Tuesday, 12 February 2008

Seru

Dulu, saya sering kali disodori pertanyaan semacam ini?

Oh, wartawan? Kok nggak ke RSPP (Rumah Sakit Pertamina Pusat)? -ini sewaktu berita seputar mantan Presiden almarhum Soeharto tengah menjalani perawatan di rumah sakit tersebut-

Atau ini

Wah, sering ketemu artis dong? -hihihihi, mereka pikir saya bagian dari pekerja jurnalisme infotainment-

Atau ini?
Sering wawancara koruptor, pencuri, kayak di televisi itu?

Wartawan, dalam gambaran sebagian orang, adalah pekerja media yang beredar di segala tempat, di banyak bidang. Tak salah memang. Beberapa media, seperti televisi, situs berita, dan media cetak, menempatkan wartawannya di beragam bidang, pada saat yang bersamaan. Ya, beredar. Sangat beredar. Wartawan tadi bisa memulai hari dengan liputan kebakaran di utara Jakarta, lalu bergeser meliput diskusi politik seputar penyelesaian kasus yang tengah panas, dan mengakhiri liputan hari itu dengan menghadiri peluncuran produk ponsel terbaru.

Saya selalu salut dengan wartawan jenis ini. Perlu kemampuan tinggi untuk berpindah angle berita dengan cepat dan tidak dibuat bingung karenanya.

Tidak semua wartawan masuk ke dalam barisan ini. Dulu saya setia pada desk teknologi. Liputan saya sehari-hari hanya berkisar di seputar teknologi. Lain tidak. Dengan begitu saya bisa fokus. Tentu saya tidak perlu ke RSPP, atau mewawancarai koruptor hingga pelaku kejahatan dan menunggu berjam-jam di depan rumah artis yang kabarnya akan segera bercerai, tapi tak kunjung mengajukan gugatan. Saya hanya beredar di lingkungan yang berkaitan dengan teknologi.

Menyenangkan? Pasti. Saya punya banyak waktu untuk memotret, pergi ke sana dan ke situ, melakukan ini dan itu.

Tapi itu dulu … :)

Sudah hampir sebulan ini saya meninggalkan desk, tempat yang saya geluti dari awal saya masuk ke dunia jurnalisme. Sekarang saya tak ubahnya wartawan yang harus beredar dari satu isu ke isu lain. Meski kadang tak harus berpindah tempat dan tetap di lokasi yang sama. Semua harus dikerjakan dengan cepat. Orang yang saya temui tiap hari berganti-ganti.

Di teknologi dulu saya nyaris tak pernah menemui liputan pada malam hari. Tapi sekarang? ;) Kemarin, misalnya, saya mesti menunggu sebuah pertemuan yang belum juga usai hingga malam hari. Oh ya, belum lagi jika lokasi liputan harus bergeser ke timur Jakarta, sebuah tempat yang kerap disebut-sebut dalam pemberitaan.

Selain mengubah ritme kerja, saya juga dipaksa untuk merombak penampilan. Ha-ha-ha. Lupakan celana denim (saya juga jarang menggunakan celana denim saat liputan di teknologi, tapi jangan coba-coba menggunakannya di liputan yang sekarang).

Perlu waktu untuk mensyukuri desk baru ini. Sampai sekarang saya masih tergopoh-gopoh. Tapi untungnya saya tak sendiri. Sekumpulan teman baru yang juga meliput di desk ini benar-benar menyenangkan. Hari-hari saya tak lagi seburam seperti saat pertama kali saya dipindahkan.

Seru. Sekarang kata ini yang menempel di pikiran saya.

Tahun ini bisa jadi tak banyak tempat yang akan saya kunjungi. Tak banyak perjalanan dan hari libur. Tapi insya Allah itu sepadan dengan pengalaman yang akan saya temui di tempat baru ini ;)

Saya akan terus berusaha dengan baik. Hidup saya tak akan berakhir di sini. Saya tahu itu. Dan bukankah sesuatu yang tidak dapat membunuhmu akan membuatmu jauh lebih kuat? Saya akan bertahan dan tetap bersemangat. Pasti ;)

38 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 19:40.

kembali ke atas

Sunday, 13 January 2008

Tanggal 13

Angka 13 dikenal berteman dekat dengan kesialan. Tertarik untuk mengetahui lebih lanjut penyebab mengapa angka ini identik dengan bad number, saya kemudian menyambangi Paman Google. Paman yang baik hati ini bekerja sangat cepat. Di layar terpampang beragam temuan. Salah satu yang terlihat di layar, siapa lagi kalau bukan, adalah Wikipedia.

Satu alasan, yang saya jumpai di sana, adalah kala satu kelompok obyek atau orang terdiri dari 13, upaya membagi kelompok itu ke dalam kelompok kecil yang masing-masing beranggotakan dua, tiga, empat, atau enam, akan sia-sia. Selalu ada satu orang yang tertinggal. Itu sebabnya angka 13 identik dengan ketidakberuntungan. Masih banyak penjelasan, latar belakang, yang memberikan gambaran mengapa cap buruk menempel pada angka 13.

Tapi ternyata di beberapa tempat, angka 13 ini tidak dianggap sebagai angka yang buruk. Di Italia misalnya si 13 dipercaya membawa keberuntungan. Saya sendiri mempercayai setiap angka adalah baik. Sama seperti saya mempercayai setiap hari adalah hari baik.

Angka atau penanggalan dalam kalender, untuk saya, memiliki fungsi penanda. Kira-kira serupa patok saat berupaya temukan satu rumah di daerah yang masih asing. “Nanti kalau sudah ketemu pohon waru terus belok kiri. Nah dari sana kira-kira sepuluh meter lagi sudah terlihat kok rumahnya.” Pohon Waru merupakan penanda yang memudahkan proses pencarian, memudahkan perjalanan.

Itu mungkin sebabnya banyak orang perlu merenung di malam pergantian tahun. Awal satu Januari menjadi patok, saat di mana orang melihat kembali perjalanan, memanggil kembali kenangan akan peristiwa yang sudah lewat, dan merancang apa yang akan dilakukannya pada 365 hari mendatang. Angka dalam kalender menautkan ingatan dengan masa lalu dan masa depan.

Buat kami, saya dan laki-laki harum hutan, tanggal 13 juga mengemban fungsi yang sama; sebagai patok, penanda. Tak pernah ada momen khusus atau perayaan pada tanggal itu. Dia biasanya lebih dulu mengirimkan pesan pendek. Isinya lebih kepada harapan dan doa untuk relasi kami ke depannya. Seingat saya, hanya satu kali dia alpa. Kala itu tanggal 13 Oktober tahun lalu bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri. Dia datang ke rumah. Dan saya menunggu ucapan khas tanggal 13. Tapi hingga pertemuan usai, dia tak kunjung mengucapkannya. Ha-ha-ha.

Tanggal 13 di bulan-bulan pertama relasi kami dijalin merupakan representasi dari masa penyesuaian yang kala itu terasa menguras energi. Hati harus terus menerus dikuatkan. Penerimaan atas beragam perbedaan tak henti dilakukan.

Sekarang langkah saya dalam menapaki perjalanan ini jauh lebih ringan. Sumbernya bisa jadi dari keyakinan saya yang semakin menguat, terus menguat. Kami menyelaraskan banyak hal. Saya terus menghargai pilihan-pilihannya, sebaliknya ia juga selalu mendukung langkah yang saya ambil.

Saya bersyukur atas kehadirannya dalam hidup. Dia mendengarkan, memahami, menyayangi. Saya merasakan bahagia yang menetap. Menyenangkan. Tentu masih ada ketidaksesuaian yang sesekali saya jumpai dalam hubungan ini. Tapi hingga saat ini, 13 Januari, berdua kami berhasil melaluinya. Perjalanan menuju tanggal 13 tanggal 13 lainnya semoga kian mengekalkan apa yang sudah kami rintis.

selepas hari jadi …
untuk kamu; yakin usaha sampai yah :)

33 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 20:43.

kembali ke atas

Sunday, 23 December 2007

Rumah

Wamena

Selasa sore pekan lalu, saya kembali ke Jakarta. Setelah sempat tertunda sehari akibat maskapai yang “ajaib” -memberikan kursi pada penumpang lain, padahal tiket sudah dikonfirmasi-, saya tiba di rumah, selepas perjalanan dari timur yang sangat-sangat menyenangkan.

Wamena dan Jayapura menawarkan banyak. Saya bisa dengan mudahnya jatuh cinta dengan Wamena. Pada bonggol-bonggol awan putih, langit biru, hijau pohon, terik matahari, pebukitan. Wamena, hanya bagian kecil dari Papua, yang begitu cantik.

Selasa sore pekan lalu, saya kembali ke Jakarta. Selalu saja perasaan itu datang setiap kali saya kembali ke sini, ke Jakarta. Kota tempat saya berumah. Aneh, meski dijejali dengan banyak hal yang kurang saya senangi -termasuk kemacetan dan perilaku tergesa-gesa yang ditunjukkan banyak warga kota-, selalu ada perasaan senang yang menyusup di hati. Tiba di rumah selalu menentramkan :)

Kelak saya akan temukan perasaan tenteram itu di satu kota lain. Di manakah? Saya juga belum tahu. Tapi saya memetakannya dengan jelas di pikiran. Tempat di mana pantai berpasir putih tak terlalu jauh dari pusat kota, udara masih bersih, penduduk kota yang ramah dan hidup berdampingan dengan rukun, barisan pohon flamboyan, sambungan Internet yang baik -aha!-, dan laki-laki yang harumnya bisa dicuri kapan saja. Satu hari nanti … saya akan temukan rumah itu :)

33 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 19:14.

kembali ke atas

Monday, 19 November 2007

Ada Tidak Ya?

Bertahun-tahun mengakrabi diri dengan blog menghasilkan basis pertemanan baru. Menyenangkan. Banyak di antara rumah maya tersebut yang secara rutin saya kunjungi. Menyimak kisah-kisah terbaru milik mereka, tentang beragam hal; keluarga, situasi kekinian, film, musik, politik, cinta, dan banyak lagi.

Tak jarang beberapa di antaranya tak lagi mendapat pasokan kisah baru. Kisah seperti berhenti dirajut. Pada saat-saat seperti ini, aneka pertanyaan pun terbentuk: apakah mereka baik-baik saja? kira-kira apa ya yang tengah mereka lakukan sehingga belum ada lagi kisah tersaji?

Beberapa bulan ini saya tak lagi secara rutin menulis di rumah maya, halaman putih ini. Ritme pekerjaan yang kini kian cepat harusnya tak dijadikan kambing hitam untuk jeda saya kali ini. Toh banyak orang dengan kesibukan yang jauh lebih menggunung ketimbang saya masih dapat memasok tulisan dengan periode yang ajeg. Lemahnya disiplin dan pembagian waktu yang amburadul memberi kontribusi yang signifikan (hahaha, bahkan bahasa menulis berita keras pun terbawa kemari) terhadap mengendurnya semangat menulis.

Emm … Saat saya tidak mengisi halaman putih ini pada waktu-waktu lalu, kira-kira ada tidak ya sebuah pertanyaan -yang biasanya saya tujukan pada orang-orang yang lama tidak terlihat di blog mereka- di benak kalian? Kira-kira si Atta ini ke mana ya? ;) (Hahaha, saya ini, memangnya saya siapa? :p)

Saya tetap di sini, bahagia dengan aktivitas yang saya hadapi, dan gembira bisa sampai di fase yang sekarang. Saya masih terus mencintai kehidupan, terus jatuh cinta pada orang yang sama setiap harinya -laki-laki harum hutan yang rasanya makin rupawan dari hari ke hari-. Saya masih tetap berkelana (tak sabar rasanya untuk menceritakan perjalanan terakhir saya ke Kepulauan Derawan, surga yang membuat saya makin bangga jadi orang Indonesia). Saya masih akan menulis. Berusaha untuk tidak terlena terlalu lama, mencoba tidak membiarkan kemalasan membekap saya lebih erat.

Ah, senang rasanya bisa kembali … ;)

54 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 8:34.

kembali ke atas

Wednesday, 15 August 2007

Pasti lebih baik

“Saya sangat prihatin dengan banyaknya bencana yang saat ini menimpa rakyat Indonesia, tapi saya yakin bangsa Indonesia akan bisa bertahan dari semua itu. Sama ketika bangsa Indonesia bertahan sejak tahun 1955 …”
(Kutipan dari Boyd R. Compton pada artikel Sebuah Indonesia Idaman Mereka, Majalah Tempo Edisi Khusus Kemerdekaan, Halaman 110-114)

Saya terharu membaca kalimat tadi. Majalah Tempo berhasil menggugah sisi terdalam saya, mengingatkan saya kembali akan kecintaan saya pada negeri ini; Indonesia. Agustus dengan merah putih di sana-sini memang pemantik yang ampuh.

Dan kenyataan yang saya dapatkan akhir-akhir ini membuat saya yakin -mungkin sama seperti keyakinan yang dimiliki Compton- kalau negeri ini, tanah tempat saya berpijak setiap harinya, menjalin jejaring, tumbuh, menghirup udaranya dalam-dalam, begitu mencintai setiap incinya, Indonesia, akan lebih baik.

Saya yakin itu.

Keyakinan yang tidak muncul begitu saja, tapi ada karena beragam temuan

Seorang murid kelas enam sekolah dasar, anggota dari tim pembuat film yang berhasil menang di festival berskala internasional -saya lupa nama ajangnya- bisa dengan fasih bertutur tentang pilihan hidupnya kelak.

Lalu tulisan tentang sosok orang-orang hebat di sebuah harian yang saya langgani. Dari penjaga lingkungan, pejuang Hak Asasi Manusia, guru di daerah terpencil, pelestari budaya, beragam profesi yang membuat saya tahu negeri ini tak pernah kehilangan orang-orang yang berjuang untuk perbaikan

Beberapa hari lalu saya juga sempat mengunjungi sebuah pameran. Beragam aplikasi buatan anak negeri, dari film animasi -dengan dukungan animator lokal berusia muda yang karyanya apik- hingga perangkat lunak untuk mendukung kegiatan belajar. Hebat.

Ya, saya tahu, ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh negeri ini. Segudang peraturan dan sistem yang “ajaib”. Tata kelola yang belum baik. Korupsi yang belum ditumpas hingga ke akar. Dan masih banyak lagi.

Tapi sebuah masukan dari seorang teman berbincang -narasumber berkacamata yang pintar tapi begitu rendah hati- mungkin bisa jadi renungan. Begini katanya:

“Bangsa ini terbiasa mengeluh. Dari supir taksi yang saya naiki, hingga pelayan warung tempat saya makan. Dari pejabat negara hingga kalangan profesional. Kondisi hidup saat ini memang pantas membuat mereka mengeluh, mungkin. Tapi kerja tak akan selesai kalau kita hanya mengeluh. Saya membayangkan sebuah negeri yang mayoritas penduduknya mengerjakan sesuatu dengan gembira, bahagia, semua mengejar tujuan yang sama, kebaikan untuk semua, dari semua segi, ekonomi hingga politik. Mungkin agak sulit untuk mengubah orang-orang seumuran saya atau Anda, tapi saya ingin cucu-cucu saya juga anak-anak Anda nanti bisa sampai sampai ke kondisi yang saya idam-idamkan itu, hidup di negeri yang minim keluhan.”

Saya yakin, bangsa yang elok ini pasti akan jauh lebih baik dari sekarang…

selamat ulang tahun Indonesia :)

33 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 18:29.

kembali ke atas


Kredit

© Negeri Senja | Ditenagai oleh WP 2.3.1. | Tree oleh Headsetoptions, tema minimal berbasis HyperBallad | Kandungan: XHTML + CSS | Ke Atas