Wednesday, 12 July 2006

Tentang Ayah-Ayah Kita

Ini adalah satu cerita. Tentang ayah. Tentang ayah-ayah kita. Ayah mu dan ayah ku. Aku ingat pertama kali kau sisipkan cerita tentang ayahmu dalam obrolan kita. Waktu itu Senin, sekitar pertengahan Februari lalu, selepas berburu foto di Taman Anggrek-Taman Mini Indonesia Indah. Ada dua piring tauge goreng di depan kita.

Awalnya ketika aku bertanya; mengapa namamu Eka? padahal kamu bukan anak pertama di keluargamu. Eka biasanya digunakan para orang tua untuk menamai buah hati pertama yang datang dalam hidup mereka.

Dan kau tertawa. Kau adalah orang kesekian yang bertanya tentang itu, ujarmu. Setelahnya aku tahu, namamu, ya Eka itu, adalah nama yang dibentuk dari aksara ayah dan ibumu.

Dan kau bercerita sedikit saja tentang ibu, juga tentang ayahmu.

“Ayahku tak lagi tinggal bersamaku,” kataku cepat
- Aku juga,” jawabmu. Siang itu aku tahu, ayahmu berpulang sehari sebelum ulang tahunmu, hampir setahun lalu. Meninggal karena sakit
“Tapi perginya ayahku bukan pergi seperti itu,” kataku lagi

Dan aku tak lagi meneruskan kisah tentang ayahku. Bukan sesuatu topik yang dengan mudah kubagi. Dan kita kembali berbagi tutur tentang hal lain.

Di sela perjumpaan-perjumpaan kita, sesekali kau juga berkisah tentang keluarga hangat di timur Jakarta itu. Tentang adik yang kerap kau jahili. Tentang kakak yang sekarang berbadan dua dan lebih rewel. Tentang ibu yang gesit dan aktif berorganisasi. Tentang si embak yang kerap membuat sambal berganti-ganti rasa tiap harinya. Tentang almarhum ayah yang penuh humor.

(kau tahu aku selalu senang mendengarkan cerita tentang keluarga yang dikabarkan oleh orang-orang di sekelilingku. setiap kali mendengar mereka berbincang tentang anggota keluarga yang lainnya aku seperti merasakan ada banyak kasih yang meruap dari cerita mereka)

Dan bagian tentang ayahmu menjadi lebih banyak kudapat saat satu kali kita mengakhiri ritual putar-putar kota jelang tengah malam. Ada sate ayam di depanku. Dan soto ayam di depanmu.

Waktu itu kita sedang berbicara apa ya? Yang aku tahu, kau berbagi tentang hari-hari terakhir ayahmu. Bagaimana ia merasakan gembira yang sangat ketika kemoterapi dihentikan (bukan karena kanker itu membaik, tapi karena usaha kemoterapi pun tak bisa melawan penyakit di tubuh ayahmu), bagaimana keluarga kalian mencoba mencari alternatif pengobatan lain untuk kesembuhan laki-laki yang kalian cintai, juga tentang hari di mana ayah mu pergi.

Dan aku ganti berbagi. Sesuatu tentang ayahku. Laki-laki yang tak pernah ada dalam beragam momen penting yang ada dalam hidupku. Aku bercerita banyak; tentang menumpukan semua kesalahan pada ayahku, tentang rasa benci yang menebal dari hari ke harinya, tentang titik balik dalam hidup, juga tentang memaafkan dan berdamai dengan semua.

Malam itu kita bercerita, tentang ayah-ayah kita.

Aku terbiasa hidup tanpa ayah. Mungkin karena terbiasa, rasa kehilangan akan ketiadaannya dalam berbagai fase dalam hidup tak pernah lagi ku rasakan. Terbiasa menghabiskan hari tanpa ayah membuat aku merasa hidupku sampai sekarang, tetap baik-baik saja. Aku mencintai keluargaku. Mencintai Ma’e dengan sangat. Menyayangi kakak laki-lakiku. Dan sekarang, sejak titik balik itu, aku mulai belajar mencintai ayahku.

Jadi, aku lupa bagaimana rasanya kehilangan. Sesuatu yang mungkin sedang kamu rasakan di hari ini. Setahun sejak ayahmu pergi. Sehari sebelum ulang tahun mu. Rasa kehilangan yang dimuati dengan keyakinan yang penuh kalau ia, ayahmu, tengah bersuka cita di alam sana. Sebab kamu yakin ia orang baik. Tak habis-habisnya orang mendoakan dirinya pada hari di mana ia pergi, dan setelah ia pergi.

Setelah ini ku yakin masih akan ada cerita tentang ayah-ayah kita. Tentang ayah mu yang bijak dan sederetan kisah lucu yang sempat dibuatnya semasa ia hidup. (ceritakan padaku bagaimana ia bernyanyi Dek Sangke dengan iringan musik lagu Bengawan Solo ya, hahahaha). Tentang aku yang tetap belajar mencintai ayahku dan merangkai doa agar ia selalu dalam keadaan baik (kamu tahu, belakangan aku mulai gemar mereka-reka bagian mana dari wajahku yang serupa dengan ayahku :D). Tentang ayah-ayah kita. Ya, kita akan bercerita tentang laki-laki yang darahnya menitis dalam tubuh kita dan menuturkannya dengan rasa kasih.

untuk Eka: teriring doa untuk almarhum ayahmu. dan besok; selamat ulang tahun ya. semoga tahun ini jauh lebih baik. semoga semakin bijak. makin tampan *halah*. makin pandai menulis. handal memotret. makin gemar membaca buku dan membaca hidup. carpe diem ;) ayo-ayo makan malam bersama, biar tante atta yang bayar. Hahahahha

» Diletakkan dalam General oleh atta pada 17:57.

kembali ke atas

29 komentar
untuk Tentang Ayah-Ayah Kita

  1. Putra

    pada Wednesday, 12 July 2006 pada 11:32 pm:

    Ayahku agak aneh. Dia seperti orang berkepribadian ganda. Kadang baik, kadang jahat. Namun dia punya rasa tanggungjawab yang sangat besar kepada kami, anak-anaknya. Menurutku, itu poin yang harus dimiliki semua ayah. Dengan begitu, tak akan ada lagi anak-anak terlantar yang terpaksa menghabiskan seumur hidupnya dijalanan.
    Ayahku bukan orang yang sempurna. Tidak tampan dan tidak handal memotret. :) Tidak pula seorang ayah yang sempurna. Tapi apapun kekurangan dan kelebihannya, aku tetap bangga padanya. Ya, dengan semua tanggungjawabnya. Tidak mudah menjadi seorang ayah…
    Salam kenal mbak Atta. Aku telah lama jadi pembaca setiamu. Namun baru sekarang memberanikan diri memberikan comment. Memulai untuk menulis memang tidak mudah. Aku doakan semoga mbak mendapatkan ayah yang baik untuk anak-anak mbak nantinya…. :)

  2. pada Thursday, 13 July 2006 pada 7:08 am:

    waktu kecil aku sakit”an..
    panas tinggi sampai kejang-kejang
    ke dokter manapun tak terjawab penyebabnya…

    Suatu hari mamaku diberi tahu
    oleh tetangga yang baik hati
    dia pergi ke peramal
    dan mendapati aku dan papaku ‘ciong’
    shionya dan shioku tak bisa bertemu, berakhir dengan perkelahian.
    Itu sebabnya aku sakit… Papaku terlalu kuat.

    Akhirnya aku ‘dijual’
    diinapkan di rumah oma seminggu lamanya.
    Ketika kembali aku sehat lagi.

    Tapi sampai besar tidak akur sama Papa.
    Kalau duduk bersama sejam, pasti bertengkar.
    Tapi aku tau Papa sayang sekali sama aku
    Karena aku juga.

    Sekarang Papa sudah nggak ada,
    kalau boleh memilih
    aku lebih baik bertengkar setiap hari
    daripada tidak bisa melihat papa lagi…

  3. pada Thursday, 13 July 2006 pada 8:40 am:

    Aku juga punya ayah tapi takdir tuhan membuatkan aku sudah tak memiliki dia lagi sejak 20 tahun lalu. .

  4. Dika

    pada Thursday, 13 July 2006 pada 9:20 am:

    Sudah deh ‘Tta! Walau sudah gak ada ayah untuk dirimu, bagaimana kalau kita cari ayah untuk anak2mu kelak? *mata mendelik-delik*

  5. roi

    pada Thursday, 13 July 2006 pada 9:39 am:

    jadi pengen liburan ke bandung gw….

  6. pada Thursday, 13 July 2006 pada 5:11 pm:

    hai, mba atta!!! lamanya aku ga ke sini.
    baca postinganmu, jadi pengen sharing cerita tentang ayahku, boleh???

    hehehe, sebenernya aku ga begitu kenal beliau. soalnya, ayahku meninggal waktu aku umur 9th. udah gitu, karena beliau pelaut jadi pulang berapa bulan sekali. itu pun hanya sekejap dua kejap di rumah. itu pun selalu diisi dengan bikin ini … bikin itu … bikin anu … bikin atu …

    tapi seingatku, ayahku pintar … buku pintarku, lah …
    seperti yg dah aku bilang, beliau seneng bikin2 … bikin kursi, bikin meja belajar, bikin tempat tidur, bikin lemari makan, bahkan bikin miniatur kapal tankernya … lengkap dg lampu2 & sekocinya … hebat, kan?
    tapi suka emosian … hihihi … kalo dah gitu, pasti ngerusakkin barang. abis tu, ga bisa ngebenerinnya lagi … hahaha … well, that’s him …

    meski aku sering mijitin pundak ayahku, aku bukan anak kesayangannya. bahkan aku pernah dicelupin ke bak mandi dan dibawa ke tengah lapangan di sebelah rumah … ga tau aku berbuat nakal apa waktu itu … hihihi … pastinya nakal sekali sampai ayahku murka begitu.

    meski aku ga punya banyak memori ttg siapa beliau, tp sosok ayahku di kepala & hatiku adalah ideal …
    dan beruntunglah kita dibesarkan oleh ibu-ibu hebat tanpa bantuan belahan hatinya itu …
    hmmmm, aku jadi semakin sayang sama ibunda & ayahku neh …

    huwaaaah, panjang bener … punten deh …
    pareeeeeeng …

    ps : salam buat ma’e … muah!

  7. Peps

    pada Thursday, 13 July 2006 pada 8:34 pm:

    Hmmhhh!!! Gitu dong dik… Jangan disembunyiin mulu namanya. Kan enak kalo disebut. Suit..suitt!!! Ngomong2 ke Solo kok nggak bilang2 ya… Kan pengen blajar juga. Kapan2 kalo ada yang bgituan ajakin, ya.

  8. pada Friday, 14 July 2006 pada 4:49 am:

    ayahku baik hati dan tidak sombong

  9. pada Friday, 14 July 2006 pada 6:25 am:

    wah bener tuh tta, kata beberapa komentator di atas…
    dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada Bapak-mu yg sudah berkontribusi terhadap adanya kamu sekarang ini, tta… mari mulai sekarang kita tekadkan dengan sangat kuat untuk berjuang bersama-sama mencari bapak-nya calon anak-anakmu ajah… kaya’nya lebih seru tuh nanti tulisannya ! ;;-)

  10. uchan

    pada Friday, 14 July 2006 pada 9:11 am:

    jadi ingat ayahku….hiks..hiks..hiks…

  11. tegar

    pada Friday, 14 July 2006 pada 11:57 am:

    …baca ini .. jadi inget sama bapak… orang yang pertama yang mengajak saya ke senayan nonton final bola persib VS perseman, orang pertama yang ngajak sayah naik motor pembukaan taman safari bogor, dan orang pertama yang membiarkan sayah melakukan segalanya sendiri.. !! tapi bapak pasti udah makin senang sekarang, nemenin emak sama abang di surga sana..!!

  12. pada Friday, 14 July 2006 pada 1:44 pm:

    my father is my hero, and always.
    your father is your hero, and i hope always

    (hiks, ta, aku langsung homesick nih baca postinganmu. dah berapa bulan ya aku gak pulang? nganti lali……… :p )

  13. pada Friday, 14 July 2006 pada 2:54 pm:

    yah semoga semua baik-2 saja dan bisa berdamai dgn keadaan :)

  14. pada Saturday, 15 July 2006 pada 12:03 am:

    namanya Eka ? bukannya I**** yaa…? =))

  15. pada Saturday, 15 July 2006 pada 5:53 pm:

    setiap anak akan menjadi ayah…
    dan setiap ayah akan menjadi anak…

    superman return?.. :)

  16. pada Sunday, 16 July 2006 pada 8:04 pm:

    “It doesn’t matter who my father was; it matters who I remember he was.”
    (Anne Sexton), dan saya sendiri percaya bahwa “one father is more than a hundred schoolmasters.”

    *udah lama nggak ke sini Mbakyu, dan masih aja rame. nice.* :)

  17. dy

    pada Monday, 17 July 2006 pada 5:21 am:

    kamu Ta, bikin aku mbrebes mili….

  18. si itoy

    pada Monday, 17 July 2006 pada 7:47 am:

    bapakku marah2 dan maki2 aku gara2 tetangga ngomongin dia samen leven dengan pacarnya yang pertama2 diaku keponakan, dia naik motor nabrak orang ampe mati, dia yang berubah banyak setelah ibuku nggak ada. bapakku bilang aku ngember ke tetangganya dia. ku bilang aku nggak gila dan ku ingatkan aku udah berbulan2 nggak tinggal di rumahnya (legally, it’s my brother’s and mine).

    sekarang udah hampir dua tahun aku nggak omongan sama dia. ku pikir mendingan begini daripada berantem sama bapak sendiri. ora ilok, anak berantem dengan orang tua, bikin nambah dosa aja. and i find out, the world’s still spinning on its axis. it’s fine.

  19. pada Monday, 17 July 2006 pada 3:59 pm:

    Want to know aja? :P

  20. aya

    pada Monday, 17 July 2006 pada 4:48 pm:

    bapakku orang yang paling sabar sedunia, seneng bikin orang tertawa, paling gak tega melihat orang lain kesusahan…makanya waktu menikah, paling sedih waktu sungkem terakhir ke bapak, bukannya gak sayang sama ibu, tapi chemistry antara aku dan bapak rasanya lebih kuat melebihi dengan ibu…bahkan sampai sekarang, suami jg jd ikutan sayang ke bapak…*jd berkaca2 nih mataku*
    salam kenal mba Atta…! ~aya~

  21. pada Tuesday, 18 July 2006 pada 11:42 am:

    ayahku….
    doyan dicabutin uban, suka dongengin wayang atau pengalamannya melaut. kadang nostalgi ttg pertemuannya dg bunda. suka joged dangdut dan membuat perut gendutnya goyang goyang. suka dengerin aku cerita ttg apa saja…..:)

  22. pada Tuesday, 25 July 2006 pada 7:17 am:

    Aku tiga bersodara, kami anak-anak yang egois, susah diatur, tidak taat peraturan, suka melawan, bandel, nakal, kemproh, keset (malas,red), suka makan,,,,dan pasti akan sulit untuk membesarkan anak-anak macam kami.
    Tapi Bapakku membuatnya tampak mudah…
    Hebat.

  23. pada Saturday, 29 July 2006 pada 7:20 am:

    wah,kalo ayahku…hmmm,gmn ya? love him,hate him,love him,hate him…

  24. pada Tuesday, 1 August 2006 pada 1:27 pm:

    kalo ayahku … dah menemani ibuku di surga di temani cucunya yang manis hiks … hik

    aku yang masih mendambakan pengganti naufal

  25. exa

    pada Wednesday, 2 August 2006 pada 9:57 am:

    Suka deh dengan bahasanya
    Salam Kenal : Eka beneran !

  26. Aditya

    pada Saturday, 23 December 2006 pada 4:17 pm:

    Sebulan yang lalu mama ku tercinta meninggal dunia tanpa sakit tepatnya tanggal 10 November 2006, Aku sangt sedih anget karena selalau ini aku sangat deket degan nya, yang apad awalnya ubungan dengan papaku kurang begitu akrab.Tapi stelah meninggal mama entah mengapa aku takut kehilangan papa ku yang tinggal sendiri, aku jadi sangat sayang padanya.Ternyata dengan penuh kasih sayang papa ku berusaha menghibur aku, yang masih kondisi shock berat. hal yang tidak pernah aku rasakan saat ini yaitu pelukan hangat seorang ayah, tersa bahagia kenapa selama ini aku mengabaikannya.Selama 40 hari terakhir ini, aku tidak berani tidur sendiri, dengan sabar papa ku menemani dan selalu mengeloni aku dengan kasih sayangnya.Maaf kan aku papa kalau selama ini akau “UNDERESTIMATE” pada mu. Ternyata kau seorang ayah yang Bijakssana, sabar, taat dan Romantis.

  27. bie

    pada Sunday, 24 June 2007 pada 6:53 pm:

    Masa kecil hinnga dewasaku, saat-saat bersejarah dalam hidupku, saat lomba tariku, saat ambil rapotku, saat aku sedih, marah, sakit…saat selalu ada waktu….ayah tidak pernah tak hadir didalamnya.
    Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanya, selalu berdoa ibuku sehat karena hidupnya adalah bersama ibuku. Mereka bagai cermin untuk hidupku.
    SEtelah baca cerita tentang ayah aku terharu…
    Kelak bila aku harus kehilangan ayahku…aku akan yakinkan bahwa beliau tidak akan pernah kehilangan cintaku, begitu juga cintanya dalam hidupku….
    Ayah terimakasih….aku sayang kamu

  28. amel

    pada Sunday, 2 March 2008 pada 11:24 am:

    salam kenal!!!
    aku merindukan ayahku yang meninggal 10 thn yang lalu. ayah yang pendiam namun hangat, ayah yang penuh tanggung jawab hingga akhir hayatnya.
    makasih atas inspirasinya…

  29. pada Wednesday, 7 May 2008 pada 7:10 am:

    ayah saya,
    ayah yg paling saya cinta,kebetulan kami hanya mempunyai ayah karena ibu kami telah tiada kira2 7 thn lalu,kami hanya mempunyai seorang ayah & juga sebagai ibu.
    Bagi kami dialah segalanya,

Subscribe to comments atau TrackBack untuk Tentang Ayah-Ayah Kita

Tinggalkan Komentar







Kredit

© Negeri Senja | Ditenagai oleh WP 2.3.1. | Tree oleh Headsetoptions, tema minimal berbasis HyperBallad | Kandungan: XHTML + CSS | Ke Atas