Friday, 9 June 2006

Kelak, Kau Akan Membaca Pram

Anakku yang kusayang,
Ibu bayangkan, kelak kau akan menyukai satu ruang kecil di rumah kita. Ruangan dengan lantai kayu coklat dan jendela-jendela besar. Ada karpet lembut dengan bantal-bantal empuk. Rak-rak buku menempel di dinding. Kita, kau dan aku, akan sering menghabiskan waktu di sana. Membaca, melihat pohon flamboyan di samping rumah, mendengarkan musik, dan menyengajakan diri terlelap di akhir pekan.

Saat kau belum dapat mengeja aksara, Ibu yang akan membacakan buku untukmu; buku-buku bergambar dengan coretan menarik. Mengatur intonasi dengan baik, agar konsentrasimu tetap utuh. Membacakan dongeng tentang putri, kerajaan di awan, legenda, kisah-kisah ajaib, petualangan, sekolah sihir, dan beragam cerita lain.

Kelak Nak, setelah kau mahir membaca, kau akan menemui satu sosok. Ya, di sana, di ruang kesukaan kita itu. Bukan, bukan dengan bersitatap langsung. Raganya pasti tak akan hadir di ruang kecil di rumah kita itu Nak. Kau akan menemuinya dalam berlembar-lembar halaman yang kau baca dan renungi.

Anakku sayang,
Kelak kau juga akan membaca Pram.
Seperti jendela besar di ruang kecil rumah kita itu Nak, dari untaian kalimat yang dipintalnya menjadi buku, kau akan melihat banyak hal. Kau akan bersentuhan dengan banyak kisah. Kau juga bisa mengambil banyak dan memperkaya pikirmu.

Darinya kau akan menemui kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Darinya kau akan mengetahui tentang keadilan, kebenaran dan keindahan sebagai buah dari kerja keras. Darinya kau bisa menyadari kolonialisme apapun bentuknya harus tetap diperangi. Darinya kau bisa menjadi pandu-yang sebenar-benarnya pandu- untuk Ibu Pertiwi, Dipantara yang tersusun dari ribuan pulau ini. Darinya kau bisa menumbuhkan setiap inci demi inci rasa cintamu pada Tanah Air tanpa henti. Darinya kau bisa memahami, kekuasaan dengan kekerasan tak akan sanggup membungkam perjuangan.

Anakku sayang,
Kelak kau juga akan membaca Pram.
Tidak lagi dalam lembaran-lembaran terpisah yang diedarkan dari satu orang ke orang lain. Tidak lagi dengan sembunyi-sembunyi. Kau bisa membacanya saat jeda waktumu. Kau bisa membacanya sambil menghabiskan segelas susu yang kubuat untukmu sebelum tidur.

Anakku yang lahir dari perasaan yang penuh kasih,
Kelak kau juga akan membaca Pram. Kelak kau akan menyadari betapa menuliskan pikiran dalam sebuah buku adalah sebuah bentuk perjuangan yang tak akan lekang oleh waktu. Tak akan anakku. Bahkan ketika para elit mencoba membengkokkan sejarah. Buku karya-karya pujangga kelahiran Blora ini adalah sumbangsihnya untuk semua. Raga orang besar itu boleh saja terbaring di Karet, tapi semangat kebangsaan yang muncul dalam beragam karyanya telah melanglang jauh, melintasi batas negara, dibaca oleh orang-orang dari berbagai bangsa. Dengan tulisannya, Pram memberikan warisan yang menginspirasi banyak orang.

Anakku sayang,
Kelak kau akan membaca Pram.
Di sini, di ruang kecil di dalam rumah kita. Ah, tentu saja setelah itu kau tak merasa puas hanya dengan membaca saja. Dan kita akan belajar bersama-sama anakku. Kita kumpulkan lagi informasi mengenai buah pikir calon pemenang Hadiah Nobel Kesusasteraan ini. Kau juga bisa mencari teman diskusi yang menyenangkan. Bertukar pikiran.

Anakku sayang,
Kelak kau juga akan membaca Pram.
Dan jika tiba satu masa, di mana kau dan generasimu menerima tongkat estafet dari kami, generasi sebelummu, Ibu doakan semoga kalian mendiami Nusantara yang kuat, tangguh, kokoh, Nusantara yang rendah hati. Tanah Air yang merdeka, berkarakter, Tanah Air yang lebih baik, jauh lebih baik.

ditulis untuk mengenang 40 hari wafatnya Pramoedya Ananta Toer

24 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 21:53.

kembali ke atas

Wednesday, 7 June 2006

Bentuk Cinta

Perceraian kedua orang tua saya, dulu di saat usia saya belum genap satu tahun, membuat kami, saya dan seorang kakak laki-laki, tumbuh hanya dengan satu orang tua.

Hidup bersama Ma’e, begitu sapaan akrab untuk perempuan tangguh yang dengan segenap daya upaya membesarkan kami berdua, ternyata memberi banyak keuntungan untuk saya. Salah satunya adalah, segala perijinan untuk aktivitas yang hendak saya lakukan, cuma perlu melewati satu pintu saja. Pintu ijin Ma’e.

Sementara, di era lama -era lama ini maksudnya jaman bersekolah, mulai dari seragam merah putih hingga seragam abu-abu- saat ijin orang tua menjadi syarat mutlak, banyak teman-teman sebaya saya yang sedikit kerepotan.

Mereka kebanyakan hidup dengan orang tua yang lengkap. Dan dua orang tua, ibu dan ayah, sama artinya dengan dua pintu perijinan. Alhasil, beberapa orang teman sesekali datang dengan muka merengut dan melaporkan ijin yang tidak didapat.

“Aduh, sori banget deh. Gue gak usah dijemput aja. Abis, nyokap gue ngebolehin tapi bokap gue nih yang rewel”

atau ini …

“Boleh sih, tapi ayah ku udah ngutus kakak ku buat ngejemput jam 11 teng, jadi gak bisa sampai selesai acara, gak seru banget ya”

dan ini …

“Wah, pergi-pergi ke hutan gitu mana mama ku ngasih” (yang ini jelas hiperbola, secara perjalanan yang kami lakukan waktu itu hanya ke kaki Gunung Gede saja, yang jelas-jelas bukan hutan belantara dan tak terjamah manusia)

Saya bersyukur punya Ma’e. Sejak era lama hingga sekarang, seingat saya tidak pernah sekali pun, ibu saya ini rewel. Selalu ada lampu hijau. Perijinan satu pintu ini benar-benar membahagiakan saya.

Mulai dari pelatihan survival (meski pulang ke rumah, perut saya langsung bermasalah karena kebanyakan meneguk air sungai dan makan bonggol pisang ), camping di dekat air terjun, pendakian masal, menginap di rumah nenek sahabat, ke Bali pertama kali naik kereta api (rutenya Jakarta-Surabaya, Surabaya-Banyuwangi, Banyuwangi-Bali dengan bis), membuat film dokumenter dan hampir seminggu menginap di dekat Candi Sukuh (ini saya lakukan saat kuliah menjelang tingkat akhir, belum berbekal ponsel, otomatis ibu saya tak bisa melacak keberadaan saya. padahal, saya lupa telepon ke rumah. alhasil, selama satu minggu ibu saya tak tahu di mana putrinya berada. hehehehe).

Sampai saat ini, Ma’e tak pernah mengatakan tidak. Yang saya tahu, ini adalah bentuk cintanya pada saya. Ijin yang keluar sekaligus adalah penanda rasa percaya yang diberikannya pada saya.

Berbeda dengan Ma’e, yang tak pernah mengatakan tidak, saya sekarang lebih sering mengatakan tidak. Ya, karena usia Ma’e sudah sepuh, rambutnya memutih dan fisiknya tak lagi sekuat dulu, untuk beberapa hal saya justru agak lebih cerewet.

kalau pergi-pergi di dekat rumah, Ma’e harus naik bajaj, tidak boleh naik mikrolet (ojek juga nggak boleh, nggak mungkin juga sih, sebab Ma’e takut naik kendaraan bermotor roda dua). kalau pergi agak jauh, harus sama atta, naik taksi (yang ada sementara Ma’e melihat ke kanan dan ke kiri menikmati pemandangan sekitar, si atta deg-degan melihat argo taksi ). kalau Ma’e ingin ke plaza dekat rumah lebih baik lewat dalam kompleks, sebab lewat luar kompleks risiko terserempet ojek lebih besar. Ma’e harus minum susu untuk tulang setiap hari. dan… yang lainnya dan yang lainnya. (tapi kalau soal es krim, saya memberi ruang selebar-lebarnya, dengan catatan: makan es krimnya harus bersama-sama. saya dan Ma’e adalah pecinta es krim)

Phuff…, pasti susah ya jadi Ma’e. Budi baiknya yang tidak pernah mengatakan tidak, kini berganti dengan “keributan” putri bungsunya. Mudah-mudahan Ma’e tahu “keributan” saya itu adalah bentuk cinta saya untuknya. Bentuk cinta dan rasa kasih saya yang dalam…

1 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 12:12.

kembali ke atas


Kredit

© Negeri Senja | Ditenagai oleh WP 2.3.1. | Tree oleh Headsetoptions, tema minimal berbasis HyperBallad | Kandungan: XHTML + CSS | Ke Atas