Saturday, 19 February 2005
Seren Taun
Fuaton. Pernah mendengar kata itu? Fuaton lekat dalam kehidupan masyarakat Desa Oeolo dan Bisafe. Setiap menjelang musim tanam, penduduk desa yang bermukim di wilayah Kecamatan Mio Mafo Barat, Kabupaten Timur Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur ini melaksanakan Fuaton, upacara meminta hujan sekaligus memohon berkah agar mereka mendapatkan hasil yang lebih baik di musim panen mendatang.
Tidak hanya di Desa Oeolo dan Bisafe, upacara adat juga menjadi bagian dari kehidupan masyakat Tengger. Dalam setahun, masyarakat Tengger merayakan 6 ritual adat. Salah satunya adalah Karo, upacara yang diadakan untuk memberikan pemujaan terhadap Sang Hyang Widi Wasa dan menghormati roh leluhur. Juga memohon keselamatan bagi warga.
Dalam siklus lima tahunan, penduduk yang berdiam di lereng Gunung Bromo ini memiliki apa yang mereka namakan Unan-unan. Upacara ini bertujuan untuk membersihkan desa dari gangguan makhluk halus dan menyucikan para arwah yang belum sempurna agar kembali ke nirwana.
Terhimpun dari beragam budaya membuat Indonesia kaya akan ritual dan upacara adat. Perbedaan geografis berujung pada kemajemukan istiadat. Saya beruntung bisa menyaksikan salah satu di antaranya.
Oh tidak, saya tidak melakukan perjalanan ke Nusa Tenggara Timur, tidak juga ke Bromo. Upacara adat yang saya lihat hanya berjarak 5-6 jam saja dari Jakarta. Saya dan beberapa teman mengambil paket perjalanan yang ditawarkan salah satu galeri foto di bilangan Menteng.
Seren Taun, begitu tajuk dari upacara adat di desa Cigugur, Kuningan, Jawa Barat ini. Tahun ini, Seren Taun mulai berlangsung sejak Sabtu, 29 Januari atau 18 Rayagung 1937, bulan terakhir pada sistem penanggalan Sunda. Puncak Seren Taun jatuh pada hari Rabu, 02 Februari atau 22 Rayagung.
Seren Taun menjadi penanda dari eratnya jalinan para penduduk desa. Mereka bekerja bersama-sama mempersiapkan kelengkapan upacara. Tidak hanya melibatkan warga yang tinggal di Cigugur saja, upacara adat tahunan ini juga dipadati oleh warga yang datang dari di Bandung, Sumedang, Garut dan Cirebon. Selain upacara adat, Seren Taun juga diselingi oleh atraksi kesenian dari beragam daerah.
Dan di Sabtu menjelang Subuh, udara dingin desa Cigugur Kuningan, Jawa Barat menyambut kami. Dingin yang segera terpatahkan oleh wajah-wajah ramah penduduk desa.
Pagi harinya, tak lama setelah fajar tiba, Pesta Dadung yang berlokasi di Situ Hyang, sebuah kawasan pebukitan yang dikelilingi bebatuan, menandai dimulainya ritual Seren Taun.
Inti dari Pesta Dadung adalah membuang hama. Penggunaan Dadung atau tambang besar yang terbuat dari ijuk, mengekspresikan rasa terima kasih masyarakat kepada anak gembala.


Nyanyian yang berisi permohonan berkah, agar petani, gembala, ternak dan sawah diselamatkan dari mara bahaya, menjadi pembuka acara ini. Setelah itu, barulah hama sawah dibuang ke lubang di Situ Hyang, yang konon sejak dahulu memang menjadi tempat membuang hama.

Pesta Dadung diakhiri dengan joged. Satu ungkapan kegembiraan untuk menghibur petani yang selama setahun bekerja memeras keringat, mengolah sawah dalam terik dan hujan.

Menanam bibit pohon juga menjadi bagian dari Pesta Dadung. Satu bentuk keramahan dan kecintaan penduduk pada alam, yang sehari-hari menopang hidup mereka. Siangnya setelah Pesta Dadung usai, makan bersama di Situ Hyang membawa kenikmatan tersendiri. Kembali wajah-wajah tersenyum penduduk desa hadir. Ramah. Tulus.

Tidak hanya berhenti di Pesta Dadung, keesokan harinya pusat kegiatan berpindah ke kolam renang desa Cigugur. Di akhir pekan, selepas tengah hari, penduduk desa berkumpul dihibur oleh Nyiblung, musik yang dihasilkan dari tepukan-tepukan tangan di air kolam. Musik air. Tertawa. Sorak. Tepuk tangan. Ramai.
Sayang, kami tak bisa meneruskan masa tinggal di Cigugur. Setelah Nyiblung, perjalanan pulang kembali ke Jakarta terpaksa ditempuh. Kami tak sempat menyaksikan upacara puncak dari Seren Taun. Satu ritual berupa rasa syukur dan kebahagiaan warga Cigugur pada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kasih dan berkah yang mereka terima sepanjang tahun. Juga permohonan agar Tuhan selalu melimpahkan kesuburan untuk tanah mereka, berlimpahnya panen dan dijauhkan dari bencana di tahun mendatang. Upacara adat yang merupakan persinggungan ranah religi dan tradisi.

Di Minggu sore yang cerah, kami tinggalkan semarak pesta rakyat, senyum ramah penduduk desa, eloknya pebukitan, juga hijau dan harum Cigugur…
