Friday, 7 July 2006
Tentang Sebuah Buku
Selasa siang, 4 Juli yang lalu, seseorang memberikan saya hadiah. Sebuah buku. Hadiah ulang tahun. Hadiah ulang tahun yang tertunda tepatnya
Akhir April lalu saya masuki usia 27. Seseorang merencakan untuk memberikan saya sebuah buku. Meski awalnya ia mengatakan tak memiliki rencana untuk menghadiahkan saya sesuatu. Tapi belakangan saya tahu, ia merencanakan sesuatu. Ia, seseorang yang baik hati itu, diam-diam mencari sebuah buku. Untuk saya. Sebuah buku untuk hadiah ulang tahun saya. Sebuah buku yang terakhir dicetak pada Oktober 2004.
Buku ini membuatnya pergi ke toko buku yang ini, ke toko buku yang itu, ke pasar buku di luar kota, ke pameran buku. Dan nihil. Ia tak kunjung bertemu dengan buku ini. Tapi, ia berjanji, satu hari, ia pasti membawakan buku itu, hadiah ulang tahun untuk saya.
Janjinya ia tepati. Selasa siang itu, di sebuah pesta buku ia temukan buku itu. Kami datang berdua ke pesta buku. Minat yang berbeda membuat kami berpencar. Saya berlama-lama di stan penuh buku sastra. Ia membelok ke stan yang lainnya.
Saya tengah melihat-lihat buku di sebuah stan, ketika ia tiba-tiba saja berada di belakang saya. Mengejutkan. Ia sodorkan buku itu, masih dalam plastik putih, tak dibungkus dengan kertas berwarna-warni, lazimnya hadiah ulang tahun. “Seperti janji gue,” ia tersenyum, sebelum menghilang kembali, berbaur dalam kerumunan. Cara memberi hadiah yang aneh
Esok malamnya saya pulang lebih awal dari kantor. Berlama-lama memperhatikan sampul buku -Jalaluddin Rakhmat, Meraih Kebahagiaan- hadiah ulang tahun yang tertunda itu. Dan mulai membacanya. Satu halaman, dua halaman, berpuluh-puluh halaman, satu bab, dua bab.
-kamu pikir saya nggak bahagia- saya bertanya pada si pemberi buku, saat kami duduk-duduk berdua seusai berputar-putar di pesta buku, sambil menunggu waktu three in one usai, agar dapat melenggang di Jalan Sudirman tanpa ditilang.
+ bukan, bukan begitu. tapi buku ini buku bagus, jawabnya cepat.
Saya memang tak pernah bercerita padanya. Selepas ulang tahun, saya malah mudah sedih. Merasa hidup saya datar-datar saja. Berpikir hidup tak bergerak seperti yang saya rencanakan. Sindrom usia 27, begitu kata seorang teman.
Dan buku ini seperti telunjuk seorang teman yang sedang mengingatkan. Buku ini, memanggil berbagai kenangan, untuk memikirkan kembali hal-hal kecil. membuat saya kembali berhitung tentang betapa luasnya nikmat yang Tuhan beri dalam hidup. Bahagia itu adalah pilihan. Kang Jalal -begitu sapaan akrab untuk Jalaluddin Rakhmat- menjabarkan dengan baik tentang bahagia dari beragam segi; agama, filsafat, juga psikologi.
Buku ini membuat saya tersenyum, beberapa bagian dibuat Kang Jalal dengan sentuhan humor yang cerdas. Saya juga merasakan haru saat sampai pada beberapa bagian, pada kisah Bopsy -anak penderita Leukimia yang bercita-cita menjadi pemadam kebakaran- juga ketika Kang Jalal menceritakan betapa ia bahagia ketika ia merayakan ulang tahun, dikelilingi keluarga, dan suara parau Delshadi, cucunya bernyanyi : Happy birthday, Aki Jalaal!. Buku ini mengajarkan saya satu kebiasaan baru : emosi positif untuk energi positif
Seusai membaca, saya kirimkan pesan pendek untuk teman baik saya itu. -sekali lagi terima kasih. bukunya bagus. dan kamu tahu, mengenalmu di tahun ini adalah momen yang membahagiakan-.
pada Friday, 7 July 2006 pada 11:01 pm:
hehe, sweet. kalau hidup kamu yang penuh jalan-jalan itu datar, hidup saya apa dong ;)? yuk semangat yuk, supaya hidup kita makin penuh warna-warni
*warm hugs from pittsburgh*
pada Saturday, 8 July 2006 pada 12:10 am:
jadi, buku itu dah sampai yah …pada akhirnya…?
ciee…suwiwittt ….:P
syndrom 27 tahun…? hahaha…
pada Saturday, 8 July 2006 pada 1:00 am:
met ultah ya Ta. ternyata dikau masih muda beliahhh sekali ya
pada Saturday, 8 July 2006 pada 5:59 am:
selamet segalanya tta …. termasuk ultah yg saya taunya juga terlambat …. ternyata tua’an gw :p
pada Saturday, 8 July 2006 pada 4:20 pm:
Hai!
Sudah terlambatkah?…. Happy b’day!
(salam kenal dari saya. Tulisan kamu asik, deh, bacanya.)
pada Sunday, 9 July 2006 pada 1:38 am:
waaa jadi pengen baca..
tapi denger critanya…
kayaknya bukunya susah didapet ya?
pada Monday, 10 July 2006 pada 6:30 am:
met ultah ya na
pada Monday, 10 July 2006 pada 6:41 am:
Dapat kado buku bagus, ’sindrom usia 27′-nya bisa sembuh dong he he
pada Tuesday, 11 July 2006 pada 7:45 am:
kok Sms nya gak nyampe ke gw yach…. ck ck ck .. coba deh kamu kirim lagi bwahuahuahua…3x
pada Tuesday, 11 July 2006 pada 8:27 am:
berbahagialah orang yang gemar membaca buku.. saya nggak bisa karena alergi kertas.. hiks..
pada Tuesday, 11 July 2006 pada 1:50 pm:
usia 25 ada sindromnya, usia 27 ada sindromnya, usia 30 jg ada, jadi kesimpulannya apa? hehe… katanya semakin lama kita hidup kita jadi semakin lupa untuk hidup (inget: the more we see, the less we open our eyes). mudah2an kita nggak pernah lupa untuk selalu menghitung kebahagiaan2 kecil di keseharian kita yah…
lagi2 postingan atta bikin sejuk di hati…
pada Wednesday, 12 July 2006 pada 8:49 am:
chayaaaaaank…sori lupa. met ulang taon yach…
moga tetep jadi anak manis
sori nggak ada kado
jauh sih…(uh, alasan klise ya)
pada Sunday, 24 June 2007 pada 1:08 pm:
hm, pasti bukukang djalal apa djalil ya?
salam kenal mba..