Wednesday, 10 November 2004

Halo…

Menjelang pagi. Sebelum fajar tiba. Saat dingin turun. Dan udara terasa bersih. Aku membungkuk, mengambil ponsel, menghapal kembali nomor yang berdiam di kepala, memencet keypad numerik, satu per satu…

Setelahnya nada sambung terdengar. Ah, nomor yang satu ini tak pernah sibuk. Siap dihubungi kapan saja. Dukungan jaringan yang kuat tidak lagi menuai blank spot (membuat pertanyaan yang hingga kini belum terjawab; kira-kira berapa total BTS yang layanan itu miliki ya?). Alhasil, di mana pun si penelepon berada, layanan ini bisa dicapai dengan mudah.

Tak lama menunggu, nada sambung berhenti. Berganti dengan suara penerima telepon menjelang pagi. Wow, cepat sekali. Tidak seperti layanan lain, yang tak jarang membuat kita terkantuk-kantuk, mendengar musik selama menunggu dan menggerutu. Tapi, ini tidak. Layanan yang satu ini beda. Penerima telepon menjelang pagi tidak berlama-lama membiarkan nada sambung mengisi indera dengar. Penerima telepon menjelang pagi tidak berlama-lama membiarkan aku menunggu.

Penerima telepon menjelang pagi mengucap salam : “Halo… selamat menjelang pagi”.

Setelahnya, ganti aku yang bersuara : “Halo… bisa bicara dengan Tuhan”.

Dan percakapan menjelang pagi dimulai. Antara Zat Pemilik Hidup dan makhluk ciptaan-NYA. Antara yang kekal dan yang tidak kekal. Antara yang Maha dan yang memohon kasih Sang Maha. Percakapan menjelang pagi, tentang mimpi masa depan, tentang hidup, tentang harap juga jalinan doa untuk orang-orang terkasih.

terinspirasi oleh status YM seorang teman baik. “Halo… bisa bicara dengan Tuhan” dipilih gadis manis yang periang, jurnalis di salah satu tabloid komputer, untuk bertengger di samping accountnya selama beberapa saat. Untuk Ajeng, terima kasih :)

30 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 8:04.

kembali ke atas

Wednesday, 3 November 2004

Kota di Timur

kota di Timur
ladang senja yang siap dipanen
dan Sepinggan yang jingga
laksana perempuan ramah yang merentangkan tangan, pelukan berbuah rasa nyaman;
(tak lagi berbisik “aku menunggumu”, Sepinggan -perempuan yang menyunggingkan senyum itu- kali ini berucap “roda nasib akhirnya mempertemukan kita kembali”)

Mungkin singgah sejenak
ke tepian Melawai
dan ombak kecil-kecil; hangat pulau Tukung yang siap direngkuh
bola merah bundar di angkasa; air keperakan

atau ke bukit
tempat rumah-rumah cantik bercat putih
dan kilang minyak di tepi teluk
genit lampu kota saat gelap mengganti terang

Kota di Timur
esok pagi
dan langit biru
gugusan mega putih bersenandung

Saya pergi. Hanya sebentar. Burung besi yang saya tumpangi akan meninggalkan Jakarta esok pagi. (saya tidak terbiasa bangun pagi. setelah subuh ada waktu untuk tidur kembali. jadi jangan heran kalau penerbangan pagi, selalu membuat saya cemas. tapi saya punya ibu yang sigap. sangat sigap. dan penerbangan pagi bukan lagi momok yang menakutkan). Karena esok masih berpuasa, tidak ada ritual mengasyikkan di bandara; penerbangan pagi, secangkir coklat panas pagi, koran pagi dan duduk di sudut :)

Saya pergi. Hanya Sebentar. Adakah salam yang ingin kalian sampaikan pada perempuan ramah yang merentangkan tangan juga pelukan berbuah rasa nyaman? Pada dia… Sepinggan yang jingga.

22 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 11:38.

kembali ke atas


Kredit

© Negeri Senja | Ditenagai oleh WP 2.3.1. | Tree oleh Headsetoptions, tema minimal berbasis HyperBallad | Kandungan: XHTML + CSS | Ke Atas