Monday, 16 August 2004

Republik Togog

Kuberi kau suara
Kau rampok jiwaku juga
Kuberi kau percaya
Tapi kau berfoya-foya

Kukira kau mengabdi
Nyatanya malah menyakiti
Kau tega buang nurani
Tugas suci dikhianati

Di mana-mana Togog
Togog di mana-mana
Republik, Republik Togog
Pencuri di mana-mana

Republik Togog, Republik Togog
Memaksa rakyat semakin goblok
Republik Togog, Republik Togog
Dan masa depan di dalam batok

Aku berteriak; Lawan! Tolak! Tolak!
Aku berteriak; Lawan! Tolak! Tolak!
(Republik Togog, Produksi Ke 103 Teater Koma)

Togog membungkus dirinya menjadi orang bijak. Berpura-pura menjadi Tejamantri yang rajin berderma, berhati suci, titisan raja dewa, menjaga tingkah laku dan tutur kata. Padahal, jauh di dalam sana Togog tetap saja Togog. Licik, culas, jahat.

Togog, yang mata-mata kerajaan Gilingwesi ini akhirnya mampu memperdaya Samiaji, raja Amartapura. Togog tidak sendiri, Kalika yang asisten pribadi Durga, ratu sakti dari Setra Gandamayit juga memendam keinginan yang sama; mengacak-acak ketentraman Amartapura.

Untunglah, Drupadi istri Samiaji yang cantik dan setia akhirnya membuka tabir si Togog. Dengan bantuan Panakawan, yakni Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, juga Sri Kresna, Amartapura akhirnya berhasil selamat dari kehancuran. Jimat kalimasada, pusaka para Pandawa berhasil direbut dari tangan Togog. Amartapura pun kembali tersenyum.

Menyaksikan Republik Togog seperti melihat cermin besar, sangat besar, dan bayangan kita ada di dalamnya. Togog dengan banyak rupa, peran dan jabatan telah menjelma dalam skenario kehidupan kita sehari-hari. Togog itu dekat, kita melihatnya di layar televisi, di surat kabar, di forum-forum diskusi, di sampul majalah.

Togog yang berpura-pura sakit setelah kasusnya dilimpahkan ke kejaksaan (sakit mungkin karena gula yang justru diimpornya sendiri), Togog yang memberangus pers dengan mudahnya (Jadi lain kali, kalau tidak senang dengan pemberitaan pers, buat onar saja, rusak kantornya, pukul pemimpin redaksinya, dan tuntut mereka dengan tuduhan menyiarkan suatu berita atau pemberitahuan berita bohong yang menimbulkan keonaran di kalangan rakyat. ANEH!).

Togog yang beraksi serupa dengan tikus, menggerogoti pundi-pundi uang yang mestinya ditujukan untuk kesejahteraan. Membuang muka, tidak peduli rakyatnya kurang makan, mengais rejeki hingga meninggalkan kampung mereka ribuan kilometer dan menemui ajalnya karena jatuh dari apartemen atau dianiaya majikan. Togog yang menciptakan pendidikan semakin tidak terjangkau untuk orang papa. Togog pasti juga menulikan telinganya, hingga tak mendengar kalau di negeri ini seorang Heryanto, siswa kelas VI SD yang berusia 12 tahun berniat mengakhiri hidupnya setelah ibundanya tidak mampu memberi uang Rp2.500 yang diperlukan untuk membayar ekstrakurikuler sekolahnya di Garut.

Dan, o ya, saya hampir lupa, tapi kita punya Togog yang berderma Rp40 milyar (sekali lagi Rp40 milyar), ke yayasan antah berantah. Togog yang baik hati ini sekarang dengan santainya berlenggang kangkung. Tebar senyum di sana-sini.

Ada lagi Togog-Togog, yang semula berseteru karena yang satu jelas-jelas semestinya menyidik yang lain dalam kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia, tapi apa yang ada. Keduanya justru bergandengan tangan, teramat sangat mesra dan maju menjadi calon pemimpin negeri ini. Miris.

Dengan berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus Togog yang mewarnai kehidupan berbangsa, saya jadi tergelitik untuk bertanya, benarkah kita sudah merdeka?

» Diletakkan dalam General oleh atta pada 17:54.

kembali ke atas

18 komentar
untuk Republik Togog

  1. iwan

    pada Monday, 16 August 2004 pada 7:39 pm:

    sudah atuh, kita teh sudah merdeka. hanya kita teh terlalu sering melihat ke orang lain, ntah kesalahannya, kelemahannya, dan berentet ke ke yg lainnya.

    sementara becermin untuk melihat diri sendiri sangat jarang dilakukan. kalaupun terpaksa melakukan itu, eh malah cerminnya dibelah karena memang si empunya muka buruk rupa!

  2. pada Tuesday, 17 August 2004 pada 1:55 am:

    lagi belajar untuk ‘merdeka’

  3. pada Tuesday, 17 August 2004 pada 5:28 am:

    wah renungan bagus di hari `kemerdekaan`. tumben serius yahhh..:)

  4. pada Tuesday, 17 August 2004 pada 5:39 am:

    mungkin karena lebih mudah menjadi Togog ketika kita berada dlm posisi yg dimiliki Togog

  5. pada Tuesday, 17 August 2004 pada 6:01 am:

    iya, kayaknya blum 100% gitu yah merdeka nya. jadi malu ama negara tetangga .

  6. koordie_natz

    pada Tuesday, 17 August 2004 pada 7:00 am:

    merdeka..???
    huuhuuu…(menangis se jadi2nya…)

  7. ika

    pada Tuesday, 17 August 2004 pada 9:24 am:

    waduh itu togog anaknya sapa seh ?! ga sopan gituuw ? :D

  8. pada Tuesday, 17 August 2004 pada 11:47 am:

    Headline Detikcom hari ini: “PDIP DAN PARTAI GOLKAR BALI JANJI LUPAKAN DENDAM POLITIK”

    Sekali lagi kita dibohongi mega drama para TOGOG negeri ini….

    siapa ya yang paling mirip dengan Togog yang berhidung besar…..?

  9. pada Tuesday, 17 August 2004 pada 12:54 pm:

    atta, togog teh naon? (baca: togog itu apa sih?). puty taunya togel… :P

  10. pada Tuesday, 17 August 2004 pada 1:27 pm:

    merdeka ?..merdeka dari siapa ?..merdeka atas apa ?..mungkin perlu didefinisikan dulu merdekanya… :)

    saya sendiri merasa tidak merdeka dalam kemerdekaan saya..

  11. pada Tuesday, 17 August 2004 pada 9:23 pm:

    Togog memang ada di mana-mana. dan kita hanya bisa menontonnya dengan hati yg teriris.

  12. pada Wednesday, 18 August 2004 pada 7:54 am:

    haloo.. nama saya togog, saya masih kelas dua es em pe. saya memang jahat. kepada teman-teman yang bersedia membunuh saya, bunuhlah saya.. tapi, masalahnya, dari 10 manusia di negeri ini, 9 diantaranya adalah togog bersaudara.. mmmm gimana ya? berani nggak bunuh saya…? hanya Tuhan yang bisa menghentikan saya ….. (heheheh.. ngelantur)

  13. qky

    pada Wednesday, 18 August 2004 pada 7:55 am:

    untung kita tinggal di republik Indonesia, bukan di republik Togog….. katanya :P

  14. eyi

    pada Wednesday, 18 August 2004 pada 12:42 pm:

    katanya kemerdekaan itu emang ga pernah berhenti diperjuangkan, ta.

  15. pada Wednesday, 18 August 2004 pada 2:12 pm:

    merdeka?
    itu merk kue donat kan?

  16. pada Saturday, 21 August 2004 pada 4:57 pm:

    jangan telat lagi ye ses.. hahaha.
    tgl 22 besok nonton lagi ta..? tilpun2 ye.
    otreeh. :)

  17. didit

    pada Tuesday, 7 September 2004 pada 6:51 am:

    kata seorang teman saya: togog itu adiknya semar. dia juga salahsatu maha dewa yang menguji manusia dengan kejahatan…
    kalau togog jahat dia sebenarnya cuma memberikan teladan buruk yang tidak seharusnya ditiru.

  18. pada Thursday, 20 September 2007 pada 7:37 am:

    […] Tokoh ini pernah juga dipentaskan oleh Theater Koma, dalam pementasannya berjudul Republik Togog. Dijelaskan oleh Arianti dalam Negeri Senja dalam tulisannya Republik Togog, dikatakan sebagai berikut : Togog membungkus dirinya menjadi orang bijak. Berpura-pura menjadi Tejamantri yang rajin berderma, berhati suci, titisan raja dewa, menjaga tingkah laku dan tutur kata. Padahal, jauh di dalam sana Togog tetap saja Togog. Licik, culas, jahat. […]

Subscribe to comments atau TrackBack untuk Republik Togog

Tinggalkan Komentar







Kredit

© Negeri Senja | Ditenagai oleh WP 2.3.1. | Tree oleh Headsetoptions, tema minimal berbasis HyperBallad | Kandungan: XHTML + CSS | Ke Atas