Thursday, 9 September 2004
Dan asap itu membumbung, tinggi, cendawan di langit selatan Jakarta, Kamis pagi ini.
Saya baru saja memasuki pelataran Kafe Tenda Semanggi saat cendawan itu datang. Saat tapak kaki saya menjejak halaman sebuah kafe, tempat acara peluncuran program promosi baru salah satu vendor ponsel, yang saya dapati adalah belasan wartawan yang berdiri, menatap langit.
Dan, setelahnya kesibukan kecil terjadi, beberapa dari mereka sibuk dengan ponsel, menelepon anggota keluarga, ditelepon redaktur, menghubungi sahabat, menerima dan membalas sms. Tapi acara yang sudah berjalan, tidak dihentikan. Belum ada perasaan kelabu di hati saya, mungkin karena informasi mengenai cendawan di langit Jakarta juga masih simpang siur. Hingga, satu teman wartawan dari sebuah portal berita mengabarkan apa yang sebenarnya terjadi. “Apa lagi Tuhan?,” saya berujar pelan.
Setelah acara tadi selesai, saya bergegas kembali ke kantor. Melihat situs-situs penyedia berita terkini, turun ke bawah, makan siang yang amat sangat tertunda, chatting dengan beberapa teman, dan…. adddduh, kenapa ada nama si Ollie di situ, di daftar korban RS MMC. Saya telepon Ollie, suaranya pelan. Untungnya Ollie sudah di rumah. Setelah itu saya hubungi eyi (tidak diangkat honey, tapi dari sherni saya tahu kamu baik-baik saja), sherni dan dien , (Oma juga tidak mengangkat telepon. 7 jahitan? tapi Oma mengaku tidak apa-apa. Saya jenguk ya Oma), juga beberapa teman lagi yang saya ingat berkantor di Kuningan.
Saya menarik nafas lega. Saya masih mendapat pesan pendek dan mendengar suara mereka di ujung telepon. Ada rasa syukur yang sangat.
Tapi tidak semua menarik nafas lega seperti saya. Beberapa orang pagi tadi keluar dari rumah mereka, beraktivitas seperti hari-hari kemarin, mungkin tersenyum pada anggota keluarga, merencanakan apa yang akan dikerjakan di akhir pekan yang panjang nanti, menghabiskan segelas susu, melahap sarapan pagi, membayangkan pujaan hati, menahan gusar karena macet. Beberapa orang yang melintasi Rasuna Said, menatap langit di hari terakhir dalam kisah yang mereka untai. Tidak pernah ada esok untuk mereka, karena pagi ini, mereka pergi bersama cendawan …. Kepergian mereka pasti menuai duka yang dalam dari keluarga, teman dan sahabat yang ditinggalkan.
Malam ini saya ingin pulang cepat. Sampai ke rumah. Minum teh botol, mencium kening ibu saya, berbicara halus pada kakak saya (komunikasi kami memang tidak sempurna, rasanya setiap hari ada saja yang diributkan), menghabiskan pulsa dan menelepon laki-laki dengan semburat jingga, menyapanya di sela-sela kesibukannya mengolah naskah dan lay out. Malam ini, lewat apa yang saya lakukan, saya ingin ketiganya tahu, bahwa saya menyayangi mereka sangat…
Saya bisa saja menjadi salah satu dari orang-orang yang pergi bersama cendawan. Menemui ujung hari tanpa sempat berbicara kepada orang-orang tercinta.
Wednesday, 8 September 2004
Rasa ingin tahunya sudah dapat dibaca sejak saya mencium punggung tangannya. Rasa ingin tahu yang bersumber dari tas kertas ukuran sedang yang saya jinjing. Tapi, dia sabar menunggu hingga ritual saya tuntas. Ritual yang dilakukan setiap malam. Mengganti pakaian kerja dengan t-shirt rumah, celana pendek, menjepit rambut, menuju lemari es, minum teh botol, membersihkan muka, mencuci kaki dan tangan.
Benar kan, saat kami duduk bersama di ruang tengah, dan isi tas kertas tadi muncul, satu persatu pertanyaannya mengalir.
“apaan nih dek?”
komputer saku — jawaban ini lebih aman, tidak akan berbuntut pertanyaan lagi. Menjawab pertanyaannya dengan Personal Digital Asisstant atau Pocket PC, takutnya malah akan membuatnya bingung
“buat apa?”
buat nulis — saya keluarkan stylus dan masuk ke menu Pocket Word. Dengan letter recognizer, saya tulis beberapa abjad.
“Wah …” dia seperti kehabisan kata
Saya sodorkan stylus dan perangkat digital berprosesor 400 Mhz Intel Xscale itu. Ia mulai mencoba menulis nama saya. Melihatnya di layar. Tersenyum.
“Kaya’ sabak, dulu belajar nulis pakai sabak, mirip kaya’ ini nih”
Selanjutnya, dua orang perempuan, duduk bersama di ruang tengah. Yang satunya sesekali bertanya, yang lainnya berusaha menjawab. Beberapa bulan lalu, adegan serupa dengan setting rumah mungil ini juga terjadi.
“HA? ada tivinya?”
bukan tivi, ini cuma video klip
“suaranya bagus ya, terus tetep bisa buat nelepon kan?”
hehehehehehe. ini kan handphone, ya tetep bisa buat telepon. video dan MP3 ini kan cuma pelengkap aja, biar nggak bosen.
“Hebat ya, MP3 ini kaset kan?, dikecilin gitu?, muternya di bagian mana ya?”
saya tergeragap dan kehabisan kata
Saya ingat, perempuan selepas paruh baya ini juga memberondong saya dengan pertanyaan saat pertama kali mendengar nada dering polyphonic, saat saya bertukar gambar via Bluetooth, saat saya belum juga menghabiskan semangkuk sup karena sibuk bercakap-cakap lewat Messenger dari peranti lunak yang saya tanamkan di ponsel. Dia juga tampak antusias saat mulai mencoba mengabadikan gambar bergerak hanya dengan berbekal ponsel. Ah, dia selalu begitu. Penuh rasa ingin tahu. Satu sifat yang, kelihatannya, menitis pada darah saya.
Tapi, tidak semua pertanyaannya bisa terjawab (Saya sampai berpikir perlukah menyebut Danish Harald Blåtand, saat kami bercakap-cakap tentang Bluetooth), karena tidak semua teknologi itu juga saya kuasai.
Baginya waktu bergerak sangat cepat. Satu per satu teknologi dengan wujud baru datang. Dulu, televisi dengan remote control saja sudah cukup menakjubkan untuknya, tapi sekarang… kerap kali ia menemukan hal baru. TV Plasma, layar datar, pemutar DVD yang makin ramping, pemutar musik portabel yang sanggup menampung hingga ribuan lagu (duh, saya masih menyimpan harap pada si mini yang cantik ini). Informasi tentang teknologi kadang menyapanya lewat media atau tak sengaja dilihatnya saat belanja bulanan dengan putri bungsunya. Teknologi melaju dan bergerak bersama dengan waktu, sesekali menuai pertanyaan yang kemudian dilontarkannya.
Sejujurnya, menatap sosoknya hari demi hari juga membuat saya menyimpan satu pertanyaan. Kira-kira teknologi macam apa yang di built-in kan dalam sistem tubuhnya? Teknologi macam apa yang mampu menopangnya sendiri, menatap ke depan dan mengubur masa lalu tanpa dendam, meminggirkan kepentingannya dan memusatkan tenaga dan pikirannya hanya untuk kebaikan bersama. Teknologi macam apa yang membuatnya tegar, mengayuh biduk, menjinakkan ombak hidup yang kadang menerpa, membesarkan kami, saya putri bungsunya dan kakak laki-laki saya, dalam naungan kasih sayang yang tak pernah putus, dalam sabar yang tak pernah berhenti, dan hangat yang selalu terjaga.
untuk Ma’e, ibu saya tercinta, ditulis dengan rasa terima kasih yang dalam
Thursday, 2 September 2004
Duduk di rumput, sesekali tertimpa sinar matahari menjelang senja, menatap gelak, bertepuk tangan, melontarkan canda, memeluk sahabat, berbagi tawa, menyapa teman, berkumpul, bercerita, melepas penat, mengizinkan angin membelai tiap-tiap helaian rambut…
Hmmm… kenapa? masih kurang lengkap?
Akan saya tambahkan dengan; musik gambus, barongsai, tabla India, Liong, wayang golek Bang Tizar Purbaya, pencak silat, pemutaran film tempo dulu (Jakarta di tahun 1930-an, saat trem masih melintas di tengah kota, sado mengangkut penumpang, jalan masih lengang, Jakarta masih terlihat ramah), dan band Gusrak- band spesialisasi lagu-lagu Betawi.

Kalau masih kurang lengkap, Minggu itu juga diwarnai dengan hadirnya wajik, dodol -yang diputar dengan tenaga yang berlimpah- di atas penggorengan besar, kue satu, buah buni, gohok, kue cucur, nasi ulam lengkap dengan semur tahu dan telur, rujak buah, kue rangi, sagon, asinan betawi, nasi kebuli, gado-gado, sate kambing, sekoteng dan BIR PLETOK!. Untuk saya yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan Betawi, bertemu dengan aneka pernak-pernik tadi, rasanya seperti masuk ke dalam mesin waktu dan kembali ke beberapa tahun silam.
Aduhhh, kenapa? masih saja kurang lengkap?
Oh ya, saya ingat, Minggu itu juga tanpa sengaja saya bertemu dengan banyak orang. Ada narasumber saya dari satu penyedia jaringan yang datang dengan keluarganya, ada satu narasumber lagi dari vendor ponsel yang datang bergerombol bersama rekan-rekan gaulnya, ada Usep- siswa satu sekolah fotografi- teman seperjalanan sewaktu saya mengikuti Wisata Bahari (Huhuhuhu, saya sempat lupa nama si Usep ini, padahal Usep dengan ramahnya menegur dan menanyakan kabar saya), juga teman-teman yang beberapa bulan lalu saya jumpai dalam perjalanan Krakatau. Ada adik kelas saya (”Maaf, ini Kak Atta bukan ya?”) dan beberapa jurnalis yang saya kenal sedang sibuk bekerja (Hey, It’s Sunday :D). Teman blog saya yang ramah ini juga terlihat bekerja dengan riang gembira ditemani kameranya.
Masih kurang lengkap juga ?!
Minggu malam itu bulan bersinar terang, dan orang-orang membentuk reriungan, beralaskan rumput, mandi cahaya bulan di penghujung Agustus.
Tentu tetap kurang lengkap bukan?
Pasti. Karena saya belum menyebutkan dengan siapa saya menghabiskan satu hari yang menyenangkan itu, satu Minggu yang lengkap yang saya lewati bersama Desy (Hai, lama sekali rasanya kita tidak bertemu ya Bu?), Balq (Gambus ternyata benar-benar menyenangkan ya? Ya Salaaammmmm :D), Shanty (Batik yang dipakai hari itu bikin kamu tambah manis) dan Dien (Ini kali pertama kami bertemu dan perempuan yang cantik ini benar-benar menyenangkan. Lucu dan jenaka. Tahu julukan apa yang dia beri untuk saya? Di rumah senjanya dia menulis, “Nona satu ini mirip kelinci batere XXX yang tidak mengenal jeda, omongannya, cara berjalannya”. Saya… si kelinci batere XXX :D).
Dan malamnya saya juga bertemu dengan rombongan tukang lenong.
Bagaimana? Minggu yang lengkap bukan? Heritage Food in Heritage City, sinergi antara milist Jalan Sutra dan milist Sahabat Museum, di Gedung Arsip Nasional, membuat Minggu saya pekan lalu menjadi lengkap, sangat lengkap.