Monday, 13 July 2009
Kemarin gerimis turun sejak pagi hari. Semula saya berharap matahari akan menyembul dari peraduannya. Sayang yang ditunggu tak kunjung nampak bahkan hingga kami, saya, ina, Hee Rim dan Yoo -dua teman dari Korea Selatan, dan Ida -gadis pemberani dari Denmark-, berangkat dari asrama menuju Kromme Rijn dengan berjalan kaki.
Kemarin kelas diliburkan. Peserta sekolah musim panas dapat mengikuti program sosial yang tersedia pada hari itu, seperti Discovery Holland dan menyusuri sungai dengan kano. Kami memilih program sosial.
Beruntung kami bertemu dengan Ida. Ia telah mempelajari rute berjalan kaki dari asrama menuju tempat pertemuan. Dan percayalah, jika berjalan dengan ahlinya, kalian akan sampai ke lokasi yang dituju dan tepat waktu
-untuk saya yang bukan ahli pembaca peta, keahlian Ida membuat saya kagum, ia bahkan tidak pernah membuka petanya selama perjalanan-
Sepertinya perhatian peserta lebih banyak tersedot ke program Discovery Holland, karena tak banyak peserta yang kami temui di program menyusuri sungai dengan kano ini. Acara juga nyaris dibatalkan karena hujan tak juga berhenti.
Untunglah semua akhirnya bisa bersenang-senang dan melatih otot lengan dengan mengayuh dayung
Dan perjalanan menuju titik awal mendayung diisi dengan mengunjungi Fort of Rhijnauwen. Benteng yang dibangun pada abad ke 18 ini masih berdiri tegak. Peruntukkannya kini berubah, selain sebagai tujuan wisata dan sejarah, benteng ini juga menjadi tempat penyelenggaraan pertunjukan kesenian. Saat ini misalnya tengah digelar opera bertajuk “King Arthur”.

Seorang pemandu pria paruh baya yang ramah menemani rombongan memasuki ruang-ruangan di dalam benteng. Mulai dari tempat interogasi tawanan, lubang pengintai musuh, hingga ruang istirahat para prajurit. Sebagian ruangan di dalam benteng sangat minim cahaya. Alhasil tak jarang peserta berjalan dalam gelap.

Puas memutari ruangan benteng, dengan ditemani seorang pemandu yang ramah, rombongan kemudian bergerak menuju titik awal bermain kano. Ini acara yang dinanti para peserta. Wajah-wajah pun terlihat kian bersemangat.
Satu kano diisi dua peserta. Saya berpasangan dengan seorang mahasiswa dari Inggris yang sangat mahir mendayung. Tahu bahwa mitra kanonya hari itu tak menguasai teknik mendayung, ia langsung membagi pengetahuannya.
“Jadi begini ya, pegang dayungnya begini, terus kayuh bergantian. Ini caranya kalau arah dayung lurus ke depan, kalau mau belok ke kanan, pegang dayung di sini, terus kalau ingin belok ke kiri, begini caranya. Nah, kalau mau mundur lain lagi,” ujarnya, panjang lebar.
Sebenarnya ini bukan kali pertama saya mendayung. Beberapa tahun lalu saya pernah melakukan olahraga sejenis di Lombok dan Ujung Kulon. Tapi karena bukan aktivitas yang sering dilakukan, tetap saja saya jauh dari mahir.

Untungnya cuaca jauh lebih bersahabat. Gerimis yang sempat turun pada awal perjalanan telah mereda. Tapi sepanjang perjalanan kami tak mandi cahaya matahari. Meski Belanda telah memasuki musim panas, di beberapa tempat di dalam perjalanan menyusuri sungai, udara tetap terasa dingin.
Kami menemui banyak pemandangan yang menarik. Rumah-rumah dengan arsitektur yang manis lengkap dengan kerimbungan pohon bunga, sekawanan bebek yang berenang di tepi sungai, gerombolan sapi yang tengah merumput, seorang kakek yang sibuk melepas pakaian dan menyisakan celana pendeknya lalu terjun ke sungai … dan berenang ;), dan hijau pohon di sepanjang perjalanan.
Lebih dari itu, suasana mendayung juga dipenuhi gelak. Sesekali kano sengaja dibenturkan ke kano tetangga. Empat orang peserta juga terlihat bertukar sapa dan sibuk memberi nama kano yang mereka tumpangi. Suasana terkesan cair dan sangat akrab. Kalau sudah begini kehangatan senyuman mengalahkan udara dingin.
Membayangkan tiap-tiap orang berdatangan dari tempat asal yang berbeda-beda, menempuh perjalanan dengan beragam moda transportasi dan waktu perjalanan yang beragam, dan tiba di satu titik, kemudian tertawa bersama terasa begitu menyenangkan.
Dan percayalah, Jumat itu adalah hari yang manis untuk saya
Friday, 10 July 2009

Selama di Utrecht, peserta summer course ditempatkan di sejumlah kawasan. Sebagian siswa bertempat tinggal tak jauh dari kampus Universitas Utrecht di De Uithof. Lainnya di asrama yang berbeda. Saya dan Ina termasuk golongan yang beruntung karena kami ditempatkan di Parnassos Cultural Center, yang terletak di Kruisstraat, 201.

Ini gedung yang menjadi pusat aktivitas mahasiswa. Sejumlah kegiatan dilangsungkan di sini, termasuk pertemuan para mahasiswa internasional. Panitia yang merancang program sosial untuk siswa summer course juga melakukan pertemuan rutin di gedung ini. Satu pagi saya juga mendapati empat orang berlatih memainkan alat musik di bangku-bangku merah jambu di lobi.

Semua kegiatan kebudayaan bertempat di sisi kiri dari pintu masuk, sementara asrama, dengan 72 kamar yang biasanya digunakan para mahasiswa untuk program studi yang digelar dalam jangka waktu pendek, berada di sisi kanan.

Dari gedung kampus Utrecht di Drift, tempat kelas musim panas berlangsung, gedung ini bisa dicapai dengan berjalan kaki. Ada dua jalan yang dapat dipilih. Dari depan gedung kampus belok ke kiri lalu ke kiri lagi menuju Biltstraat, terus lurus melewati Keizerstraat dan Lucasbolwerk, terus lagi dan sampai di Kruisstraat. Jika melalui rute ini, gedung Parnassos ada di sebelah kiri jalan.
Rute lain yang juga bisa dipilih adalah dari gedung Utrecht di Drift belok ke kanan, tiba di perempatan ambil arah kiri menuju Nobelstraat, terus hingga menemui persimpangan antara Maliesingel dan Kruisstaart, belok ke kiri lurus, dan Parnassos ada di sebelah kanan.
Rute pertama dan rute kedua sama menariknya. Kita bisa temukan toko-toko kecil yang menawarkan beragam suguhan, dari kopi hingga supermarket, dari toko roti sampai gedung teater, dari tempat mencuci cetak foto sampai makelar rumah, dari penyalur tenaga kerja sampai salon.
Parnassos berdiri di lokasi yang sangat sangat strategis. Untuk menuju pusat kota, penghuni asrama dapat berjalan kaki menuju Centrum sekitar 20 menit. Kalau sedang terburu-buru bisa naik bis yang menuju Central Station dari Wittevrouwen, halte terdekat dari Parnassos terletak tak jauh dari Museum Maluku -yang bisa dibilang bertetangga dengan Parnassos-. Pemberhentian bis ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki hanya dalam waktu lima menit saja
Semua kamar dilengkapi dengan meja belajar, tempat tidur, lemari, dan rak. Ada keran untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Kamar mandi terdapat di luar kamar. Mereka juga menyediakan dapur. Peralatannya lengkap, sangat lengkap. Ada dua kompor listrik, microwave, dan kulkas. Selain perlengkapan untuk memasak, di dapur juga bisa ditemukan peralatan untuk mencuci, seperti mesin cuci dan pengering.
Yang lebih menyenangkan lagi. Kamar-kamar di bagian belakang, termasuk kamar saya -yay- memiliki jendela-jendela lebar yang dapat dibuka dan menjadi akses menuju … taman. Saya sukasukasuka sinergi perpaduan antara jendela lebar dan taman.

Pada hari-hari pertama di sini, udara masih terasa dingin. Jadi jendela lebih banyak tertutup dan saya hanya menikmati pemandangan dari balik kaca. Tapi belakangan cuaca bertambah baik dan baik. Hari ini jendela saya buka hingga saya bisa dapat mendengar gesekan daun juga merasakan semilir angin yang memenuhi ruang kamar. Seperti senja-senja sebelumnya, sekelompok orang akan datang ke taman dan bermain sepak bola atau basket sampai petang pergi.
Saya senang memiliki tempat tinggal yang nyaman selagi jauh dari rumah.
Dan di luar sana, tetangga saya dari Romania sedang menghabiskan sore bersama dengan tetangga yang lain; laki-laki dari Spanyol yang tengah mengambil kursus administrasi publik di negaranya dan bercita-cita menjadi pegawai negeri. Tepat di samping kamar saya, mahasiswa dari Korea Selatan kebingungan bagaimana menghabiskan malam dengan tidur sendirian karena ia tak diizinkan membawa teman Korea-nya yang lain, yang tinggal di kamar yang berbeda, menginap di tempatnya, seperti malam-malam sebelumnya (petugas asrama tahu hal ini dan langsung melarangnya).
Saya harap mereka juga merasakan hal yang sama; tempat tinggal yang nyaman dan membuat mereka tidak merasa asing selama mereka di sini

Thursday, 9 July 2009
Ungkapan “katakan dengan bunga” sangat terasa di Belanda. Saat pertama kali menjejakkan kaki di Bandar Udara Internasional Schiphol, Amsterdam, saya melihat rangkaian bunga berwarna cerah banyak dibawa para penjemput untuk menyambut sahabat mereka yang baru saja tiba. Kehangatan sebuah perjumpaan kian lengkap dengan buket bunga yang diserahkan sebagai tanda kasih.
Di Utrecht juga demikian. Toko bunga bisa ditemukan di pinggir-pinggir jalan. Saya senang melihat penjual bunga yang menjajakan dagangannya di bawah tenda. Aneka bunga ditaruh di dalam wadah-wadah besar menanti pembeli.

Dan hati saya kian berbunga-bunga sewaktu melihat segerombolan bunga matahari. Saya jatuh hati pada jenis bunga yang satu ini sejak dahulu kala. Bagi saya, ia bunga termanis sejagat. Saya menemukannya di sebuah gerai di atas jembatan kecil di mana sungai yang bersih mengalir di bawahnya.
Karib bunga matahari juga dapat dijumpai di sini. Mawar misalnya.

Duh, hati siapa tak merona saat melihat kuntum-kuntum mawar yang cantik.
Ini juga…

Atau ini

Bunga beraneka warna

Cukup 5 euro saja dan kalian sudah bisa membawa pulang 20 batang

Selain bunga potong, ada juga bunga di dalam pot. Yang ini 2,99 euro

Bunga menghiasi jalan dalam kota

dan mempermanis sepeda

Kalau nanti kalian berkunjung ke Utrecht, bunga dapat ditemukan di mana-mana; ditanam di bawah jendela rumah, dijumpai di meja-meja kafe di ruang terbuka, di toko bunga stasiun, di tanam di tiang-tiang di sepanjang trotoar (yang awalnya saya kira adalah bunga plastik. aduduh), di mana-mana. Pemandangan orang membawa buket bunga juga mudah ditemukan.
Data dari Flower Council of Holland menyebutkan pada tahun lalu pertanian bunga potong di negeri ini mencapai 2.809 hektar, sedangkan bunga dalam pot mencapai 1.431 hektar. Dan tahukah kalian, posisi teratas masih ditempati oleh mawar, disusul dengan krisan dan tulip.
Jika ada kesempatan, ayo, kunjungi Utrecht dan nikmati perasaan yang berbunga-bunga
Thursday, 9 July 2009
Pengalaman meliput pemilihan umum legislatif pada 9 April 2009 menjadi catatan tersendiri dalam karir jurnalistik saya. Maklum, sebagai jurnalis yang ditempatkan di halaman politik. perhelatan pesta demokrasi merupakan puncak dari rangkaian persiapan pemilihan umum yang sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari. Alhasil, pada hari pencontrengan, saya meliput mulai pagi hari hingga lepas maghrib.
Saya masih ingat betul momen itu. Melihat proses pemungutan suara, menghubungi pengamat politik, menelepon lembaga riset yang melakukan penghitungan cepat, sampai menunggu pernyataan dari para peserta pemilihan umum. Bisa dibilang itu adalah hari tersibuk sepanjang tahun ini.
Semula saya kira saya juga akan kembali mengalami hari yang heboh pada pemilihan presiden. Tapi ternyata takdir berkata lain
Saat ini saya berada jauh dari rumah, jauh dari kantor, jauh dari rutinitas yang saya lakoni selama di Jakarta. Tapi saya tetap bersemangat untuk memberikan suara. Kian semangat sejak saya mendengar kabar bahwa Mahkamah Konstitusi mengeluarkan putusan yang membolehkan pemilih menggunakan hak pilihnya dengan berbekal Kartu Tanda Penduduk dan paspor. Kalau peraturan ini belum keluar, bisa jadi saya akan kesulitan menggunakan hak pilih, karena nama saya jelas-jelas tak ada di dalam daftar pemilih tetap di Belanda.
Jadi, sore tadi, setelah kelas usai, saya, Ina, qq, dan Mbak Wangge berangkat dari Utrecht menuju Kedutaan Besar RI (KBRI) di Den Haag. Kami bertolak dengan menumpang kereta api. Perjalanan menuju Den Haag memakan waktu sekitar 40 menit. Dari Stasiun Den Haag Central, kami melanjutkan perjalanan dengan bis dan berjalan kaki menuju KBRI.

Prosesnya sangat mudah. Sesampainya di KBRI, kami hanya perlu menunjukkan paspor. Pendaftarannya juga sangat cepat. Setelah mendapatkan kartu suara, masing-masing dari kami, kecuali Mbak Wangge karena ia telah mendapatkan surat suara yang dikirimkan lewat pos, menuju bilik suara dan memilih. Mudah dan cepat.

Ketua Panitia Pemilihan Pemilu Luar Negeri (PPLN) Pak Moeljo Wijono menuturkan bahwa animo masyarakat Belanda untuk mengikuti pemilihan presiden terlihat tinggi. Sejak pagi, pemilih datang ke KBRI dan mengantri untuk mencontreng. Suasana KBRI juga terlihat kian semarak karena pemilih umumnya datang bersama keluarga. Ia juga optimistis, jumlah surat suara yang kembali juga akan tinggi.
Meski sibuk mengurusi ini dan itu, Pak Moeljo mengatakan ia senang melakukan ini. “Ini sudah pemilu ketiga loh saya jadi Ketua,” ujarnya, tersenyum.
Berbeda dengan Pak Moeljo yang telah berkali-kali menggunakan hak pilihnya di Negeri Tulip, ini pengalaman pertama untuk saya. Senang melihat bahwa kendati dipisahkan oleh jarak yang teramat jauh, ikatan sebagai bangsa tidak lantas pupus.
Bagi saya, siapapun presiden yang terpilih, semoga keadaan di Tanah Air ke depannya jauh lebih baik. Saya ingin sekali sistem transportasi kita jauh lebih baik, seperti yang saya lihat di sini. Saya juga ingin perekonomian kian meningkat; tidak hanya besaran pertumbuhan ekonominya saja tapi juga pertumbuhan yang menggenjot kualitas hidup masyarakat. Saya juga berharap makin banyak orang Indonesia yang dapat mengenyam pendidikan tinggi dan ikut terlibat dalam komunitas global. Saya percaya kita sebenarnya mampu
Bukan begitu?
Wednesday, 8 July 2009

Kalau saya menyebut kata “liburan”, apa yang muncul di pikiran kalian bisa jadi adalah pasir putih dengan pohon nyiur yang melambai. Atau menjelajah Bangkok, yang tak hanya membuat kaki menjadi lelah tapi juga mengakibatkan kantong kian menipis -yang ini tentu karena banyak produk-produk lucu ditawarkan dengan harga yang miring-
Atau makan sate ayam enak bersama dua sahabat di Penang, Malaysia.
Untuk Hee Rim, mahasiswa Desain Tekstil dari Korea Selatan, liburan kali ini sama artinya dengan bepergian meninggalkan Benua Asia menuju Eropa dan mendarat di Utrect. Ia menjadi salah satu peserta Utrecht Summer School untuk program European Cultures and Identities yang diadakan Universitas Utrecht. Ini program yang juga tengah saya ikuti.
Ya, liburan kali ini baginya berbeda dengan liburan-liburan sebelumnya. Seorang diri, Hee Rim berangkat dari Seoul menuju Amsterdam.
“Saya ingin mencari pengalaman,” ujarnya, ramah, ketika satu sore saya berjalan dengannya di pinggir kanal tak jauh dari gedung kampus tempat kelas berlangsung.
Mengisi liburan dengan mengikuti program-program singkat yang ditawarkan universitas bukan hanya milik Hee Rim semata. Tapi juga milik Jane dari Hong Kong, Noah dari Amerika Serikat, Cheng dari Beijing, Unou dari Estonia, Sasha dari Inggris, dan ribuan mahasiswa lainnya.
Mengikuti Sekolah Musim Panas di Universitas Utrecht bahkan menjadi program wajib untuk mahasiswa Studi Eropa di Universitas Hong Kong.
“Ada sekitar 40 orang yang tahun ini ikut. Semua teman satu angkatan. Kami berangkat bersama-sama dari Hong Kong. Ini memang program rutin dari universitas kami,” ujar Jane.

Dimulai pertama kali pada 1987, hanya dengan satu program; Dutch Culture and Society, kini Utrecht Summer School menawarkan lebih dari 90 program, yang terbagi ke dalam enam program besar, yaitu budaya, bahasa, ilmu-ilmu sosial, ekonomi dan hukum, ilmu pengetahuan, dan life sciences.
Pada tahun lalu, program-program tersebut mampu menarik lebih dari 1.300 peserta yang berasal dari 80 negara di berbagai belahan dunia.
Kendati singkat, umumnya satu program berlangsung selama satu hingga enam minggu, banyak hal yang bisa didapatkan oleh peserta Utrecht Summer School. Interaksi antara peserta yang satu dengan peserta yang lain misalnya akan menambah pengetahuan dan tentu saja memperluas jejaring pertemanan.
Universitas Utrecth mengemas program ini dengan sangat baik. Informasi mengenai jadwal dan sebagainya dapat dengan mudah dilihat di situs mereka. Selain urusan akademis, sekolah musim panas ini juga dibekali dengan program sosial yang dapat diikuti mahasiswa. Beberapa program mengharuskan pesertanya untuk membayar, tapi banyak juga yang dapat diikuti tanpa harus merogoh kocek alias gratis. Biasanya program sosial ditaruh di jam-jam di mana kelas usai. Peserta dapat memilih aneka program; dari tur berjalan kaki melihat sejumlah titik menarik di Utrecht, menonton film, berolahraga, musik, hingga menyusuri kanal dengan kano. Seru bukan?
Saya sudah mencoba tur dalam kota. Agenda ini ditaruh di hari pertama kelas dimulai. Tujuannya untuk mendekatkan kota Utrecth kepada para peserta. Dengan dua pemandu -mereka ini juga mahasiswa yang tergabung dalam Erasmus Student Network-, kami berkeliling melihat Utrecht lebih dekat lagi. Titik awalnya dimulai dari Dome Tower. Di sela-sela perjalanan kami juga sempat mengunjungi kafe Olivier untuk melepas haus dan penat.

Selain tur, saya juga telah mengantungi tiket untuk jalan-jalan dengan kano. Harga tiketnya 15 euro. Perjalanan akan dilakukan pada hari Jumat. Kemarin saya lihat Hee Rim juga membeli tiket.
Jadi siapa bilang Hee Rim kehilangan liburannya. Meski jauh dari rumah, keluarga, dan sahabat, Juli di Belanda justru adalah liburan yang berbeda dan menyenangkan untuknya. Di sini, ia bersua dengan teman baru dari negara sendiri, Hee Rim bertemu dengan tiga orang dari Korea Selatan, dan dari negara lain; saya misalnya dari Indonesia. Ia juga dimanjakan oleh keelokan kota Utrecht.
“Saya suka Utrecht. Gedung-gedung tuanya bagus. Setelah kelas selesai, saya juga akan melihat kota-kota lain di Belanda,” katanya.
Kalau ingin mencari sensasi liburan yang berbeda, apa yang dilakukan Hee Rim bisa ditiru. Jauh-jauh hari menabung dan merencanakan perjalanan dengan baik; termasuk berburu tiket promo dari sejumlah maskapai dapat mengantarkan kalian sampai ke sini