Tuesday, 2 August 2005
Mesin Waktu
Kemarin sore, di dalam percakapan di kubus maya, antara saya dan seorang teman, tiba-tiba kata itu muncul …
mesin waktu
Teman saya, seorang programmer dengan selera humor yang teramat sangat baik itu berujar;
dia (18:01:07) : kalo ada mesin waktu gua pengen kembali ke masa-masa ada nenek gua
dia (18:01:26): kayaknya tentram kalo udah nyampe rumah dia
Dan saya terdiam sejenak, mencoba mengumpulkan serpihan ingatan. Beberapa bulan lalu, saya sempat berkunjung ke kota di mana ia tinggal. Kami bertemu dan bertukar tutur hingga dini hari.
Di sela-sela percakapan, beberapa kali saya dengar teman saya ini bercerita tentang nenek. Bukan obrolan yang membosankan, karena ia punya segudang gaya cerita yang bisa membuat saya terpingkal-pingkal. Menyenangkan.
Cerita tentang perempuan pembawa damai yang disapa nenek itu kembali hadir dari teman saya, si programmer yang cerdas, sore itu, saat kami tiba di obrolan tentang mesin waktu.
mesin waktu
Apa yang akan kalian lakukan kalau perangkat ini benar ada?
Kalau saya, saya hanya ingin mesin ini mengantarkan saya ke satu masa. Saat-saat terbaik yang pernah datang dalam hidup. Kota kecil, perpustakaan dengan jendela besar, bunga kuning kecil luruh dari pokok pohon, terjaga dari tidur pagi dengan rasa kangen yang utuh, kecupan dalam hujan, kost yang nyaman, rapat organisasi, waktu berkumpul, tak pernah takut menjaring mimpi … apapun itu.
Jadi, saat mesin waktu ini ada, yang akan saya lakukan adalah, mengucapkan kata sandi dan empat angka yang membentuk tahun, ke satu masa, saat-saat terbaik dalam hidup saya, saat-saat menjalani hari dengan ringan, sangat ringan.
Sampai tadi malam bayangan mesin waktu ini masih mendominasi pikiran saya. Tapi pagi ini, saya rasa saya tak lagi membutuhkan mesin waktu. Kembali ke belakang? apa enaknya. Bukankah kenikmatan itu ada ketika kita menemukan begitu banyak kejutan yang diberikan oleh hidup, setiap harinya. Memang tidak semua kejutan meninggalkan bekas yang manis, beberapa bahkan datang dengan torehan getir dan episode biru. Tapi, bukankah di situ letak seninya hidup? Kejutan, perubahan, tumbuh, dari hari ke hari.
Jadi, bukan, bukan mesin waktu yang sekarang saya butuhkan, tapi semangkuk es kacang merah. Yup. Setelah itu, saya akan berbisik pelan, untuk diri saya sendiri, “nggak papa kok, semua akan selesai, dan kembali baik. Pasti.”
untuk teman programmer : terima kasih. meski tak membantu tapi lumayan lah. halah. hehehehehe. dan hai, meski tanpa mesin waktu, kamu bisa menghadirkan perasaan tenteram seperti yang dibawa nenek kapan pun kamu mau.
pada Monday, 19 November 2007 pada 11:41 am:
aku pingin balik ke tanggal 27-10-2007 jam 19:00 karna pada hari itu sangat spesial bagi diri ku dan hidup ku
pada Thursday, 10 January 2008 pada 4:37 pm:
Aku pgn blk ke masa SMA krna msa SMAku kurang begitu indah.
pada Friday, 4 April 2008 pada 11:12 am:
andai sy pny mesin wktu pasti q akan melihat masa depan ku n meminta saran apa yangg harus kulakukan biar hidup bs bahagia n sukses spt masa depan. tapi q percaya suatu saat akan ditemukan
pada Tuesday, 24 June 2008 pada 8:19 pm:
kembali ke masa sd…
masa yg paling indah..
mungkin takkan pernah terulang..
tuhan..
berilah waktu itu sekali lagi…
walau hanya dalam mimpi…
pada Thursday, 9 October 2008 pada 7:04 am:
kalo ada mesin waktu, aku mw kembali ke masa lalu, dimana aku masih tinggal bersama ayah, ibu, hal itu yg paling indah, hidup bersama ayah dan ibu merupakan suatu hal paling indah, tiap malam, aku membayangkan apakah mesin waktu itu akan benar2 ada ?, oya hai namaku billy kelas 2 SMA, aku org yg hdup sebatang kara