Friday, 25 April 2008

Orang Baik

Sejak pertama kali Ma’e, ibu saya, tahu saya akan hidup jauh darinya, di lain kota, sembilan tahun lalu, saya mencoba mencari kecemasan di wajahnya. Kata orang-orang, seorang ibu kerap kali cemas begitu akan melepas putrinya. Tapi saya gagal. Saya tak menemukan rasa cemas. Tidak sedikitpun. Hingga saya lulus kuliah dan kembali lagi hidup seatap dengannya, tidak sekalipun ibu saya cemas akan keselamatan saya. Ia selalu tenang.

Pun ketika saya bepergian, sesuatu yang dulu sering saya lakukan karena pekerjaan atau kesenangan. Ma’e akan melepas saya di hari keberangkatan dengan wajah yang tenang, bukan cemas.

Satu kali, saya pernah menanyakan hal ini padanya. Kalau kecemasan selalu berdiam di hati orang tua yang begitu mencintai buah hatinya, mengapa cemas itu tak kunjung muncul dari ibu saya?

Ia menjawab: “Itu karena Ma’e percaya kebaikan selalu berbuah dengan kebaikan. Kalau kita menjaga sikap dan berusaha untuk berbuat baik, kebaikan mungkin akan kembali ke Ma’e atau ke Atta, atau ke Mas Andi, atau ke orang yang lain. Jadi di manapun, saat Atta jauh dari rumah, Ma’e yakin akan ada orang baik yang membantu Atta.”

Tak butuh waktu lama untuk meyakini apa yang Ma’e katakan itu benar adanya.

Saya, berbeda 180 derajat dengan Ma’e yang tabah dan tenang, cenderung mudah panik dan khawatir akan sesuatu yang belum jelas gambarannya. Pindah desk misalnya. Redaktur yang membawahi desk saya sampai perlu menenangkan saya karena saat itu, saat saya membaca surat penugasan, wajah saya terlihat sangat gugup. Beragam pertanyaan yang diawali dengan kata bagaimana memenuhi kepala saya. Bagaimana kalau begini, begitu.

Dan benar saja. Hari pertama penugasan, saya sudah disambut dengan kematian tokoh besar. Alih-alih menyenangkan, liputan pertama justru menegangkan. Nomor kantor menghubungi saya terus menerus. Saya juga harus melaporkan informasi terkini untuk program berita di radio, yang masih tergabung dalam satu grup dengan media tempat saya bekerja sekarang, sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya.

Apesnya, saya tak membawa charger ponsel. Padahal pada saat-saat seperti itu, ponsel -bukan ponsel dengan baterai yang sekarat tentunya- adalah satu hal wajib yang harus ada. Ide saya semula adalah kantor mengutus seseorang ke tempat kejadian dan membawa charger atau ponsel dengan baterai penuh. Tapi ide tersebut akhirnya batal. Saya sendiri loh yang membatalkannya :)

Iya, karena setelah saya berpikir dengan tenang, saya ingat, seseorang yang saya kenal -mmm … tidak terlalu baik, bukan teman sepermainan, hanya kenal sebatas kenal- yang tinggal di dekat situ. Hebatnya lagi, rumahnya -rumah mertua kenalan saya itu tepatnya- hanya berjarak beberapa rumah saja dari rumah mendiang. Begitu saya coba kontak, dia ternyata memang tengah berada di rumah itu.

Bahagia rasanya saat dewi penolong itu membukakan pintu pagar rumahnya, mempersilahkan saya masuk, meminjamkan charger ponsel yang mereknya sama dengan ponsel yang saya punya, dan memberikan saya segelas air putih dingin.

Kenalan saya itu sangat hangat. Suaminya juga. Saya meninggalkan ponsel saya di sana dan kembali lagi berjibaku di ruas jalan depan rumah tokoh yang telah berpulang itu. Saya kembali lagi ke rumah itu untuk mengambil baterai ponsel yang kembali terisi.

Dia … ya, kenalan saya itu, orang baik pertama yang saya temui di desk saya yang baru.

Dia seperti orang terdepan di sebuah rangkaian orang baik-orang baik yang akan saya temui di hari-hari selanjutnya, di penugasan saya yang baru.

Teman-teman liputan saya yang sekarang menjadi orang baik kedua, orang baik ketiga, orang baik keempat, dan seterusnya, dan seterusnya. Siapa menyangka liputan di tempat dengan serangkaian aturan formal yang harus dipatuhi ternyata bisa berubah menjadi liputan yang menyenangkan.

Teman-teman baru saya begitu baik. Padahal satu, dua orang di antara mereka adalah orang-orang yang telah lama menekuni profesi sebagai jurnalis. Pengetahuan mereka terhadap beragam masalah jauh lebih dalam dibandingkan apa yang saya tahu. Jejaring mereka juga sangat luas. Tapi lihat, di sini tak ada orang pongah. Mereka riang. Ramai. Ramah. Lucu. Tak pelit isu. Saling membantu Dan rajin bekerja. Saya sangat bersyukur atas ini.

Saya percaya apa yang Ma’e katakan benar. Jadi jangan berhenti menabur kebaikan ya, sebab percayalah, dengan cara yang tidak terduga, pertolongan akan datang dari beragam cara, beragam pintu, dari orang baik-orang baik :)

46 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 21:16.

kembali ke atas

Wednesday, 19 March 2008

Rita SKeeter

Beberapa hari lalu

teman: kok nyantai?
saya: iya dong. liputannya kan lagi nggak berat. la wong dia-nya juga ke luar negeri
teman: enggak ikut?
saya: ada orang kantor yang ditugaskan berangkat bersamanya
teman: jadi tugas sehari-hari elo emang cuma dikhususkan buat ngeliput dia?
saya: iya :D
teman: ya ampun, gue pikir yang begitu itu cuma Rita Skeeter, ngintilin ke mana Harry Potter pergi
saya: ha-ha-ha. iya ih. bener banget.

Dan beginilah, dalam beberapa hari ini, sejak awal pekan lalu, ritme saya mengalami perlambatan, tak sekencang biasanya. Bisa bangun tidur lebih siang, pergi cari DVD, makan pizza bareng pacar , chatting chatting dan chatting lagi, dan bisa … mengisi blog ;)

O ya, yang ingin tahu Rita Skeeter lebih dekat, dapat menjumpai sosoknya di sini

untuk rita skeeter-rita skeeter yang lain: sampai berjumpa minggu depan yah, tetap semangat ;)

21 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 15:28.

kembali ke atas

Tuesday, 12 February 2008

Seru

Dulu, saya sering kali disodori pertanyaan semacam ini?

Oh, wartawan? Kok nggak ke RSPP (Rumah Sakit Pertamina Pusat)? -ini sewaktu berita seputar mantan Presiden almarhum Soeharto tengah menjalani perawatan di rumah sakit tersebut-

Atau ini

Wah, sering ketemu artis dong? -hihihihi, mereka pikir saya bagian dari pekerja jurnalisme infotainment-

Atau ini?
Sering wawancara koruptor, pencuri, kayak di televisi itu?

Wartawan, dalam gambaran sebagian orang, adalah pekerja media yang beredar di segala tempat, di banyak bidang. Tak salah memang. Beberapa media, seperti televisi, situs berita, dan media cetak, menempatkan wartawannya di beragam bidang, pada saat yang bersamaan. Ya, beredar. Sangat beredar. Wartawan tadi bisa memulai hari dengan liputan kebakaran di utara Jakarta, lalu bergeser meliput diskusi politik seputar penyelesaian kasus yang tengah panas, dan mengakhiri liputan hari itu dengan menghadiri peluncuran produk ponsel terbaru.

Saya selalu salut dengan wartawan jenis ini. Perlu kemampuan tinggi untuk berpindah angle berita dengan cepat dan tidak dibuat bingung karenanya.

Tidak semua wartawan masuk ke dalam barisan ini. Dulu saya setia pada desk teknologi. Liputan saya sehari-hari hanya berkisar di seputar teknologi. Lain tidak. Dengan begitu saya bisa fokus. Tentu saya tidak perlu ke RSPP, atau mewawancarai koruptor hingga pelaku kejahatan dan menunggu berjam-jam di depan rumah artis yang kabarnya akan segera bercerai, tapi tak kunjung mengajukan gugatan. Saya hanya beredar di lingkungan yang berkaitan dengan teknologi.

Menyenangkan? Pasti. Saya punya banyak waktu untuk memotret, pergi ke sana dan ke situ, melakukan ini dan itu.

Tapi itu dulu … :)

Sudah hampir sebulan ini saya meninggalkan desk, tempat yang saya geluti dari awal saya masuk ke dunia jurnalisme. Sekarang saya tak ubahnya wartawan yang harus beredar dari satu isu ke isu lain. Meski kadang tak harus berpindah tempat dan tetap di lokasi yang sama. Semua harus dikerjakan dengan cepat. Orang yang saya temui tiap hari berganti-ganti.

Di teknologi dulu saya nyaris tak pernah menemui liputan pada malam hari. Tapi sekarang? ;) Kemarin, misalnya, saya mesti menunggu sebuah pertemuan yang belum juga usai hingga malam hari. Oh ya, belum lagi jika lokasi liputan harus bergeser ke timur Jakarta, sebuah tempat yang kerap disebut-sebut dalam pemberitaan.

Selain mengubah ritme kerja, saya juga dipaksa untuk merombak penampilan. Ha-ha-ha. Lupakan celana denim (saya juga jarang menggunakan celana denim saat liputan di teknologi, tapi jangan coba-coba menggunakannya di liputan yang sekarang).

Perlu waktu untuk mensyukuri desk baru ini. Sampai sekarang saya masih tergopoh-gopoh. Tapi untungnya saya tak sendiri. Sekumpulan teman baru yang juga meliput di desk ini benar-benar menyenangkan. Hari-hari saya tak lagi seburam seperti saat pertama kali saya dipindahkan.

Seru. Sekarang kata ini yang menempel di pikiran saya.

Tahun ini bisa jadi tak banyak tempat yang akan saya kunjungi. Tak banyak perjalanan dan hari libur. Tapi insya Allah itu sepadan dengan pengalaman yang akan saya temui di tempat baru ini ;)

Saya akan terus berusaha dengan baik. Hidup saya tak akan berakhir di sini. Saya tahu itu. Dan bukankah sesuatu yang tidak dapat membunuhmu akan membuatmu jauh lebih kuat? Saya akan bertahan dan tetap bersemangat. Pasti ;)

37 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 19:40.

kembali ke atas

Sunday, 13 January 2008

Tanggal 13

Angka 13 dikenal berteman dekat dengan kesialan. Tertarik untuk mengetahui lebih lanjut penyebab mengapa angka ini identik dengan bad number, saya kemudian menyambangi Paman Google. Paman yang baik hati ini bekerja sangat cepat. Di layar terpampang beragam temuan. Salah satu yang terlihat di layar, siapa lagi kalau bukan, adalah Wikipedia.

Satu alasan, yang saya jumpai di sana, adalah kala satu kelompok obyek atau orang terdiri dari 13, upaya membagi kelompok itu ke dalam kelompok kecil yang masing-masing beranggotakan dua, tiga, empat, atau enam, akan sia-sia. Selalu ada satu orang yang tertinggal. Itu sebabnya angka 13 identik dengan ketidakberuntungan. Masih banyak penjelasan, latar belakang, yang memberikan gambaran mengapa cap buruk menempel pada angka 13.

Tapi ternyata di beberapa tempat, angka 13 ini tidak dianggap sebagai angka yang buruk. Di Italia misalnya si 13 dipercaya membawa keberuntungan. Saya sendiri mempercayai setiap angka adalah baik. Sama seperti saya mempercayai setiap hari adalah hari baik.

Angka atau penanggalan dalam kalender, untuk saya, memiliki fungsi penanda. Kira-kira serupa patok saat berupaya temukan satu rumah di daerah yang masih asing. “Nanti kalau sudah ketemu pohon waru terus belok kiri. Nah dari sana kira-kira sepuluh meter lagi sudah terlihat kok rumahnya.” Pohon Waru merupakan penanda yang memudahkan proses pencarian, memudahkan perjalanan.

Itu mungkin sebabnya banyak orang perlu merenung di malam pergantian tahun. Awal satu Januari menjadi patok, saat di mana orang melihat kembali perjalanan, memanggil kembali kenangan akan peristiwa yang sudah lewat, dan merancang apa yang akan dilakukannya pada 365 hari mendatang. Angka dalam kalender menautkan ingatan dengan masa lalu dan masa depan.

Buat kami, saya dan laki-laki harum hutan, tanggal 13 juga mengemban fungsi yang sama; sebagai patok, penanda. Tak pernah ada momen khusus atau perayaan pada tanggal itu. Dia biasanya lebih dulu mengirimkan pesan pendek. Isinya lebih kepada harapan dan doa untuk relasi kami ke depannya. Seingat saya, hanya satu kali dia alpa. Kala itu tanggal 13 Oktober tahun lalu bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri. Dia datang ke rumah. Dan saya menunggu ucapan khas tanggal 13. Tapi hingga pertemuan usai, dia tak kunjung mengucapkannya. Ha-ha-ha.

Tanggal 13 di bulan-bulan pertama relasi kami dijalin merupakan representasi dari masa penyesuaian yang kala itu terasa menguras energi. Hati harus terus menerus dikuatkan. Penerimaan atas beragam perbedaan tak henti dilakukan.

Sekarang langkah saya dalam menapaki perjalanan ini jauh lebih ringan. Sumbernya bisa jadi dari keyakinan saya yang semakin menguat, terus menguat. Kami menyelaraskan banyak hal. Saya terus menghargai pilihan-pilihannya, sebaliknya ia juga selalu mendukung langkah yang saya ambil.

Saya bersyukur atas kehadirannya dalam hidup. Dia mendengarkan, memahami, menyayangi. Saya merasakan bahagia yang menetap. Menyenangkan. Tentu masih ada ketidaksesuaian yang sesekali saya jumpai dalam hubungan ini. Tapi hingga saat ini, 13 Januari, berdua kami berhasil melaluinya. Perjalanan menuju tanggal 13 tanggal 13 lainnya semoga kian mengekalkan apa yang sudah kami rintis.

selepas hari jadi …
untuk kamu; yakin usaha sampai yah :)

33 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 20:43.

kembali ke atas

Sunday, 23 December 2007

Rumah

Wamena

Selasa sore pekan lalu, saya kembali ke Jakarta. Setelah sempat tertunda sehari akibat maskapai yang “ajaib” -memberikan kursi pada penumpang lain, padahal tiket sudah dikonfirmasi-, saya tiba di rumah, selepas perjalanan dari timur yang sangat-sangat menyenangkan.

Wamena dan Jayapura menawarkan banyak. Saya bisa dengan mudahnya jatuh cinta dengan Wamena. Pada bonggol-bonggol awan putih, langit biru, hijau pohon, terik matahari, pebukitan. Wamena, hanya bagian kecil dari Papua, yang begitu cantik.

Selasa sore pekan lalu, saya kembali ke Jakarta. Selalu saja perasaan itu datang setiap kali saya kembali ke sini, ke Jakarta. Kota tempat saya berumah. Aneh, meski dijejali dengan banyak hal yang kurang saya senangi -termasuk kemacetan dan perilaku tergesa-gesa yang ditunjukkan banyak warga kota-, selalu ada perasaan senang yang menyusup di hati. Tiba di rumah selalu menentramkan :)

Kelak saya akan temukan perasaan tenteram itu di satu kota lain. Di manakah? Saya juga belum tahu. Tapi saya memetakannya dengan jelas di pikiran. Tempat di mana pantai berpasir putih tak terlalu jauh dari pusat kota, udara masih bersih, penduduk kota yang ramah dan hidup berdampingan dengan rukun, barisan pohon flamboyan, sambungan Internet yang baik -aha!-, dan laki-laki yang harumnya bisa dicuri kapan saja. Satu hari nanti … saya akan temukan rumah itu :)

33 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 19:14.

kembali ke atas


Kredit

© Negeri Senja | Ditenagai oleh WP 2.3.1. | Tree oleh Headsetoptions, tema minimal berbasis HyperBallad | Kandungan: XHTML + CSS | Ke Atas