Tuesday, 21 March 2006

Tentang Taman Kota, Kenangan, dan Pelajaran Memaafkan

Kenangan. Sebuah kejadian yang membekas dalam ingatan. Tidak tergerus oleh masa. Kenangan bisa menerbangkan kita, saya dan kalian, ke satu masa. Mengingat setiap detailnya.

Masing-masing orang tentu memiliki kenangan yang berbeda. Ini yang menyebabkan satu tempat, satu lagu, satu film, satu larik puisi, satu benda, satu masakan, satu lukisan, satu … apapun itu, menghantarkan kenangan yang juga berlainan.

Bendungan Hilir misalnya. Buat saya, Bendungan Hilir, satu kawasan di Jakarta Pusat, termasuk halte, pasar, dan getek yang membelah sungai, tak menimbulkan desir apapun. Tak ada kenangan di sana. Tapi untuk Nuke, teman saya, kawasan itu adalah pokok dari kisah yang dirajutnya bersama seorang laki-laki baik hati yang ramah. Jadi, dengan segenap kenangan, memori, yang melekat pada Bendungan Hilir, Nuke dan pasangan memilih tempat ini sebagai lokasi foto prapernikahan. Seru. Pengambilan gambar akhir pekan lalu itu diwarnai dengan tawa dan ya itu tadi, beragam kenangan, milik Nuke. Sesekali perempuan ini menceritakan mengapa Bendungan Hilir terlihat begitu istimewa.

Setiap orang hidup dengan membawa kenangan mereka masing-masing. Nuke, saya, Ma’e-ibu saya, kalian, semua. Ada yang tersimpan rapi di sudut hati, dijaga baik-baik, dan terbuka kembali saat kita melewati satu kejadian yang bisa memancing ingatan tentang kenangan itu. Ada juga yang ditutup rapat-rapat. Lebih baik membiarkannya aus dimakan waktu.

Entah kenapa; malam ini tiba-tiba saya teringat akan satu kenangan; tentang taman kota. Dulu, saya mendatangi taman kota itu secara teratur. Bergantian; saya dan kakak saya menjadi pengunjung setia. Tidak ada jadwal tetap. Kalau saya yang sempat, saya yang akan pergi ke taman kota itu. Kalau saya tak sempat, kakak saya akan pergi ke sana.

Waktu itu umur saya sekitar 11 tahun. Masih dengan seragam putih merah, selepas sekolah, saya akan naik bis Jurusan Grogol-Kampung Melayu, melihat sekeliling, mengingat rutenya, dan berdoa supaya saya bisa berhenti tepat di halte depan taman kota itu.

Begitu bis melintasi bundaran Hotel Indonesia dan masuk ke Jalan Diponegoro saya harus lebih hati-hati. Perempatan Menteng menjadi penanda untuk bersiap-siap, karena setelah itu, satu halte tepat di depan taman kota tujuan saya sudah menanti. Gereja itu juga menjadi penanda. Gereja bercat putih di sebelah kanan tak jauh dari taman kota. Seingat saya, tak pernah satu kali pun saya terbawa bis hingga halte berikutnya. Selalu tepat. Selalu tiba di tujuan; halte depan taman kota. Bisa jadi karena sebelum perjalanan seorang diri ini saya lakukan, saya kerap menemani Ma’e ke taman kota itu.

Begitu sampai di taman kota, saya akan mencari satu sosok. Om, begitu biasa laki-laki yang saya cari itu saya sapa. Ia teman Bapak -ayah kandung saya-. Om akan menyerahkan amplop putih, uang titipan Bapak, pada saya.

Kalau Om belum tiba, saya akan berkeliling taman. Melihat-lihat lukisan yang berjejer di trotoar, duduk di bawah pohon, atau memandangi sekitar. Biasanya Om datang tepat waktu. Dan begitu amplop putih itu berpindah ke tangan saya, kunjungan ke taman kota segera diakhiri.

Jakarta tahun 80-an adalah Jakarta yang ramah. Selalu ada tempat duduk di dalam bis untuk saya, perempuan usia 11 tahun, dalam perjalanan pergi dan pulang dari taman kota. Dan amplop putih itu, saya menjaganya dengan sangat, menaruhnya di tas, dan tak pernah punya niat untuk melihat berapa isi di dalamnya.

Uang dari Bapak itu digunakan Ma’e untuk menutupi biaya sehari-hari. Sejak kedua orang tua saya tidak lagi tinggal seatap, cara ini yang digunakan Bapak untuk mengirimkan uang. Mengapa taman kota yang itu dan tidak taman kota yang lainnya? Karena tempat Bapak bekerja ada di dekat taman itu. Mengapa saya dan kakak yang bergantian ke sana? Karena saat itu Ma’e juga harus bekerja. Jadi kami, dua orang anaknya, menggantikan Ma’e, berkunjung ke taman kota. Terus begitu, hingga satu kali kunjungan itu berhenti. Tak ada lagi taman kota, tak ada amplop putih, dan keluarga kami -minus Bapak tentunya- bertahan hanya dengan hasil kerja Ma’e saja.

Bertahun-tahun setelah itu saya menjadi orang yang gemar menyalahkan keadaan; berandai-andai kalau saja Bapak bersikap seperti bapak-bapak yang lainnya, seperti bapak-bapak teman-teman saya, seperti bapak-bapak yang saya baca di cerita pendek majalah anak yang saya langgani, mungkin keadaan tak pernah seburuk masa itu. Mungkin akan ada dana yang cukup untuk ini, untuk itu, bisa berkembang jauh lebih baik, dan sebagainya. Pastinya ada satu lagi orang tua, tempat berbagi pikir dan kasih.

Saya selalu menghindari pertanyaan tentang Bapak dari teman sekolah. Kalaupun saya menjawabnya, dengan setengah-setengah tentu, wajah saya berubah kecut. Saya mulai memupuk kekesalan pada orang yang saya anggap paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada keluarga kami. Siapa lagi kalau bukan Bapak.

Bertahun-tahun setelah itu;

Hingga …

Saya lupa kapan tepatnya. Kalau tak salah ketika saya akhirnya harus ke Solo untuk kuliah (Meski masa itu; bagian menyalahkan Bapak juga belum berhenti, saya kadang-kadang masih berucap:”kalau keluarga kita punya cukup uang, saya tak akan repot-repot begini, pergi ke kota yang tidak saya kenal, berusaha mendapatkan pendidikan murah, ugh!”).

Tapi akhirnya saya tahu saya salah. Lalu sampailah saya pada bagian berdamai dengan semua. Perlahan-lahan mencairkan kekesalan saya pada sosok yang sebagian dari darahnya mengalir di tubuh saya. Semua datang dari dalam hati karena Bapak memang tak pernah menghubungi kami; sampai sekarang.

Solo adalah tempat terbaik untuk mulai memandang masalah ini dari perspektif yang lain. Jauh dari rumah, bertahan dengan keuangan yang terbatas, dan tetap menemukan kehidupan yang sangat sangat menyenangkan di Solo melempangkan jalan saya untuk satu pelajaran yang diberikan dari hidup.

Dulu, Ma’e - ibu saya, berkata, bahwa hidup itu sebenarnya adalah sekolah. Meski tidak duduk dalam kelas-kelas bersekat, hidup memberikan pelajaran-pelajaran dengan caranya sendiri. Lewat beragam pola. Dan saya tahu, kali ini, hidup mengantarkan saya pada satu pelajaran. Hidup mengajarkan saya tentang memaafkan…

Dan kenangan tentang taman kota itu tentu masih datang. Ia datang ketika saya melewati taman kota itu secara teratur pada malam-malam sepulang kelas foto. Taman itu masih di sana. Terakhir, saya mengunjungi taman itu bersama sekelompok teman, untuk hunting foto. Ada dua air mancur di sana. Pedagang lukisan di trotoar sudah lama digusur. Ada merpati-merpati dengan sangkar tinggi. Dan gerombolan kuntum-kuntum bunga. Selepas senja, lampu-lampu berbentuk kupu-kupu menghiasi taman. Ah ya, ada patung baru di depan taman. Patung seorang pangeran berkuda ini menggantikan patung Ibu Kartini.

Setiap kali kenangan itu datang, serangkaian adegan bergerak di dalam pikiran. Saya melihatnya, kenangan itu; bis Grogol-Kampung Melayu, saya dalam seragam putih merah, amplop putih, senyum Om teman Bapak (yang saya ingat tak sekalipun Bapak menyerahkan amplop putih ini sendiri, selalu lewat Om baik hati teman Bapak). Saya tetap akan melihatnya; kenangan itu, kali ini dengan senyum. Memaafkan, satu pelajaran yang diberikan oleh hidup, membuat langkah saya jauh lebih ringan … :)

» Diletakkan dalam General oleh atta pada 18:04.

kembali ke atas

44 komentar
untuk Tentang Taman Kota, Kenangan, dan Pelajaran Memaafkan

  1. johan

    pada Tuesday, 21 March 2006 pada 6:32 pm:

    —–> Dulu, Ma’e - ibu saya, berkata, bahwa hidup itu sebenarnya adalah sekolah. Meski tidak duduk dalam kelas-kelas bersekat, hidup memberikan pelajaran-pelajaran dengan caranya sendiri. Lewat beragam cara. Dan saya tahu, kali ini, hidup mengantarkan saya pada satu pelajaran. Hidup mengajarkan saya tentang memaafkan… —->

    Duh …. setuju buanget :0

  2. johan

    pada Tuesday, 21 March 2006 pada 6:38 pm:

    Eh … aku juga selalu kalau ngunjuni negeri-senja pasti teringat sesuatu …. walau nggan terlalu nyambung-nyambung amat … Satu buku yang paling berkesan buatku itu judulnya “Sepotong Senja untuk Pacarku”nya Seno … (Bukan Negeri Senja …hehehe …. tapi aku percaya … pasti Seno ada maksud memparalelkan dua ceritanya itu … ) Pertama, buku itu dikasih oleh orang special .. kedua ceritanya bagiku lebih dasyat (nuaaaaaakal imajinya) dari Negeri Senja … :) mending kamu ganti aja nama blog kamu jadi “Sepotong Senja dari Pacarku” .. :)

  3. FFN

    pada Tuesday, 21 March 2006 pada 10:19 pm:

    you go girl! keep shining with your nobel personality… memberi maaf itu mudah, cuma saja tidak semua orang bisa melakukannya.. :) you are truly one of a kind!

  4. pada Wednesday, 22 March 2006 pada 4:31 am:

    Dear Atta, nice one as always. I wish I have that courage :)

  5. pada Wednesday, 22 March 2006 pada 5:14 am:

    tulisan yg menarik :)

  6. pada Wednesday, 22 March 2006 pada 5:18 am:

    Two thumbs up!

  7. may

    pada Wednesday, 22 March 2006 pada 6:18 am:

    kenangan : ada yang diingat sepanjang masa dan ada yang ditutup rapat-rapat, biar aus sendiri - - — > sepakat :)

    memaafkan, karena Allah SWT yang maha segalanya saja mau memaafkan kita

  8. neenoy

    pada Wednesday, 22 March 2006 pada 6:39 am:

    :)

  9. pada Wednesday, 22 March 2006 pada 6:39 am:

    menakutkan na cerita yang kaya gini, bisa KSO2, kelingan sing ora ora :D

  10. rhay

    pada Wednesday, 22 March 2006 pada 7:41 am:

    menelusuri kembali liku-liku jalan lalu, kita akan berjumpa hal-hal tak terduga dalam hati kita. lalu senyum, tawa dan sedikit seringai mengembang, mengingat “kekerdilan” yang pernah dilakukan. lalu dengan perlahan rasa syukur trubus dari pot mungil bernama hati. waktu membawa kita menjauh dari masa silam, namun masa silam tetap menjadi peta lengkap dg legenda. salam buat ma’e tta, jd inget ma’ku juga….

  11. bagas

    pada Wednesday, 22 March 2006 pada 9:34 am:

    memaafkan memang lebih baik ya, lebih menenangkan ;p

  12. pada Wednesday, 22 March 2006 pada 10:59 am:

    seember air hanggat saat mandi pagi atau saat demam, selalu membangkitkan akan masa kecil…

  13. ica

    pada Wednesday, 22 March 2006 pada 12:10 pm:

    iya atta..
    berdamai dengan semua kekesalan,
    memaafkan,
    memang lebih meringankan langkah. SEPAKAT!!!!!
    dan tulisan mu… SELALU indah. =)

  14. pada Wednesday, 22 March 2006 pada 2:48 pm:

    huhuhu terharu bgt bacanya….
    :((

  15. pada Thursday, 23 March 2006 pada 1:29 am:

    kenangan terindah…. :’)

  16. pada Thursday, 23 March 2006 pada 7:42 am:

    hallooo ta…jadi kesini gag? email ku semoga diterima dengan baek..kamu pasti lagi sibukk yah…postingannya panjang..saya bacanya ntar yahh….abis kelarin report dulu yah.

    hugs

  17. pada Thursday, 23 March 2006 pada 10:37 am:

    atta,
    memaafkan lebih baik daripada tidak memaafkan he he garink..;p
    (seperti biasa selalu tidak bisa beri komentar, klu sudah baca tulisan atta :o)

  18. putik samira

    pada Thursday, 23 March 2006 pada 11:18 am:

    …Mengingat masa kecil, kita akan rindu tempat di mana dulu kita pernah bermain, mungkin ada pematang sawah, sungai yang jernih, surau kecil, pohon sawo, pohon jambu atau mangga, dan jalan setapak yang teramat sering kita lewati. Dan atta ingat dengan taman kota…

  19. pada Thursday, 23 March 2006 pada 2:16 pm:

    kita tak pernah bisa minta lahir dari orangtua macam apa. karena pasti ada rahasia yang belum terurai kenapa kita lahir dari mereka. karenanya kita kadang suka memprotes..kenapa oh kenapa

  20. pada Thursday, 23 March 2006 pada 7:36 pm:

    ..ikutan komen ah…
    memang sih, yang namanya hal yang masuk di pikiran kita itu kalau ada kenangan di dalamnya, manis atau pahit itu yang bikin kita menjadi seperti sekarang ini…masa lalu tidak akan bisa hilang, yang ada malah…masa lalau bikin kita jadi lebih kuat, buat ngadepin masa depan

  21. cj

    pada Friday, 24 March 2006 pada 2:42 am:

    wah, seperti biasa, posting yang ok.
    setuju dengan ibunya atta. hidup memang mengajarkan banyak hal. sayangnya kita seringkali lupa untuk terus belajar dan mencoba mengerti hingga kadang berakhir terluka dan balas melukai. dan belajar memaafkan adalah satu hal yang luar biasa. salut untuk atta.

  22. pada Friday, 24 March 2006 pada 1:20 pm:

    —-> Setiap orang hidup dengan membawa kenangan mereka masing-masing. Nuke, saya, Ma’e-ibu saya, kalian, semua. Ada yang tersimpan rapi di sudut hati, dijaga baik-baik, dan terbuka kembali saat kita melewati satu kejadian yang bisa memancing ingatan tentang kenangan itu. Ada juga yang ditutup rapat-rapat. Lebih baik membiarkannya aus dimakan waktu.

    layak untuk disimpen nih tulisannya atta :)
    yuk, hunting foto di rumah mertua :D

  23. Durin

    pada Friday, 24 March 2006 pada 4:09 pm:

    :)

  24. pada Friday, 24 March 2006 pada 5:29 pm:

    atta, tulisannya bagus banget. jadi inget. dulu pernah marah dan benci pada temen cewek yang kuanggap ‘merebut’ pacarku. 4 tahun menyebut namanyapun ogah. sampe suatu hari entah kenapa tiba-tiba gue memutuskan untuk memaafkan dia. duh sejak hari itu langkah terasa ringan. ternyata memaafkan itu memang membebaskan!

  25. dy

    pada Friday, 24 March 2006 pada 5:50 pm:

    Atta, salut buat keberaniannya berbagi…
    Btw, Jakarta tahun 80-an mmg paling top :)

  26. pada Friday, 24 March 2006 pada 7:13 pm:

    ceritamu sungguh haru, bi :)

  27. gre

    pada Saturday, 25 March 2006 pada 6:04 am:

    air kenang menghanyutkan… ;)

  28. pada Saturday, 25 March 2006 pada 4:34 pm:

    ….
    sempet tercekat
    ….
    kamu hebat, jeng, bisa mencapai fase memaafkan seperti itu. pasti berat sekali. dan lebih hebat lagi, kamu bersedia sharing hal tsb di sini.

    kapan mampir ke kantor berkursi pink? >:D

  29. pada Sunday, 26 March 2006 pada 3:47 pm:

    memaafkan ternyata jadi hal yang paling melegakan ya :)

  30. irf

    pada Sunday, 26 March 2006 pada 4:07 pm:

    sekolah saya adalah kehidupan keseharian, yang mengajarkan banyak hal, karena bisa membaca, mendengar, melihat, berkaca dan melakukan…… :D

    memaafkan adalah salah satu pelajaran yang diberikan di sekolah kehidupan. berbahagialah, orang yang “jembar atine”, mudah memaafkan. ini pelajaran mahal…… dan akan sangat menyenangkan, ketika menerapkannya…..:D

    have a nice day, ta!
    solo masih lumayan ramah lho, dibandingkan jakarta…hehehehe

  31. pada Monday, 27 March 2006 pada 1:06 pm:

    that’s attaaaa !! hayo atuh hunting bareng…

  32. pada Monday, 27 March 2006 pada 6:27 pm:

    memaafkan…mutiara indah yang tidak semua orang bisa melakukan…tapi kamu bisa ta !…hebat..

  33. pada Tuesday, 28 March 2006 pada 1:00 am:

    you got the point ‘Ta… It is what life is all about… :) Kamu hebaayytz

  34. pada Tuesday, 28 March 2006 pada 1:25 am:

    hidup memang pelajaran yang tidak ada batasnya, terkadang lebih indah dan terkadang lebih buruk dari taman-taman yang pernah dikunjungi, seperti hutan lebat yang gelap dan penuh tantangan, seperti taman bacaan yang membuat waktu terasa penuh terisi dan berharga, dan saya setuju kalau hidup akan terasa lebih ringan jika kita ringan memberi maaf dan menerima maaf ;)
    saya dulu sering berhenti di halte di taman yang sama dan jejeran lukisan pemandangan alam gunung-sawah-pohon rasanya masih ada di sana-di sisi berseberangan dengan halte antara jam 7 pagi sampai 5 sore :)

  35. tegar

    pada Tuesday, 28 March 2006 pada 2:10 pm:

    love u ta…:)

  36. pada Thursday, 30 March 2006 pada 12:06 pm:

    maaf, seperti halnya ungkapan magic yang lain, punya sejuta makna kalo dibagi secara tulus; kerendahan hati, kebesaran jiwa untuk menentang ego pribadi. berbahagialah bagi mereka yang bisa memberikan itu, termasuk kamu tta :) dan saya disini, masih terus belajar dan belajar untuk selalu lebih baik.

  37. sa

    pada Thursday, 30 March 2006 pada 12:27 pm:

    *tarik napas*.. andai aku bisa spt dirimu, ta. :)
    duh. lama ya ga main ke sini. sejak kinjaku dududdd.. ilang jejak. :D

  38. pada Thursday, 30 March 2006 pada 10:53 pm:

    wah .. atta sedang liburan …..
    ta .. aku blogging lagi … tersemangati kamu ;)

  39. pada Saturday, 1 April 2006 pada 11:44 am:

    Memang, memaafkan tidak selalu berarti harus melupakan ya ‘Ta …
    A bit of a reminder won’t hurt.

  40. pada Monday, 3 April 2006 pada 9:55 am:

    *sepicles*

    katanya memaafkan itu lebih susah dari minta maaf. benar?

  41. Durin

    pada Monday, 3 April 2006 pada 2:34 pm:

    kamu kemana? Eh kalo buka langsung website photobucket kamu bisa ngga? Nanti aku kirimin passwordku ;)

  42. pada Friday, 7 April 2006 pada 9:50 am:

    saya tidak suka kenangan, tapi saya suka tulisan yang ini.

    jadi ya, fifty-fifty lah :D

  43. pada Tuesday, 11 April 2006 pada 2:15 pm:

    huwaaah, mba atta … reena selalu menikmati setiap kata yang mba atta pilih dan jalin di setiap cerita … :)
    di solo, reena juga -finaly- memaklumi keadaan dan menyadari kesalahan. hhmmm, serupa tapi tak sama gitu judulnya …
    salam sayang untuk ma’e mba atta yah … she must be tough as u …
    muuuuuah! love u both …

  44. pace makan pinang

    pada Sunday, 7 May 2006 pada 5:51 am:

    great

Subscribe to comments atau TrackBack untuk Tentang Taman Kota, Kenangan, dan Pelajaran Memaafkan

Tinggalkan Komentar







Kredit

© Negeri Senja | Ditenagai oleh WP 2.3.1. | Tree oleh Headsetoptions, tema minimal berbasis HyperBallad | Kandungan: XHTML + CSS | Ke Atas