Ferry Santoro saat menyadari angin kebebasan telah kembali dihirupnya. Bobotnya memang berkurang sekitar 20 kg, kulitnya juga semakin legam, tapi raut muka juga binar matanya menjadi penanda adanya kebahagiaan tak terperi.
Saat dekat kembali. Selarik nada dari nyanyian angin menyapa wajah-wajah kita, ya … aku dan kamu, pagi itu di Sepinggan. Kebingungan memilih kata, berharap setiap menit yang ada berlalu tanpa sia-sia.
Kita terpisah tanpa kungkungan, kamu tetap melenggang dan membangun pondasi bagi sebuah skenario masa depan, mulai mengedit dan dipusingkan oleh ulah reporter, juga layout setiap malamnya. Disini aku juga membuka lembaran hari dengan ringan; menulis, rapat redaksi, deadline, menemui beragam sabtu yang cantik.
Kalau kita yang terpisah tanpa todongan senjata dan tak perlu berpindah-pindah di dalam hutan saja merasakan bungkahan bahagia yang begitu besar kala bertatapan pagi itu. Yang dirasakan Ferry Santoro, Mayawati Hendraningrum, istri Ferry dan Ferdian Haryo Santoro, buah hati mereka, pasti berpuluh-puluh kali lipat kebahagiaan yang kita rasakan. Berpuluh-puluh kali lipat…. pasti
keterangan foto : diambil dari kompas cyber media
pada Wednesday, 19 May 2004 pada 12:55 pm:
pertama ??? gak nyangka euy … *nangis terharu* … nice writing, tta … salut buat semua rekan kuli diskette euy …
pada Wednesday, 19 May 2004 pada 1:00 pm:
aku tahu bagaimana rasanya,
rasa kangen itu menyebalkan
semakin dicoba untuk menghilangkan jejaknya, rasanya semakin kosong
hihihihihi….untung sekarang udah enggak lagi
*hugs*
pada Wednesday, 19 May 2004 pada 1:12 pm:
Uhm…mau libur postingannya rada serieus gini ta’….
pada Wednesday, 19 May 2004 pada 2:04 pm:
sebuah pertemuan yang mengharukan yah..
dan elo menggambarkannya begitu indah..
nice posting ta… very nice…
pada Wednesday, 19 May 2004 pada 2:28 pm:
…………..
ga tahu nih, yg mau dikomentarin pertemuannya ferry santoro dan keluarga atau pertemuan kamu dan seseorang di Sepinggan.
yg jelas saya bersyukur dan ikutan seneng (serius!) buat ferry dan keluarganya, dan buat kamu & orang di sepinggan itu.
pada Wednesday, 19 May 2004 pada 3:29 pm:
di sepinggan itu, lanjut dengan sebuah pelukan juga gak, tta ?!
*mau tau mode ON*
salut buat tim negosiator yg tabah dan sabar menjalani semua proses kemarin…
pada Wednesday, 19 May 2004 pada 4:02 pm:
terpisah jarak.. namun tetap di hati kan ta? ;;)
pada Wednesday, 19 May 2004 pada 4:52 pm:
kurang kalo cuma berpuluh-puluh kali lipat…
pada Wednesday, 19 May 2004 pada 6:10 pm:
..smalem pas wawancara.. trenyuh bgt waktu dia cerita bang ersa ketembak…
*gw turut mengenang alm. ersa siregar ta*
pada Wednesday, 19 May 2004 pada 6:48 pm:
boleh aku minta bongkahan bahagianya mbak?
pada Wednesday, 19 May 2004 pada 7:23 pm:
rasanya pasti sejuta…
pada Wednesday, 19 May 2004 pada 7:24 pm:
tTa, kata temanku ‘lebih besar dari bilangan Avogadro’…heheheheh..
pada Wednesday, 19 May 2004 pada 8:13 pm:
perang memang menyedihkan
membuat repot banyak orang
pada Thursday, 20 May 2004 pada 5:49 am:
*..sedih..*
pada Thursday, 20 May 2004 pada 2:02 pm:
Reportase di Luar Kamera
: ferry & ersa
Bisik itu berulang, “Kapan saya pulang?”
Kita pun sama bimbang, dan rumah datang,
sebagai bayang-bayang. Jauh memanjang.
Tinggal satu-satunya pintu:
mata menuju,
tanya mengaju.
Siapa yang asing, di halaman depan kita itu?
Kita sama tak tahu. Tapi, Rumah adalah
istri dan anak sebelas bulan menunggu.
Rumah adalah 5.000 lelaki di hutan Langsa,
Piedie, Aceh Utara, mengarahkan laras
senapan ke Jakarta. Melawan. Atau Bertahan.
Rumah adalah 30.000 serdadu yang mendarat
darurat. Dengan perintah yang cepat: “Ayo,
lepaskan seribu peluru, mereka sah diburu!”
Bisik itu berulang, “Kapan kita pulang?”
Ada yang tak lagi bimbang. Ketika kita
pergi tak lagi kembali, dijemput peluru
yang tak sempat direkam kamera TV.
Ketika kita tak lagi mesti melaporkan,
“Tak ada yang harus disampaikan, ini
peristiwa sederhana: jemputan kematian…”
Kita sama tahu. Rumah adalah ketika
kita kembali dari bepergian. Sendirian.
Mei 2004
pada Thursday, 20 May 2004 pada 5:32 pm:
Rindu itu janji…
pada Friday, 21 May 2004 pada 1:15 am:
Ngertii banget rasanya rindu yg berkepanjangan sperti apa..
jauh yang membiru tuh sepinya gimana..
Mudah2an yang disnonya juga sadar kalau dikangeni..
Salam dari dari benua hitam
(tapi kalau pas senyum-
putih pepsodent semua)..
pada Friday, 21 May 2004 pada 6:33 am:
satu hal lagi yang membuktikan kalo perang tidak pernah ada gunanya, apapun alasannya.
Let’s all unite to bring back peace.
pada Friday, 21 May 2004 pada 6:52 am:
…Berasa kalo udah punya anak-istri

Alhamdulillah banget ngeliatnya
note for GAM & NKRI: Piss deh !
pada Friday, 21 May 2004 pada 2:55 pm:
Saya pernah bertugas ke Banda Aceh. Hanya 3 hari, tapi menghabiskan beberapa ratus ribu rupiah hanya untuk berkomunikasi dengan keluarga tersayang (ter disini berbeda dengan ter-nya terjatuh..:D).
pada Friday, 21 May 2004 pada 8:51 pm:
Bisa aja si Atta ini. mengkaitkan rasa kangen dgn berita pembebasan si Ferry Santoro….ck.ck.ck… Kalo kamu siapa yang nawan ta?
pada Saturday, 22 May 2004 pada 5:23 am:
trenyuh ya.. oh, by far one of my favorites of your postingan
pada Saturday, 22 May 2004 pada 11:58 am:
cerita tentang si abang lagi..?
pada Sunday, 23 May 2004 pada 5:04 am:
wah .. akhirnya bebas juga ya .. ! pis juga dong ah .. happy Sunday ya Ta !
pada Sunday, 23 May 2004 pada 7:56 pm:
waaaah… rasanya, pasti ga bisa diungkapkan dengan kata-kata ya
pada Monday, 24 May 2004 pada 12:00 pm:
Lang juga rindu. Rindu sekali…
pada Atta penunggu Negeri Angkasa
Rasanya, telah jauh menghilang…
Kini… aku bahagia, karena bertemu lagi dengan pengikat hati…
pada Monday, 24 May 2004 pada 12:20 pm:
kadang saya senang bermain dengan rasa rindu saya kepadanya…
pada Monday, 24 May 2004 pada 8:01 pm:
Q : hiks. terharu juga liatnya di tipi
shanty : hug juga ya mbak. miz u much
si manis : tau2 kepikiran aja mbak. serius ya?…
hero : kalo entar ke Bali; pertemuan kita bisa dibikin cerita lebih manis. hehehehehe
eyi : makasih eyi. makasih juga smsnya hari ini ya. mmmuahhh
t.w : tim negosiatornya emang top. sanggup jadi mediator yg baik. pake acara nginep2 di sarang GAM pula. hebat ya?
bay : mmm..
imponk : ya. pasti lebih dari itu
balq: iya. pasti berat menyimpan kenangan itu ya.
alarix : buat kamu? mmm boleh2. bawa karung gak?
dien : sejuta berpangkat sejuta.
Andy : ya. tak terhingga? berapa pangkat berapa kemaren ndy?
richoz : setuju pak
15june : jangan sedih. semua berakhir dengan baik kok.
HAH : Rumah adalah ketika
kita kembali dari bepergian. Sendirian. hiks. dalem banget nih pak
enda : janji harus ditepati ya nda
Luigi : iya. mudah2an. kamu pasti pakar deh soal rindu dan jarak. hehehe.
andi : betul banget ndi. kenapa juga sih mesti ada perang?
qky : peace juga….
luthfie : berasa banget ya pak kalo jauh
siwoer : eh si bapak. saya mah gak ada yg nawan
emil : kalo baca lagi kok saya juga ikut trenyuh.
mbonk : lagi? akan ada lagi-lagi yang lain kali mbonk. he’s my inspiration. kekekekek
ika : happy monday mbak. kemaren aku ketemu nyinyi lho
ninit : betul nit. bingung dan bingung
tapi bahagiaaa banget
ilalang : maafkan saya lama tak kesana. apa kabar Lang?
cici : kalo gak ketemu-temu bermain2nya gak menyenangkan lagi
pada Tuesday, 25 May 2004 pada 1:39 pm:
Syukur ya bebas..
pada Wednesday, 26 May 2004 pada 6:16 pm:
bien, très bien….