Friday, 25 August 2006
Dahulu, Ini Desaku
Dahulu, tanah ini adalah desaku. Desa Renokenongo namanya. Desa kecilku bagian dari kecamatan Porong. Letaknya sekitar 14 kilo meter dari pusat kota Sidoarjo.
Di sini aku lahir. Di Renokenongo aku tumbuh. Bernafas. Berlari. Bernyanyi. Memeluk ayah. Mengecup senja. Bercengkerama dengan angin. Bercanda dalam rintik. Menguntai tawa dengan teman sepermainan. Mencuri harum masakan bunda. Mandi matahari. Tergelak dalam hujan. Menggapai langit. Bersahabat dengan fajar.
Dahulu, tanah ini adalah desaku. Renokenongo. Hijau sawah di batas desa. Biru langit pukul sepuluh. Lenguh kerbau beriringan pulang jelang sore. Satu, dua bintang selepas maghrib. Gemerisik dahan tebu bergesekan. Nyanyian burung di rembang petang. Kokok ayam pecahkan pagi. Riuh tawa anak-anak di jalan-jalan desa. Roda-roda sepeda yang dikayuh petani-petani bercaping.
Renokenongo, desaku, dahulu, tanah kehidupan
Hingga satu masa, kala bias srengenge di timur belum juga pudar, sesuatu terjadi di sini, di Renokenongo. Sesuatu bergolak nun jauh di sana, di dalam perut bumi, di desaku. Sebuah kekuatan, entah dari mana datangnya, mendorongnya keluar. Menyembur. Sesuatu yang pekat. Seperti tanah di sawah Paklik Subagiono, adik bunda, yang baru saja dibajak. Liat, pekat, hitam. Dan panas
Ya, panas. Aku lihat asap keluar dari sesuatu yang liat, pekat, dan hitam itu. Membumbung tinggi. Mengingatkanku pada dongeng tentang kebiasaan suku Indian berkirim kabar. Kian hari asap kian tinggi. Ke langit. Seperti ingin bergabung dengan awan. Dan sesuatu yang liat, pekat, dan hitam itu terus meluber.
Dahulu, tanah ini adalah desaku.
Aku masih ingat rumah kecil tempat aku, ayah, dan bunda tinggal. Masih jelas juga kebun kecil penuh aneka bunga kesayangan bunda. Toko kelontong, yang juga menjual es krim, milik Pak Tomo berdiri tak jauh dari rumahku. Menara masjid tampak tegak, terlihat jelas dari jendela rumah. Dan oh ya, sekolahku. Bangunan yang menjadi pusat dari hidupku setelah rumah. Dengan tiang bendera di lapangan tempat kami -aku dan kawan-kawan- dalam seragam pramuka berkumpul setiap pekan. Jika kemarau datang lapangan depan sekolah terasa gersang dan berdebu. Rumah Amir, kawan karibku, terletak beberapa meter saja dari bangunan sekolah. Rumah Amir luas. Ada tiga pohon mangga di halaman belakang rumahnya.
Aku masih ingat petak-petak sawah Paklik Subagiono. Berlari di pematang sawah Paklik, sesuatu yang menyenangkan yang kerap kulakukan. Berlari bukan meniti. Awalnya keseimbanganku sering kali tak terjaga. Terpeleset dan jatuh di sawah jadi hal biasa.
Aku masih ingat balai desa. Ingat rumah besar di pinggir jalan desa, tempat seorang bapak berwajah ramah menjalankan usaha penggilingan padi; bunyi mesin selepan yang memisahkan bulir padi dari kulitnya, kerap membuatku berhenti sejenak, mengamati kesibukan para pekerja. Ingat kali kecil dengan pohon talas yang berkelompok di sisi kanan dan kirinya. Dan telaga dengan eceng gondok berbunga ungu.
Aku masih ingat, dahulu, tanah ini adalah desaku. Sampai satu masa, ketika sesuatu yang liat, pekat, dan hitam terus menerus tumpah ke tanah desa. Tak terkendali. Terus menerus meluber. Mengubah desaku menjadi lautan. Menenggelamkan sekolah, toko kelontong Pak Tomo, Rumah Amir, kawan karibku, Masjid, sawah Paklik Subagiono, rumah kecilku, kebun bunga bunda, semua, tak tersisa …
Dan desaku menjadi ramai dibicarakan orang. Legenda desa yang hilang. Angka-angka tersaji. Berapa jumlah penduduk desaku, jumlah penduduk desa tetangga, berapa kerugian yang diderita, potensi rupiah yang urung ditangguk para pengusaha, berapa jumlah rumah yang harus diganti, berapa meter kubik sesuatu yang pekat itu keluar dari dalam perut bumi; angka ini dan angka itu. Buat mereka, kami mungkin tak lebih dari sekedar angka.
Dahulu, tanah ini adalah desaku.
Aku lihat gurat sedih di wajah ayah saat desa kami berubah menjadi lautan hitam. “Aku tak mampu menjaganya, desaku, desamu, desa bundamu, tanah di mana leluhur kita dahulu pernah hidup, rekam jejak setiap peristiwa yang pernah kita toreh, kelahiran, kematian, keriangan, kesedihan, tanah kehidupan, tempat kita menaruh harap, maafkan …,” ucapnya, seraya memelukku erat di balai pengungsian, tempat kami sekeluarga tinggal setelah rumah kami tenggelam.
Aku juga tak mampu menjaganya, ayah, ucapku pelan, membalas pelukan ayah; desaku, desa ayah, desa bunda, tanah kehidupan, tempat kita menaruh harap.
Dan aku tertunduk.
agustus, 2006
untuk tiap-tiap jiwa yang kehilangan tanah tempat segala kenangan dirajut
tulisan ini dibuat setelah melihat lautan lumpur di tol porong-gempol km 37 sampai km 39 dalam perjalanan Surabaya-Jember awal Agustus lalu.
Informasi tentang lumpur panas bisa dilihat di :
- Hot Mud Flow in East Java
- Wikipedia
- Dongeng Geologi
