Wednesday, 18 August 2004

Bunga Rumput…

bunga rumput

Dandelion, begitu nama bunga yang cantik ini. Memang tidak segemerlap anggota keluarga bunga lainnya yang datang dengan balutan warna-warna ceria. Dandelion ini… sederhana. Buat saya Dandelion punya tempat tersendiri di hati.

Dandelion, susah sekali menyebutnya. Lidah kampung saya lebih sering menyebutnya bunga rumput. Ia dengan mudah ditemukan di semak-semak perdu, menyembul malu, tersipu. Kalau angin berhembus dan menyentuh tubuhnya, bunga rumput yang cantik ini perlahan terbang. Serpihannya mengikuti ke mana arah angin pergi. Perlahan, terbang…

Dulu, bunga rumput banyak tersebar di lapangan dekat rumah. Di dekat pohon sengon yang berdiri kuat, dengan dahannya yang kokoh. Dan bunga rumput ini menyita perhatian saya. Memetiknya dari dahan, meniupnya dan melihat pokok bunga ini memecah, serpihannya terbang bersama angin. Kala serpihannya menyebar, menuju birunya langit, pecahlah perasaan bahagia yang menuai sebentuk senyuman. Aktivitas yang menyenangkan.

Dulu, di kampus, saya juga kerap menemui bunga rumput. Area kampus memang terbilang luas. Tumbuhan perdu dan semak-semak liar menjadi surga bagi kehidupan bunga rumput. Dalam perjalanan pulang dari kampus, sesekali saya berhenti dan bercumbu sejenak dengan bunga rumput yang saya temui.

Saat perjalanan pulang dari kampus bersamanya, saya juga masih menyempatkan waktu untuk bersentuhan dengan bunga rumput. Waktu itu Jindo, vespa hijau kesayangannya –dan menjadi kesayangan kami akhirnya :D–, belum mengisi keseharian di Solo. Berdua, melangkah menyusuri setapak antara kampus kami dan kost melewati kampus Sekolah Tinggi Seni Indonesia. Di tengah perjalanan, sesekali bunga rumput menyapa.

Saya lalu menyibukkan diri bersama bunga rumput. Ia, laki-laki dengan semburat jingga itu, berdiri, menahan terik dan menutupi kepalanya dengan tangan. Matanya setengah terpicing. Pandangannya tertuju pada gadisnya, ya saya, yang tengah berjongkok. Saya, gadisnya, yang tengah memetik bunga rumput dari dahan, meniupnya, melihat pokok bunga itu memecah dan serpihannya terbang bersama angin.

Bagi saya, melihat laki-laki dengan semburat senja itu berdiri, menahan terik, menutupi kepalanya dengan tangan dan matanya yang setengah terpicing menanti percakapan saya dengan bunga rumput usai, hingga serpihan itu menyebar menuju biru langit, adalah aktivitas yang tidak hanya menyenangkan tapi juga membahagiakan.

Beberapa hari yang lalu, seusai liputan ke sebuah vendor elektronik di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan saya bertemu bunga rumput. Di sini, di tengah hutan beton ini. Sungguh satu keajaiban. Sudah lama sekali saya tidak mendapati kehadiran bunga rumput. Jakarta tidak lagi menyisakan ruang untuk semak dan perdu.

Waktu itu saya tengah menanti taksi. Saat menebarkan pandangan ke sekeliling, saya mendapati bunga rumput itu di pinggir pedestrian. Saya berjalan mendekatinya. Perlahan saya amati bentuknya. Benar, ini memang bunga rumput. Dan saya memetiknya dari dahan, meniupnya dan melihat pokok bunga ini memecah, serpihannya terbang bersama angin.

Keriuhan kendaraan yang lalu lalang tiba-tiba tak terdengar. Saya seperti melihat bayang-bayang laki-laki dengan semburat jingga itu di sana. Samar…. Berdiri, menahan terik dan menutupi kepalanya dengan tangan. Matanya setengah terpicing. Ia jauh lebih tampan dari tahun-tahun kebersamaan kami di kampus dulu.

Tapi, angin segera membawa serpihan bunga rumput saya pergi, terbang, menuju birunya langit…. dan perlahan bayang-bayang laki-laki dengan semburat jingga itu menghilang. Kesunyian pecah. Suara klakson dari kendaraan bergegas bersahutan. Jakarta kembali pikuk.

Saya segera mencari bunga rumput lain, siapa tahu kerabatnya tersebar di sekitar situ. Bukankah biasanya bunga rumput hidup bergerombol? Saya terus mencari, berjalan perlahan menyisiri pedestrian. Dalam hati saya berbisik; Tuhan tolong beri saya satu bunga rumput lagi…

_________________

gambar diambil dari sini

» Diletakkan dalam General oleh atta pada 21:11.

kembali ke atas

39 komentar
untuk Bunga Rumput…

  1. pada Thursday, 19 August 2004 pada 2:19 am:

    oohh, dulu kuliah STSI ya mbak?

  2. pada Thursday, 19 August 2004 pada 3:35 am:

    semoga tidak hanya bertemu satu bunga rumput lagi, tetapi juga lelaki yg setia menunggumu bercakap dengan bunga rumput, berdiri, dengan tangan menutupi kepala, mata setengah terpincing dibawah terik matahari.., semoga..semoga

  3. sa

    pada Thursday, 19 August 2004 pada 4:14 am:

    disini banyak, ta. ke sini yuk. tapi ga yakin aku, apa bakalan ada pria ganteng yg berdiri sambil menutup kepalanya kr panas. panas di sini mahal. ga bakalan ditutupi mukanya. :D

  4. pada Thursday, 19 August 2004 pada 9:57 am:

    waduhhhh nyastra tenan posting iki. maklum, temannya murtijono & halim hd…

  5. qky

    pada Thursday, 19 August 2004 pada 10:14 am:

    bunga rumput Solo apa Jakarta, Ta ? ;)

  6. pada Thursday, 19 August 2004 pada 11:18 am:

    huhuhu..romantis skalee..;p

  7. pada Thursday, 19 August 2004 pada 3:44 pm:

    bunga rumput Borneo ;)

  8. pada Thursday, 19 August 2004 pada 4:25 pm:

    ada yang lagi kangen rupanya.. :)

  9. pada Thursday, 19 August 2004 pada 4:26 pm:

    asli, merinding euy baca “cerpen” di atas. keren.

  10. cici

    pada Thursday, 19 August 2004 pada 6:53 pm:

    kalo saya,bunga rumputnya diganti es krim blizzard dairy queen, sumpah lo, gak ada romantisnya sama sekali :D

  11. pada Thursday, 19 August 2004 pada 7:02 pm:

    bunga rumput ini memang romantis Atta…sepertinya lebih cocok disebut bunga cinta apa…hemmm…tau gak, film korea kalo ngeshoot yang romantis2 dialam terbuka selalu di tempat yagn ada bunga rumputnya…nahh tuh..bikin feeling jadi lebih romantis lagi

  12. pada Friday, 20 August 2004 pada 2:21 am:

    doo..baru tau namanya dandelion ta..

  13. pada Friday, 20 August 2004 pada 7:50 am:

    :D iya semoga segera diberikan satu bunga rumput lagi. amiin. (:

  14. eyi

    pada Friday, 20 August 2004 pada 9:09 am:

    bunga rumput? jadi inget sancai-nya Meteor Garden :)

    jadi kemarin ke kuningan? lain kali kasih tahu aku, jd bisa ketemuan.

    btw, amiiin.. semoga si bunga rumput+laki2 yang menanti kamu bercumbu dengan si bunga rumput itu segera ditemukan :)

  15. pada Friday, 20 August 2004 pada 10:36 am:

    sweet!! :)

  16. pada Friday, 20 August 2004 pada 3:31 pm:

    Tengkyu ta tawaran! skr udah beres! berkat bantuan teman-2 ad-bannernya udah ngilang gak keliatan lagi :)

    Ntar aja kalo udah punya duit, tak mikir buat beli hostingan, skr ini lagi bokek abessss :P

  17. dion

    pada Friday, 20 August 2004 pada 5:51 pm:

    Hmm…bunga rumput? Hmm…romantis?
    Kok ga pernah terpikir ke sana yah?
    *dasar gw mahluk bebal* hehe…

    Soalnya setiap dekat bunga rumput, serbuknya bikin hidung jadi gatel dan pengen bersin…”Hachiyyyyyy!” begitulah bunyinya… kakinya bertanduk,hewan apa nama..

  18. pada Saturday, 21 August 2004 pada 8:18 am:

    satu bunga rumput lagi is enough. semoga bunga rumput yang itu bisa menjaga hatinya atta selamanya :)

  19. pada Saturday, 21 August 2004 pada 5:55 pm:

    tulis ttg edelweis doung aw.. :D

  20. pada Saturday, 21 August 2004 pada 7:03 pm:

    ciehhh..bangets lah…romantisnya…apa gak ada bunga yang laen ta….hehehe

  21. pada Sunday, 22 August 2004 pada 8:16 am:

    Aaamiiinn… :-)

  22. pada Sunday, 22 August 2004 pada 3:06 pm:

    duh.romantisnya. Siapa pria yg beruntung itu tante atta ?.. :D

  23. pada Sunday, 22 August 2004 pada 5:42 pm:

    duh… romantis… :)
    tapi memang bunga rumput ini bagus yah ta :)

  24. Didi

    pada Monday, 23 August 2004 pada 10:23 am:

    masih ada vespa yang lain di jakarta ini.

  25. dandy

    pada Monday, 23 August 2004 pada 1:34 pm:

    ckckc, atta .. atta … balik2nya selalu ke orang satu itu lagi :-) dia, lelaki yg punya banyak nama ya … hehe

  26. pada Monday, 23 August 2004 pada 4:34 pm:

    Padahal gw benci sama bunga rumput yang sering tersisa menempel di celana dan kaus kaki.

  27. pada Monday, 23 August 2004 pada 10:50 pm:

    dandelion ini,
    obyek foto profesional pertama gw.

    dandelion ini,
    hal pertama yg berhasil membuat kakak gw mau dipotret.

  28. pada Tuesday, 24 August 2004 pada 1:18 am:

    Nature is there for human to enjoy…and be grateful (at all times) to the creator in shich sometimes long forgotten….

    It is nice to have someone like tou reminded us to always be thankful.

    I’ve been back to reality of pile of work and paperworks (a.k.a: headaches), but I am glad that I can still have the chance to contend them until another vacation time!

    Hugs from Liberia, West Africa! ;)

  29. pada Tuesday, 24 August 2004 pada 9:29 am:

    namanya dendelion ya tta? Yasa suka sekali dengan bunga rumput. kemudian dia akan memetiknya memegang tangkainya, sambil menutup mata dia akan makes a wish dan fiuhhhhh ditiupnya bunga rumput itu.

  30. pada Tuesday, 24 August 2004 pada 10:41 am:

    Eh bunga itu, yang kalo ditiup bisa untuk petunjuk jam berapa ya :) hehehe

  31. pada Tuesday, 24 August 2004 pada 12:23 pm:

    hehe, postingannya sedih banget deh

  32. pada Tuesday, 24 August 2004 pada 4:44 pm:

    di belakang rumah saya masih banyak, ta. mau aku bawain?? hehhee..

  33. pada Wednesday, 25 August 2004 pada 9:02 am:

    waaa….mellow…..but like always, full of magic, touchy, drowned into your profound wisdom and depth of your heart!!

  34. pada Wednesday, 25 August 2004 pada 9:22 am:

    heheh.. kalo bunga rumput sekarang lagi nggak ada, kalo bunga bank gimana? mau nggak? whehehe…

  35. atta

    pada Wednesday, 25 August 2004 pada 12:38 pm:

    Imponk : enggak mponk. STSI itu cuma tetanggaan aja.

    Siberia : makasih mbak

    Sa : kesitu jauh mbak :D

    kéré kêmplu : hehehehe. i miss solo very much. ngomongin murtijono jadi inget TBS :)

    qky : bunga rumput Borneo. hehehehehehe

    bagas : :)

    mushrooms : aih sista tahu aja :)

    mawarterikat : hehehehe, rindunya menggunung

    Bril : cerita pendek sekali. hehehehe

    cici : romantis kok :) apalagi kalo makan es krimnya di bandung, terus gerimis kecil2. hehehehehee

    yuliana : aduhh, iya yah *romantis Mode ON*

    otty : ribet kan ty, mending ngomongnya bunga rumput aja :D

    randi : makasih randi

    eyi : iya yah, lupa aku gak ngasih tau kamu. kapan2 deh sist.

    asri : :)

    siwoer : udah bersih lagi ya halamannya. sip deh. masih ditunggu buat tetanggaan di sini :D

    dion : hahahaha. dionnnnnnn

    pipit : semoga ya pit :)

    balq : gak ada kenangan sama edelweiss bal.

    bhima : ada bhim. bunga matahari juga punya cerita tersendiri. tunggu kisahnya yah *appa cobba* hehehehehe

    t.w. : Amin :)

    aprian : ada deh. hehehe. udah balik ke jakarta lagi?

    ninit : bagus kan nit?

    Didi : ganti ah, masa’ vespa lagi. hehehehehe.

    Dandy : aduh sista, jadi malu nih.

    umar : itu lain mar, kalo yg suka nempel bulir2 bunganya lebih panjang. eh yg itu bukan ya?

    bryan : oh ya? bersejarah juga dong ini bunga.

    Luigi : hug juga Luigi, posting barumu lucu banget

    maknyak : wah, Yasa punya kebiasaan yang sama dengan tante atta

    Nita : masa’ sih? kaya’nya bukan yang ini deh Nit :)

    canti : bukan sedih can, hanya rindu. hehehehehe.

    sireum : mau mau. bawa kesininya pake apa ya?

    Farid : komen dengan tiga tanda seru. hehehehe. thanks ya.

    pepper : boleh. butuh nomer rekeningku? heeheheeheheheh

  36. pada Wednesday, 22 December 2004 pada 3:29 am:

    laisxerh fonjhl.

  37. dandelion

    pada Saturday, 2 September 2006 pada 2:01 pm:

    Aku suka namanya. dandelion. Selain sederhana, artinya juga manja, betul gak?

  38. pada Tuesday, 30 January 2007 pada 9:08 pm:

    consolidate credit card debt

    minimizer arresting.paregoric

  39. R 1 3 n

    pada Friday, 16 November 2007 pada 1:14 pm:

    idih nama bunganya Lucu dech!!!

    Boleh ga nama bunga ni dijadiin nama Genk aku bareng temen2..
    Soalnya karakternya Qta Buangeeeeeeeet!!!!

Subscribe to comments atau TrackBack untuk Bunga Rumput…

Tinggalkan Komentar







Kredit

© Negeri Senja | Ditenagai oleh WP 2.3.1. | Tree oleh Headsetoptions, tema minimal berbasis HyperBallad | Kandungan: XHTML + CSS | Ke Atas