Sunday, 14 September 2008
Saat banjir datang
Banjir menggenangi rumah saya. Pada Minggu malam lalu. Pintu air, yang dibangun tak jauh dari rumah, kini mulai membuat ulah. Sebelumnya tak pernah ada air sederas malam itu masuk ke rumah, lewat sela-sela pintu depan, dan terus menggenangi seluruh ruangan. Datang selepas tengah malam. Air baru surut selepas subuh. Hanya kakak saya yang melihat air pergi karena hanya ia seorang diri di rumah. Saya dan Ma’e sudah mengungsi saat melihat ketinggian air terus bertambah.
Dan cerita sesudahnya berujung pada kelelahan. Sampai saat ini rumah masih belum kembali rapi. Buku-buku saya turut menjadi korban. Beragam CD musik juga. Kaset peninggalan masa silam juga. Aneka kepingan DVD juga. Hard disk eksternal juga. CPU juga. Hahaha. Daftarnya bisa lebih panjang lagi jika hendak dirunut.
Kami memang tak sempat membereskan barang-barang karena air datang teramat cepat.
Awalnya saya kesal sekali. Saya membereskan rumah sebelum liputan. Libur di hari Rabu juga saya gunakan untuk membersihkan beragam barang yang kotor karena terendam air banjir.
Kekasih hati, iya, si harum hutan yang baik hati dan rupawan itu
, datang untuk menenangkan. Mengambil peran dengan membantu mengeluarkan air dari ruang tengah dan ruang depan.
Untung bukan kebakaran ya, ujarnya, saat kami berdua duduk melepas lelah setelah berhasil membersihkan lumpur. Dahinya dipenuhi bulir-bulir keringat.
Kalau kebakaran, barang-barang habis, sedih, tuturnya lagi.
Dan saya lupa. Musibah sekecil ini sudah membuat saya lalai melihat nikmat lain yang jauh lebih besar. Ramadhan memang selalu punya cara untuk memberikan hikmah.
Kemarin ia datang lagi. Bukan untuk mengepel lantai rumah tapi untuk mengajak saya memutari kota. Ia, yang tiba setelah saat berbuka puasa, membawa dua kuntum lili putih dan dua kue enakenakenak dari pabrik keju dan kue di bilangan Tebet. Tanggal 13 memang layak untuk dirayakan. Bukan begitu beib?
Kekasih saya adalah jeda terbaik dari rentetan aktivitas membersihkan rumah hampir sepekan ini.
Mudah-mudahan pekan depan rumah sudah kembali seperti sedia kala. Seperti sebelum air datang lewat tengah malam pada Minggu pekan lalu.
Mmm, rasanya setelah ini saya harus meluangkan waktu untuk menulis dengan rutin. Bukan begitu?
pada Sunday, 14 September 2008 pada 8:11 pm:
Jakarta banjir lagi…???
moga-moga tahun depan lebih bisa ditanggulangi…
pada Sunday, 14 September 2008 pada 8:21 pm:
Yuk nulis. Eh, lelaki harum hutanmu itu, punya blog gak?
pada Sunday, 14 September 2008 pada 9:38 pm:
lama gak ada kabar, ternyata ada musibah. Pasti banyak data yang rusak/hilang ya?
Ikut berduka cita untuk itu. Harum hutan bener. Kalau kebakaran semuanya habis. Enak ya, punya hutan
pada Monday, 15 September 2008 pada 6:02 am:
iya, nulis dengan rutin. ikut prihatin ya.. semoga tidak membawa kerugian yang banyak.
harum hutan itu.. lama gak dengar cerita tentangnya… kapan saling bertaut janji sehidup semati? Semoga secepatnya ya…
pada Monday, 15 September 2008 pada 7:48 pm:
asyik Atta nulis lagi, sorry for the flood
pada Tuesday, 16 September 2008 pada 12:51 pm:
Bukan! Eh, IYA, begitu! Nulis dengan rutin lagi
Ikut prihatin atas banjirnya ya Ta… Untung ada pria wangi karbol itu ya. Salam buat dia
Smg sll berbahagia. Hugs Atta
pada Tuesday, 16 September 2008 pada 8:23 pm:
saya harus meluangkan waktu untuk menulis dengan rutin. Bukan begitu? >>>> itchu betchulll… menulislah lagi!
jangan inget barang2 yang kena banjir…tar sakit hati.
pada Wednesday, 17 September 2008 pada 8:54 am:
wis ndang nikah wae
pada Wednesday, 17 September 2008 pada 11:59 am:
ah ah ah…

ternyata harum hutan adalah pengambaran bau karbol…?
tak kira emang beneran baunya alami spt hutan…
ikut prihatin ya ta… tetep nulis…
pada Sunday, 21 September 2008 pada 6:39 am:
ikut prihatin ya ta
sssttt…salam buat si lelaki harum hutan yah. so, kapan nih diresmiin :p
pada Sunday, 21 September 2008 pada 1:21 pm:
aih mbak nulis lagi, sorry for the flood and koleksi dvd plus hard disknya

emang klo pas bete2 ada yang menenangkan lega bgt rasanya apalagi klo bawa kue
btw, lama2 saya penasaran ama kekasih hati mbak, bayanginnya harumnya pake wipol hihihi
pada Monday, 22 September 2008 pada 3:14 pm:
salam untuk your beib
he’s so sweet
*aku kangen atta*
pada Thursday, 25 September 2008 pada 5:48 am:
banjir, ya, mbak?. Aduh, padahal, disini g hujan2. panas banget. debu banyak banget. Coba hujannya bisa di sebar lebih rata, ya…………
ayo, mbak nulis lagi. Saya pengenpengenpengen banget baca tulisan terbaru lagi dari mbak Atta. Btw, lelaki harum hutan kok g dicantumin blognya?
pada Friday, 26 September 2008 pada 3:10 am:
Ah, senangnya atta menulis kembali. Ikut bersedih atas musibah banjirnya. Semoga setelah ini baik-baik saja ya.
pada Saturday, 27 September 2008 pada 4:58 pm:
Ikut bersimpati ya Ta, apalagi sekarang Bogor makin sering ujan bu…
pada Monday, 29 September 2008 pada 4:54 pm:
hadu, bantu doa aja ya…
moga ga perlu banjir dulu untuk bisa baca-baca disini lagi…
pada Wednesday, 1 October 2008 pada 5:08 am:
turut prihatin dengan musibah banjirnya.. moga2 nggak kejadian lagi ya.. udah nyoba mikir untuk mindahin barang2 ke storage house gitu?
pada Wednesday, 1 October 2008 pada 5:19 am:
dear atta,
selamat idul fitri buat kamu, kakak, mae, dan lelaki harum hutan
pada Monday, 6 October 2008 pada 8:32 am:
Atta.. please seringseringsering nulis lagi yaah.
pada Thursday, 9 October 2008 pada 7:42 pm:
Wah kebanjiran ya..
Duh yang olahraga air, ngepel lagi lagi ngepel
He… he…
Semangat ya bos.
Semoga tahun depan gak ada banjir-banjir lagi.
pada Thursday, 9 October 2008 pada 7:44 pm:
Oh iya hampir aja lupa
Met Idul Fitri 1429 H
Minal Aidzin Wal Fa Izin
Mohon Maaf lahir dan batin.
pada Sunday, 12 October 2008 pada 8:54 pm:
Negeri senja……..masihkah berpenghuni….?
pada Friday, 17 October 2008 pada 12:39 pm:
Where have u been??
pada Tuesday, 21 October 2008 pada 7:10 pm:
[...] Mengapa dinamakan negeri senja? Padahal senja adalah akhir dari terangnya siang, dan awal untuk datangnya malam yang kelam. Dan sepertinya di negeri tersebut baru saja dilanda banjir. [...]
pada Tuesday, 11 November 2008 pada 2:54 pm:
Turut prihatin mba. Aku dapat rekomendasi dari seseorang untuk belajar menulis di sini. Salam kenal
pada Friday, 5 December 2008 pada 12:02 am:
masih ada untungnya,
kan ?:)
smoga musibah cepat berlalu
pada Wednesday, 21 January 2009 pada 12:54 pm:
[...] Mengapa dinamakan negeri senja? Padahal senja adalah akhir dari terangnya siang, dan awal untuk datangnya malam yang kelam. Dan sepertinya di negeri tersebut baru saja dilanda banjir. [...]
pada Friday, 27 March 2009 pada 5:43 pm:
bersyukur atas semua kejadian
mampir ya ke putihitam
salam kenal