Friday, 17 February 2006
Hujan Di Hari Jumat
Saya suka hujan. Sejak dulu. Sore setelah hujan mencuci bumi adalah momen terbaik yang membawa perasaan bahagia. Saya suka hujan; hujan yang turun kecil-kecil saja. Hujan besar kerap membuat saya takut. Hujan besar tengah malam biasanya berujung pada sebuah kecemasan. Entah karena apa. Untunglah saya punya ibu yang sabar. Kadang-kadang kalau tak kunjung terlelap saat hujan besar datang, saya akan bergerak ke kamar Ma’e, ibu saya, dan memintanya menemani saya.
Saya suka hujan. Mandi hujan adalah aktivitas favorit. Masa kecil saya sering diisi dengan acara mandi hujan. Berkeliling kampung, ke teras di lantai dua rumah seorang teman, halaman masjid, atau di depan rumah saja. Selepas hujan, kami, saya dan teman-teman, akan berkeliling kampung membawa botol dan mengumpulkan air dari permukaan daun-daun. Dengan penuh hati-hati, mengisi botol hingga penuh. Kami menyebutnya air suci
Saya suka hujan; hujan yang turun kecil-kecil saja sebab hujan besar kerap membuat saya takut. Hujan di hari Jumat ini misalnya. Saat saya dan dua orang teman selesai menghadiri acara peluncuran penjualan musik digital. Dari tempat parkir sebuah plaza di bilangan Senayan, gemuruh suara angin yang menyertai hujan jelas terdengar. Belum lagi larik-larik petir yang yang datang silih berganti.
Mobil berjalan pelan. Saya duduk di depan. Di samping kanan teman saya memegang kemudi, mukanya terlihat cemas. Satu teman lagi duduk di belakang. Sesekali terpekik; kaget karena suara petir.
Mobil berjalan merayap. Angin kencang meniup batang-batang pohon; bergoyang ke kanan dan ke kiri. Memasuki Jalan Sudirman, barisan kendaraan makin padat.
Sebentar … ada yang tak beres. Mobil-mobil yang ada di jalur cepat satu persatu memutar haluan, masuk ke jalur lambat. Satu bis TransJakarta tak bergerak. Satu bis berbadan besar terlihat kesulitan memutar badannya. Macet bertambah; mobil-mobil bergerak saling mendahului. Semrawut. Ada apa?
Sampai di depan pertokoan Ratu Plaza, kami temukan jawabannya. Batang pohon besar melintang di jalan. Tidak hanya satu, tapi dua batang pohon rebah, tak menyisakan ruang sedikit pun untuk jalur kendaraan.
Angin masih kencang, petir belum berhenti, dan hujan masih lebat.
Teman yang duduk di belakang menghitung berapa batang pohon yang tumbang.
“Satu … ”
Mobil yang kami tumpangi masih bergerak pelan. Jarak pandang menjadi semakin pendek. Di jalur cepat sebagian mobil terjebak. Tak bisa mundur karena di belakang jalan masih terhalang batang pohon yang jatuh, tak juga bergerak maju karena dihadang batang pohon yang lainnya.
“Dua, tiga … ”
“Empat, lima, enam, tujuh”
Satu mobil tertimpa pohon. Untung bukan batang pokok pohon yang menimpa atap mobil itu; hanya ranting-ranting di ujungnya. Semua pohon tumbang, yang masih dihitung teman yang duduk di belakang, ada di jalur cepat.
Tapi tidak semua. Begitu melewati Departemen Pendidikan Nasional, satu pohon tumbang di jalur lambat, batangnya hanya menutupi setengah badan jalan. Iring-iringan mobil menciut dari dua jalur menjadi satu jalur.
“Lihat deh, pohon yang itu udah miring banget,” ucap teman di belakang kemudi.
“Enggak papa, pelan-pelan aja,” ucap saya setenang mungkin, jauh di dalam hati saya berdoa, mudah-mudahan pohon itu masih sanggup berdiri.
Selepas jembatan Semanggi, pemandangan pohon tumbang tak lagi kami temukan. Hanya ranting-ranting yang patah dari ujung-ujung pohon saja. Aliran air agak deras dan membentuk genangan di dekat halte Bendungan Hilir.
Mobil berbelok, meninggalkan jalan Sudirman. Jalan tak lagi ramai. Itu dia gedung kantor. Hujan masih belum reda, angin tetap kencang. Satu pohon tumbang menyambut kami di depan halaman kantor. Begitu mobil memasuki tempat parkir gedung kantor; wajah-wajah di dalam mobil terlihat lebih tenang.
Saya suka hujan; hujan yang turun kecil-kecil saja. Hujan yang teramat lebat kerap membuat saya takut. Hujan di akhir pekan ini misalnya. Hujan yang saya tatap dari lantai tujuh, di gedung tempat saya bekerja. Di barat langit, sesekali petir masih menari. Muncul dengan garis putih panjang; mirip sinar yang keluar dari tongkat sihir dalam dongeng.
Saya sudah menelepon rumah; memastikan ibu saya baik-baik saja, dan baru saja tersambung dengan laki-laki harum hutan, ia sudah di rumah, setelah terbebas dari kemacetan di kawasan Kelapa Gading. “Lihat petirnya tadi enggak? Kalau pas angle-nya bagus banget tuh gambarnya,” ujarnya. Duh, kok ya sempat-sempatnya berpikir tentang sudut pengambilan gambar.
Setelah meneguk teh manis, sejenak saya berdiri melihat titik-titik air yang menempel di kaca, dan mengucap harap; semoga tak ada satu pun yang terluka di sepanjang Sudirman tadi.
pada Friday, 17 February 2006 pada 8:14 pm:
Sama doooong!
Saya juga pencinta hujan. Baik itu hanya rintik2 maupun yang lebat. Sedari kecil, saya selalu berusaha untuk menikmati hujan dengan cara apapun. Mandi hujan, minum air hujan (hehehe!) dan mencium sisa2 bau hujan apalagi kalau ada pelangi…
Tapi sekarang, saya nggak suka sama apa yang diakibatkan oleh hujan. Banjir, tanah longsor, pohon tumbang dan jangan lupa… MACET!
Saya ingin bisa menikmati hujan dan segala keindahannya tanpa merasa was… Seperti di negri aum ini. Bisa hujan super deres tapi saya ngga’ pernah worried…
pada Saturday, 18 February 2006 pada 12:19 am:
lagi banyak hujan petir ya di jkt? pasti sudirman macet banget ya
… di pittsburgh jarang hujan lebat. hujan kecil-kecil, jadi gak perlu pake payung :), tapi tetep kangen jkt, hehe …
pada Saturday, 18 February 2006 pada 4:27 am:
Wah, tadi, dari jendela ruang di ketinggian, tarian petir dan kilat nya memang menakjubkan, sambung menyambung selama kira-kira 1,5 jam. Selepas hujan, udara bersih, dan waktu jalan keluar sekitar tengah malam, indah sekali jalanan Jakarta–lampu-lampu berkilat menimpa aspal jalan yang basah, kekuning-kuningan. Sangat Seno Gumira Adjidarma, ya
pada Saturday, 18 February 2006 pada 5:54 am:
he eh iya…
aku dapet emaul dari temen di jakarta yang cerita ttg hujan gede ini.
duuh..ngeri banget yah….
pada Saturday, 18 February 2006 pada 9:14 am:
wadoh, rumahku di sby, kebanjiran ngga ya? Musti telpon rumah nih *telponrumahajakokpengumumandicomsyyaksayainih*
pada Saturday, 18 February 2006 pada 5:07 pm:
saya tak suka hujan deras. tidak pernah suka
bolehkah tidak suka hujan???
pada Sunday, 19 February 2006 pada 3:20 am:
amsterdam juga mulai hujan stiap hari, rintik-rintik, tapi angin dari laut utara nya bukan main, (berasa wheather report!) really really really miss jkt!
pada Sunday, 19 February 2006 pada 9:59 am:
Teringat masa muda dulu sering main di sungai
pada Sunday, 19 February 2006 pada 11:12 am:
ehm.. terus, jadi di potret gak hujan nya?—->yang suka sama hujan kecil dan besar… apalagi didalam tenda, tengah hutan, sambil nikmatin teh hangat.. (”,)
pada Sunday, 19 February 2006 pada 11:25 am:
sama, sejak kecil suka hujan. bagi aku hujan selalu inspiring. tapi takut petir. so, ngebayangin hujan hari jumat jakarta ngeri juga…
pada Sunday, 19 February 2006 pada 3:47 pm:
mbak atta,aku juga pencinta hujan.. tapi bukan karena irama air yang bernyanyi itu, tetapi karena harum wangi tanah yang menguap saat air pertama yang jatuh dari awan menyapa tanah.. harum, segar, menyejukkan…
jumat itu, aku dan lelaki hebatku itu bergegas lari keluar saat sayup-sayup suara hujan mulai terdengar.. berharap kami bisa menikmati semerbak wangi tanah.. betapa terkejut, ternyata hujan sangat dahsyat ditemani angin besar dan petir..
waktu itu aku hanya termenung: jika hujan seperti ini membuat hatiku bergetar, bagaimana dengan tsunami? lalu terdiam… betapa Allah Maha Besar ya?
pada Monday, 20 February 2006 pada 6:40 am:
hujan. di dalam mobil. norah jones di cd player. pacar di samping. sepanjang jalan turun dari tawangmangu.
i love it
pada Monday, 20 February 2006 pada 11:20 am:
titik, titik hujan.
masih, membasahi.
kala, kau menyapa.
pelangiku.
ingin, ku berlari.
jumpa bidadari.
bawalah aku pergi bersamamu.
bisikkan kisah yang lucu.
nyanyikanlah lagu merdumu.
merah, kuning, jingga dan ungu.
sentuhkan warnamu dalam gaunku.
ingin ku menari.
hingga kau sembunyi.
rindu, pelangiku datang lagi.
pada Monday, 20 February 2006 pada 11:22 am:
ehhhh….sori keburu ngeklik….
kurang ikon centilnya
pada Monday, 20 February 2006 pada 11:23 am:
Halah….ternyata gak bisa
pada Monday, 20 February 2006 pada 11:52 am:
maap tante, jarang maen nih saya
pada Tuesday, 21 February 2006 pada 1:34 pm:
saya suka hujan, apalagi adanya harum tanah itu inget kampong gue… tapi pas lagi ber roda dua hujan bikin runyam, ahhh…manusia kadang gak pandai bersyukur …
pada Tuesday, 21 February 2006 pada 1:55 pm:
hujan.. tergantung seh.. kalo ujannya pas turun ketika gw dah siap-siap pulang kantor, biar kecil ato besar, tetep aja bete..
efeknya seperti sekarang neh.. kepala gw pusing, pilek gara2 ujan mengguyur badan selama perjalanan pulang kerja. hhhh… apa karena umur semakin tua..
pada Tuesday, 21 February 2006 pada 2:10 pm:
tta, kalo ujan mampir aja ke kantor gue … you know it, right? ehehehehe … ketemuan yuk, tta … dah lama nihhh …
pada Tuesday, 21 February 2006 pada 4:10 pm:
idem sama jwban Q…. ketemuan yukk.. tp gag pake ujan2an yaa.. heiehihe
pada Tuesday, 21 February 2006 pada 4:29 pm:
“Love comforteth like sunshine after rain.” -Shakespeare
pada Tuesday, 21 February 2006 pada 5:46 pm:
Hujan disini berarti juga nggak bisa jalan masuk pedalaman kalaunggak pergi dengan kendaraan amphibi atau panser :), secara jalan ksana itu persis pedalaman hutan di kalimantan yang nggak ber-aspal sama sekali.
Kemaren sempat nyeberang ke perbatasan Ivory Coast :).
Monrovia blum banjir seperti di jakarta, sedianya pertumbuhan ekonomi gak dibarengai dengan azas sustainable development, bakal persis seperti Jakarta nantinya..
pada Tuesday, 21 February 2006 pada 8:33 pm:
Mungkin ada baiknya. Kali ini aku tahu pasti alasannya. Tidak harus aku menunggu hujan berhenti.
Aku menikmati hujan. Bukan karena hujan menghapus semua dukaku. Laraku telah terhapus dengan sendirinya, seiring dengan waktu.
Sejak sebulan lalu, aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyebut bahkan menuliskan namanya lagi. Juga seiring jalannya waktu, aku telah menghapusnya dari ingatanku.
Semua kenangan..semua pertanda..kuanggap semuanya hanyalah semu, tidak nyata, dan hanya ada dalam khayalku semata.
Walaupun masa membawanya kembali untukku, aku tidak akan ikut dengannya.
Aku menikmati hujan. Tanpa harus membawa bayangnya di tengah gemericik di luar sana.
Aku menikmati hujan. Walau harus kuakui
kangen..
pada Wednesday, 22 February 2006 pada 7:13 am:
duh tta,
aku seperti baca cerita horor
serem!!!
kalau ujan terus, kasian juga yang jual es ya tta
pada Wednesday, 22 February 2006 pada 8:36 am:
Saya suka main hujan2-an, tapi di sini tidak bisa. Hujan di sini masih 1/10-nya hujan di Jakarta. Kilat saja malu2….
pada Wednesday, 22 February 2006 pada 6:07 pm:
hujan yang luar biasa tapi banjirnya biasa
pada Wednesday, 22 February 2006 pada 7:02 pm:
sebentar…siapa itu laki2 bau harum hutan ? hahahhaa….apakah itu laki2 yang senang menulis juga, senang motret juga. klop banget atta…..so happy for you. tak tau lagi nih mau nulis apa, rasanya semua pengen dibicarakan langsung sama atta…kapan kamu kesini lagi sayang?
pada Thursday, 23 February 2006 pada 11:38 am:
laki-laki harum hutan
untung saja suka bola-nya cuma sebatas nonton, nah kalo hobby juga
main bola yg pasti keringetan..jadinya laki-laki tidak-terlalu-harum
pada Thursday, 23 February 2006 pada 3:40 pm:
tahu ngga siy! saya alergi ama air hujan! kalo kena air hujan kulit pasti gatal2 gitu deh.. hikkss…
pada Thursday, 23 February 2006 pada 11:22 pm:
jadi inget lombok. kalo hujan2 aku seneng duduk diteras sambil ngeliatin orang2 pada keramas pake shampoo botolan *niat banget yak*…hahaha
disini hujannya seperti yang engkau suka, hujan turun kecil2…hmm, serasa mandi disiram oleh shower merk grohe…hihihi. berminat mandi shower disini ta…yuuuk
pada Friday, 24 February 2006 pada 4:32 pm:
hmmm…sekarang sang harum hutan yang kuyup kehujanan ;p
pada Saturday, 25 February 2006 pada 10:01 am:
Saya suka hujan di kampung saya, jikalu hujan pasti ada suara kodok.
Something that I can’t find in Jakarta
Miss My Kodok Sound
pada Saturday, 25 February 2006 pada 4:13 pm:
dulu… waktu saya masih kecil, saya suka kalo jakarta hujan. bau tanah basahnya menyegarkan trus suka muncul pelangi sehabis hujan.
sekarang…saya benci kalo jakarta hujan. banjir, pohon tumbang dan yang pasti macet di mana-mana
pada Saturday, 25 February 2006 pada 9:30 pm:
idem. saya suka hujan. itu rejeki…..
dulu, waktu masih di lapangan, kalo hujan turun malah senengnya muter-muter. mendatangi daerah-daerah yang potensial banjir. ya, kalo bener banjir kan bisa jadi ditulis berita….kekekekeke
pada Sunday, 26 February 2006 pada 4:19 pm:
Miris. Jakarta tenggelam. Sekejab. Apartemen-apartemen ambruk. Jalan-jalan layang berhamburan. Tol Cikampek - Jakarta terbelah. Gedung-gedung perkantoran rata jalan Soedirman. Mobil-mobil ringsek tak bertuan. Amuk badai masih saja mencibir tangis bayi. Darah dan kasih hilang arti. Tuhan, semoga hanya mimpi di tengah rintik hujan larut malam, beri janji berbagi kasih. Sahabat! Terima kasih, engkau ingatkan.
pada Monday, 27 February 2006 pada 2:05 pm:
haloo..hihi lagi blogwalking terus nemu blog kamuu niy..
hmm..i always love rain..
galauu..
pada Tuesday, 28 February 2006 pada 7:46 am:
dulu waktu kecil aku juga suka curi2 main hujan. tapi setelah gede, aku kurang suka hujan. soalnya kasihan klo ngliat org yg kebanjiran.
salam kenal…
pada Thursday, 2 March 2006 pada 6:07 am:
yah…. baru tau sayah, kalo situh gak bisa ngeliat photo bucket

lah kok, diblokirkah? duh, terus pigimana dong?
pada Friday, 3 March 2006 pada 6:15 am:
saya suka hujan .. karena berarti kebanjiran order
pada Friday, 3 March 2006 pada 12:07 pm:
judulnya bikin aku ingat lagu dangdut,”hujan, di malam minggu… aku batal kerumahmu…..”
pada Sunday, 5 March 2006 pada 10:52 am:
yg pasti kalo musim hujan di Bandung mah tambah dingin..
pada Sunday, 5 March 2006 pada 1:54 pm:
Gedung BEM tampak murung ditinggalkan para penghuninya. Kampus sepi. Hanya menyisakan satpam dan anjingnya. Aku duduk sendirian di Pendopo, menikmati hening yang semakin senyap. Sayup-sayup adzan Ashar terdengar di kejauhan, dibalik gedung Direktorat itu terhampar perkampungan dan menyembulkan menara mesjid yang tidak besar. Lama akau duduk di Pendopo. Angin sore menusuk tulang, meriutkan tubuhku yang kedinginan. lalu aku tertidur. Tertidur di Pendopo itu. Pada saat malam menjemput senja aku bangun, dan hujan telah menungguku dari jam lima sore tadi. Uh, dingin banget !!.
pada Tuesday, 19 September 2006 pada 9:38 pm:
Ugh, Hujan….
Eksotis=)=)=)=)