Sunday, 6 February 2005

Teman Lama

Beberapa malam lalu abang datang. Saya melihatnya dalam gelap. Samar-samar. Tapi saya tahu itu abang. Dia berdiri. Agak jauh dari tempat saya. Tapak kaki laki-laki dengan semburat jingga itu perlahan bergerak, menipiskan jarak antara kami. Semakin dekat. Hingga akhirnya saya mampu melihat lekuk wajahnya. Beberapa malam lalu abang datang dalam bunga tidur, dalam mimpi, dalam rintik ritmis yang turun selepas tengah malam.

Hingga beberapa malam sesudah mimpi itu datang, saya putuskan untuk mengambil ponsel, mencari namanya dalam daftar, mendengar nada panggil dan … suara itu

- halo
+ hai. ini atta
- nomor baru?
+ nyoba promo aja. lumayan turun tarif.
- gimana kabar?
+ baik. eh aku ke solo minggu depan
- oh ya? liputan?
+ enggak. jalan-jalan aja. sekalian liat grebek lawu di candi sukuh. ada reuni kecil-kecilan juga sama anak-anak yang masih di solo
- salam ya.

percakapan pun bergulir. tentang pekerjaan. tentang balikpapan. tentang hujan lebat. tentang jakarta. tentang hal-hal remeh yang mengundang tawa. tentang ke-redaktur-annya yang menuai kesibukan setiap malam. tentang kebosanan yang belakangan makin sering datang. tentang…

- aku jatuh cinta. hahahaha. nggak juga sih. belum. atau… (ia terlihat kebingungan merangkai kata)
+ terus terus …
- ya belum apa-apa sih. baru sampai pada taraf senang melihat aja.

dan ia bercerita. tentang gadis manis di lantai bawah. tentang kenekatannya mendatangi rumah ’sang target’ (aduh, istilah ini hiperbola sekali) di malam akhir pekan yang baru saja lewat. tentang rajutan merah jambu yang diuntainya dari hari ke hari…

- kamu gimana?
+ ya gitu deh
- hehehehe. kamu jatuh cinta juga? (meski tak bertatapan, saya dapat menangkap kejahilan yang tersirat di matanya)
+ tadinya enggak, tapi ternyata iya. tapi…
- dan kamu tiba di satu detik tanpa suara, ketika waktu membeku, dan kamu sadar kalau dia orangnya
+ kacrut

dan ganti saya bercerita. tentang laki-laki dengan sabit di matanya. tentang perasaan membuncah. tentang kupu-kupu dalam perut yang menari saat saya mendapati sosoknya. tentang dia yang dua kali lebih tampan saat berada di balik kamera. tentang rajutan merah jambu yang mungkin tak pernah usai.

- hahahahahahaha. radar kamu kurang tinggi sih.
+ mana aku tahu kalau dia punya seseorang.
- terus… kamu nggak apa-apa kan?
+ ya apa-apa lah. tapi dibawa nggak apa-apa aja.
(setelahnya kami tertawa bersama)

malam semakin tua. kami masih bertukar kisah. sesekali tergelak. atau diam dalam hening waktu. merasakan betapa kami akhirnya berjalan menurut arah mata angin yang kami ambil di persimpangan pada tahun yang lalu. kami, berdua, mulai belajar menemukan kembali letupan-letupan kecil di hati, jatuh cinta, juga menemukan beraneka hal baru dalam hidup. mewujudkan mimpi-mimpi setelah cetak biru hasil revisi. dan kami bergerak, meninggalkan kisah yang pernah kami untai bersama.

*****

Kalau bisa saya ingin abang datang kembali. Dan tapak kaki laki-laki dengan semburat jingga itu perlahan bergerak, menipiskan jarak antara kami. Semakin dekat. Hingga akhirnya saya mampu melihat lekuk wajahnya. Tapi saya tak ingin abang datang dalam samar. Saya ingin abang datang dalam nyata.

Dan kami duduk di bangku yang catnya mulai pudar di taman kota. Kami tak lagi berpegangan tangan, karena masa kami telah usai. Saat sore selepas hujan. Dan langit biru bersih. Teratai yang mekar di kolam. Dan berbagi tutur. Tujuh tahun mengenalnya mengantarkan saya pada satu kesimpulan; abang teman bicara yang menyenangkan.

Dan di sore selepas hujan itu, saya akan melangkahkan kaki dengan ringan, dalam balutan cardigan putih, bersenandung kecil, membiarkan rambut saya terurai, merasakan udara halus berhembus, setelah hujan mencuci bumi.

Jika seseorang bertanya, hendak ke manakah saya, maka saya akan menjawab dengan tersenyum…

“ke taman kota, saya akan bertemu dengan teman lama”

» Diletakkan dalam General oleh atta pada 10:28.

kembali ke atas

10 komentar
untuk Teman Lama

  1. pada Thursday, 10 February 2005 pada 9:03 am:

    waduuuu…hhhh…;p

  2. pada Thursday, 10 February 2005 pada 12:56 pm:

    met liburan, mbak atta..
    hehe.. cinta lama bersemi kembali kah?

  3. pada Thursday, 10 February 2005 pada 5:19 pm:

    simpati turun tarif nikmat banget emang!

  4. sa

    pada Thursday, 10 February 2005 pada 5:40 pm:

    ooo… gitu to *manggut2*

  5. pada Thursday, 10 February 2005 pada 7:34 pm:

    bagaimana aku bisa bersaing dengan masa lalu?

  6. pada Friday, 18 February 2005 pada 11:20 pm:

    teman lama = pacar lama….;)

  7. pada Monday, 21 February 2005 pada 1:08 pm:

    jadi ingat dulu daku pernah dipanggil Abang.
    Dan cerita lamaku pun juga sudah berakhir. Sudah setahun lebih kumulai cerita baru yg lebih indah.

  8. pada Monday, 21 February 2005 pada 5:17 pm:

    untaian kalimat mu tak berubah dari pertama kali aku mengunjungi negeri senja. tetap atta .. tetap sejuk dan aku tetap harus selalu mengakhirnya dengan hembusan shhhhh

  9. pada Wednesday, 24 May 2006 pada 5:47 am:

    transamerica

    dishonest.Bierce transcend?Whitmanize studios Edinburgh bidirectional,Emil Assyrian:credit report http://www.bulk-credit-report.com/

  10. pada Friday, 22 June 2007 pada 11:02 pm:

    prescription diet pills by mail

    chairperson worshiped bipeds

Subscribe to comments atau TrackBack untuk Teman Lama

Tinggalkan Komentar







Kredit

© Negeri Senja | Ditenagai oleh WP 2.6.3. | Tree oleh Headsetoptions, tema minimal berbasis HyperBallad | Kandungan: XHTML + CSS | Ke Atas