Wednesday, 15 August 2007
Pasti lebih baik
“Saya sangat prihatin dengan banyaknya bencana yang saat ini menimpa rakyat Indonesia, tapi saya yakin bangsa Indonesia akan bisa bertahan dari semua itu. Sama ketika bangsa Indonesia bertahan sejak tahun 1955 …”
(Kutipan dari Boyd R. Compton pada artikel Sebuah Indonesia Idaman Mereka, Majalah Tempo Edisi Khusus Kemerdekaan, Halaman 110-114)
Saya terharu membaca kalimat tadi. Majalah Tempo berhasil menggugah sisi terdalam saya, mengingatkan saya kembali akan kecintaan saya pada negeri ini; Indonesia. Agustus dengan merah putih di sana-sini memang pemantik yang ampuh.
Dan kenyataan yang saya dapatkan akhir-akhir ini membuat saya yakin -mungkin sama seperti keyakinan yang dimiliki Compton- kalau negeri ini, tanah tempat saya berpijak setiap harinya, menjalin jejaring, tumbuh, menghirup udaranya dalam-dalam, begitu mencintai setiap incinya, Indonesia, akan lebih baik.
Saya yakin itu.
Keyakinan yang tidak muncul begitu saja, tapi ada karena beragam temuan
Seorang murid kelas enam sekolah dasar, anggota dari tim pembuat film yang berhasil menang di festival berskala internasional -saya lupa nama ajangnya- bisa dengan fasih bertutur tentang pilihan hidupnya kelak.
Lalu tulisan tentang sosok orang-orang hebat di sebuah harian yang saya langgani. Dari penjaga lingkungan, pejuang Hak Asasi Manusia, guru di daerah terpencil, pelestari budaya, beragam profesi yang membuat saya tahu negeri ini tak pernah kehilangan orang-orang yang berjuang untuk perbaikan
Beberapa hari lalu saya juga sempat mengunjungi sebuah pameran. Beragam aplikasi buatan anak negeri, dari film animasi -dengan dukungan animator lokal berusia muda yang karyanya apik- hingga perangkat lunak untuk mendukung kegiatan belajar. Hebat.
Ya, saya tahu, ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh negeri ini. Segudang peraturan dan sistem yang “ajaib”. Tata kelola yang belum baik. Korupsi yang belum ditumpas hingga ke akar. Dan masih banyak lagi.
Tapi sebuah masukan dari seorang teman berbincang -narasumber berkacamata yang pintar tapi begitu rendah hati- mungkin bisa jadi renungan. Begini katanya:
“Bangsa ini terbiasa mengeluh. Dari supir taksi yang saya naiki, hingga pelayan warung tempat saya makan. Dari pejabat negara hingga kalangan profesional. Kondisi hidup saat ini memang pantas membuat mereka mengeluh, mungkin. Tapi kerja tak akan selesai kalau kita hanya mengeluh. Saya membayangkan sebuah negeri yang mayoritas penduduknya mengerjakan sesuatu dengan gembira, bahagia, semua mengejar tujuan yang sama, kebaikan untuk semua, dari semua segi, ekonomi hingga politik. Mungkin agak sulit untuk mengubah orang-orang seumuran saya atau Anda, tapi saya ingin cucu-cucu saya juga anak-anak Anda nanti bisa sampai sampai ke kondisi yang saya idam-idamkan itu, hidup di negeri yang minim keluhan.”
Saya yakin, bangsa yang elok ini pasti akan jauh lebih baik dari sekarang…
selamat ulang tahun Indonesia
pada Wednesday, 15 August 2007 pada 8:33 pm:
Aku sendiri sedih liat negeri ini terpuruk, tapi yang namanya badai pasti akan sirna. Cuma bagaimana kita bertahan dalam badai itu dan memperbaiki kerusakan yg harus jadi perhatian.
pada Thursday, 16 August 2007 pada 10:34 am:
narasumber berkacamata itu perlu tahu adagium umum: bahwa berbicara selalu lebih mudah.
Mengeluh, misuh, adalah salah satu saluran pembebasan dari kepenatan yang menumpuk-numpuk.
Hanya satu cara untuk membuat keluhan itu “bermakna”: kita dengarkan. Jadilah pendengar yang baik.
Kisah “Keluarga Cemara” itu hanya ada dalam dongeng ta. Miskin tapi bahagia itu utopis. Bagaimana bisa tidur kalau perut lapar?
pada Thursday, 16 August 2007 pada 11:01 am:
mba atta..udah sebulan ini aku sering ke negeri senja, berharap2 cemas ketika browser mulai bekera, “ada tulisan apa lg y dr mba atta?”akhirnya..aku mndptkan 1 buah pikiran dr mba atta… ya indonesia bagaimanapun keadaanya sekarang, aku juga punya keyakinan seperti mba atta.kita pasti bisa menjadi sangat baik
(bukan sekedar lebih baik)
pada Thursday, 16 August 2007 pada 12:12 pm:
jadi inget satu quote :
‘that which doesnt kill you, make u stronger’
pada Thursday, 16 August 2007 pada 2:05 pm:
Busuknya Indonesia di tingkat makro dibangun dari kebusukan2 di level mikro. Dan, kitalah di level mikro itu. Atta, aku sepakat: berhenti mengeluh, saatnya bekerja, berkarya! Jangan dulu utk tujuan2 besar, cukup untuk diri sendiri saja, bangun kapasitas diri dulu
pada Friday, 17 August 2007 pada 11:15 am:
Bagaimanapun juga, sejauh-jauhnya kita… Indonesia tetap di hati.
God bless Indonesia!
pada Saturday, 18 August 2007 pada 7:34 am:
Setuju untuk tidak lagi mengeluh. Bersyukur karena bangsa ini tidak dalam kondisi perang.
Lapar? Masih ada kesempatan untuk cari makan, dengan berhenti mengeluh saja sudah berarti mengurangi sepersekian energi untuk melakukan hal yang tidak berguna.
Saya jadi ingat kata seorang motivator di televisi: “Life is great!”
pada Sunday, 19 August 2007 pada 6:21 pm:
yup atta….rite or wrong is my country. sampe nanti sampe mati. pasti ada yang bisa dikerjakan. pasti ada untuk meminimkan keluhan. yang pesimis ama negeri sendiri, sana jalan-jalan ke negeri orang. isi otak, kerjain sesuatu, busungkan dada, tegakkan kepala. aku pikir orang indonesia undah “terpilih” jadi orang indonesia. so what the heck?? mari-mari jangan dulu memandang sulit yang belum dikerjakan. dan ini pasti bukan cuma keinginan segelintir orang. merdeka…!!!
pada Monday, 20 August 2007 pada 8:03 am:
Yap…!! Jangan buat anak-anak kita jadi generasi penerus pengeluh.. Ayoo..!!
pada Wednesday, 22 August 2007 pada 5:42 am:
Pasti lebih baik! Yakinkan diri sendiri, buat bukti, biarkan orang melihat. Keinginan negeri idaman itu bukan semata-mata mimpi. At least untuk diri sendiri. Mari buat hidup memiliki makna…..
pada Wednesday, 22 August 2007 pada 1:52 pm:
sebagai manusia gak sempurna, kita pun sering gak luput dari penyakit mengeluh dan menuduh.
eling, saling mengingatkan, saling menguatkan, akan mengembalikan jiwa ini ke alur yg baik.
jabat tangan erat-erat, merdeka!!!
pada Wednesday, 22 August 2007 pada 5:06 pm:
amin….
pada Wednesday, 22 August 2007 pada 11:07 pm:
Love Indonesia, always
pada Monday, 27 August 2007 pada 7:12 pm:
Mungkin udah saatnya kedepan ini nada postif dan menyemangatkan sedianya lebih banyak dimunculkanke permukaan – ibarat lagu: gantilah memutar lagu2 seriosa bak jeritan orang sakit-gigi itu.. dan mulailah memasang musik yang berirama fast beat dan menggelorakan semangat..
Kita bisa bangkit, berlari mensejajarkan diri dengan anak bangsa lainya, HANYA pada saat kita berhenti menangis dan meretap, mengambil keputusan untuk bangun dan terus mengejar ketinggalan
Each individual has ‘a shared-responsibility’ to cheer up the whole grass-root..
Salam merah putih selalu, dari kita-kita yang juga sedang berjuang di negeri orang mengharumkan nama bangsa..
pada Tuesday, 28 August 2007 pada 5:34 am:
Attaaa … hawaryuu… lamo ta basuo .. kangen oi … ketemuan yuukss … aku mo ke jkt niiy next week ..
pada Wednesday, 29 August 2007 pada 1:09 pm:
hallo mbak ,senang kenal dengan mbak ,mbak jika diam bukanlah jawaban ,mengapa kita tersenyum dalam keheningan .teman saya dari singapore bilang indonseia kaya tapi mengapa”miskin”suatu pertanyaan yang sangat susah untuk di jawab
pada Friday, 31 August 2007 pada 7:57 am:
merdeka !!!!!!!!!!!!!!!!
pada Friday, 31 August 2007 pada 1:28 pm:
ah, jadi bangga pada majalah yang berhasil menggugah sisi terdalam dirimu itu …
pada Wednesday, 5 September 2007 pada 9:51 pm:
bicara tentang ‘mengeluh’ bangsa di benua sini juga gemar mengeluh kok, Ta. Tiap tiga kata misuh. A part of sentence
Tapi mengeluh kadang juga perlu kok, karena ada banyak orang yg suka memanfaatkan sikap ‘nrimo’ orang.
oot: aku sering melihat namamu tercetak tebal di list itu. Tapi ada tanda ‘dilarang masuk’ di sebelahnya. Pasti sedang dikejar deadline. Jadi aku tak menyapa meskipun ingin
pada Sunday, 9 September 2007 pada 7:12 pm:
… saya curiga, narasumber berkacamata yang bicara soal keluh-keluhan itu jangan-jangan Aa Gym? atau, setidaknya dia pernah dengar dari Aa Gym? hehe… Tapi saya setuju. Merdekaaa..!
pada Wednesday, 12 September 2007 pada 2:00 pm:
‘ta, apa kabar? met puasa ya, maaf lahir batin…
pada Thursday, 13 September 2007 pada 7:05 am:
Saya juga cinta Indonesia, tapi (ada tapi-nya…) seperti bentuk2 cinta yang lainnya, ada gradasi antara benci dan rindu. Benci kalau melihat saudara sendiri mau menang sendiri, rindu kalau melihat sesama saudara bisa gotong royong. Cinta tanpa mengeluh itu sama dengan cinta buta, tapi cinta dengan pikiran rasional (dan kritis) bisa memacu usaha. Weleh kok jadi ceramah… jadikan saya narasumber saja ya
pada Sunday, 16 September 2007 pada 4:33 pm:
merdekaaaaaaa ……… !!!
saya juga yakin, indonesia akan lebih baik dari saat ini ….
btw, met menjalankan ibadah puasa
pada Thursday, 20 September 2007 pada 6:25 am:
saya bayangkan negeri itu akan seperti negeri senja
indah, atta! saya masih menantikan saat perjumpaan kita hahaha … tidak apa-apalah, toh saya masih bisa mengunjungimu di negeri senja ;p *peluk atta*
pada Wednesday, 26 September 2007 pada 12:06 pm:
Oeee..mak, ini udah puasa lage. kok masih edisi kemerdekaan mulu
bijimana? udah ada blongnya belum?
pada Monday, 8 October 2007 pada 5:41 am:
Atta, kenapa nggak menulis lagi????
pada Wednesday, 10 October 2007 pada 11:36 am:
itulah sebabnya, saya lebih suka hidup di kampung.. daripada di indonesia..
pada Thursday, 11 October 2007 pada 11:04 am:
attaaaa…. pa kabar…
Met Idul Fitri ya, Minal aizin wal faidzin..
Maaf lahir batin
pada Thursday, 11 October 2007 pada 1:41 pm:
minal aidin wal fa idzin. mohon maaf lahir dan batin aja yo na
pada Friday, 12 October 2007 pada 12:50 pm:
To Atta and/or pembaca setia atta @ negeri-senja;
Taqabbalallaahu minnaa wa minkum, shiyaamana wa shiyaamakum,
kulu ‘aamin wa antum bi khoirin,
minal ‘aidin wal faidzin
pada Friday, 26 October 2007 pada 3:20 pm:
jeng, kamu kok tampak langsing sekarang. apa rahasianya?
pada Thursday, 15 November 2007 pada 4:00 pm:
bener..!!
negeri ini terlalu banyak mengeluh..!!
dasar dudulz..!!
dah benwitnya mahall.!!
jalan macet..!!
*loh?loh? ngeluh lagiii…*
hihi..
pada Thursday, 28 February 2008 pada 4:27 pm:
Mencerahkan sekali membaca tulisan ini,… yaah malu juga karena aku salah satu makhluk di Indonesia yang juga suka mengeluh,.. mencintai tapi juga mengeluh,.. … tapi yakin Indonesia akan lebih baik…