Friday, 27 July 2007
Saya ingat betul pertama kali ia, mitra strategis saya; si harum hutan yang baik hati
, menuturkan rencananya untuk meneruskan pendidikan.
Waktu itu kami tengah melintas di seputaran Mampang, selatan Jakarta, di satu ritual putar-putar kota yang biasa kami lakukan. Seraya mengemudi ia bercerita tentang rencananya itu.
Reaksi pertama saya? Tentu senang. Benar, saya senang sekali mendengar ia memikirkan itu.
Ia lalu menyiapkan semuanya. Pergi ke kota di mana universitas tempatnya akan meneruskan pendidikan untuk mendaftar, kemudian pergi lagi ke sana untuk mengikuti ujian. Saya juga ikut cemas menunggu hasil ujian. Dan ikut gembira saat satu sore pesan pendeknya datang mengabarkan namanya ada di dalam barisan nama dalam pengumuman.
Kemarin ia juga kembali ke kota itu lagi; melakukan pendaftaran ulang dan berputar-putar mencari tempat tinggal yang akan dihuninya selama ia menjalani kehidupan di sana.
Rasanya baru kemarin, kami melintasi Mampang.
dan sekarang
Satu jejak akan dimulainya. Saya tahu ada nyala dalam hatinya saat ini. Dari percakapan telepon yang kami lakukan semalam, saya bisa menangkap semangat di dalam hatinya. Syukurlah. Saya memang ingin ia memulai tahapan baru ini dengan semangat, dengan sebongkah harap, dengan berpikir positif.
Setelah dia pergi, saya pasti mudah rindu. Tapi bukankah teknologi bisa memangkas jarak dan membuat yang jauh menjadi terasa dekat?
Jadi, sama seperti dia, saya juga akan bersemangat melepasnya.
Ayo maju Hon.
Saat ini giliranmu, lain kali giliran saya yang akan meneruskan pendidikan 
Friday, 6 July 2007
Ah, akhirnya bisa juga kembali ke sini. Menulis hal-hal remeh dan tak penting.
Oke.
Sekarang apa yang ingin ditulis?
Ini saja
atau itu saja
lebih baik ini
atau itu?
Terlalu lama meninggalkan halaman putih ini ternyata punya efek buruk. Saya bingung menentukan angle *blah*
Baiklah saya akan menulis tentang bedah. Iya bedah, operasi, atau carilah kata lain yang mampu mewakilinya.
Ini kali ketiga (ya, kali ketiga, tiga kali operasi *sigh*) dalam tahun ini saya harus berhubungan dengan dokter bedah. Dua kasus sebelumnya berkenaan dengan organ dalam, pencernaan tepatnya. Untung tidak terjadi sesuatu apa. Luka bekas operasi kedua masih tampak dan sedikit bermasalah saat saya memaksakan diri untuk snorkeling di Pulau Oar.
Iya, saya sempat ke Pulau Oar. Pulau kecil ini letaknya di dekat Pulau Umang. Cerita tentang Pulau Oar ini disimpan saja dulu (Lihat saya mulai bingung menentukan arah cerita)
Jadi, Sabtu pekan lalu saya kembali menghadapi pisau bedah. Kali ini giliran mulut. Saya pikir rahang saya sudah cukup besar untuk menampung semua gigi-gigi. Tapi ternyata, o .. o, tidak ada tempat untuk gigi-gigi bungsu. Alhasil geraham-geraham yang letaknya di sudut itu harus dibedah. Dari empat geraham, dokter gigi memutuskan untuk mengambil satu geraham atas dan satu geraham bawah bagian kanan dulu.
Sakit?
Jangan ditanya.
Saat operasi berlangsung, dokter bedah sempat pundung, setengah mengancam ia berkata: “Mbak, kalau mbak tak juga tenang, saya hentikan di sini loh,” ujarnya.
Duh. Saya berusaha keras mengatur kembali nafas saya. Tenang tenang, ucap saya dalam hati, bayangkan yang indah-indah.
Dokter gigi -yang biasa saya kunjungi- dan membantu dokter bedah saat operasi ikut menenangkan: “Begini aja deh, biar kita tahu, kalau terasa sakit kamu angkat tangan kiri kamu ya.”
Dan kalian tahu, sejak dokter gigi menyelesaikan kalimat tadi hingga operasi hampir selesai, tangan kiri saya terus terangkat. Hahaha
Sekarang pipi kanan saya masih bengkak. Nyeri. Dua minggu lagi jahitan di sudut mulut bagian kanan ini baru bisa dilepas. Mudah-mudahan segera pulih.
Jadi, lebih baik sekarang saya beristirahat. Mandi. Mengganti pakaian bersih. Mematikan lampu kamar. Dan terlelap.
Jaga kesehatan dan selamat berakhir pekan
informasi mengenai gigi bungsu bisa disimak di Wikipedia
Thursday, 31 May 2007
Sabtu malam. Pelataran Monas. Menunggu air mancur menari. Duduk-duduk di bangku berjenjang. Hangat lampu taman. Tubuh Monas nan jangkung mandi cahaya. Merah, berganti hijau, lalu biru, dan ungu. Cantik
Sabtu malam. Pelataran Monas. Menunggu air mancur berjoget. Duduk di bangku berjenjang. Di sana-sini terdengar gelak. Ramai. Sekelompok ibu-ibu duduk berjejer dengan anak-anak mereka. Membuka bekal makan malam. Makan dengan lahap. Berbagi lauk. Bahagianya. Ayo habiskan sebelum air mancur mulai menari, ujar ibu pada anak perempuannya.
Sabtu malam. Pelataran Monas. Kami, saya dan laki-laki harum hutan, menunggu air mancur menari (saya sukasukasuka sekali air mancur menari-ajaib …) Duduk di ruang terbuka seperti ini menyegarkan jiwa. Bisa melihat ini dan itu. Melihat ibu pedagang minum yang berlari-lari kecil, sembunyikan botol-botol minum dari pengamatan penjaga. Bisa melihat ini dan itu, sambil tunggu air mancur meliuk ke sana ke mari. Bisa menangkap binar. Bisa memandang senyum. Bisa melihat Jakarta dengan cara yang lain, berbeda.
Sabtu malam. Pelataran Monas. Kami, saya dan laki-laki harum hutan, menunggu air mancur berjoget. Berbincang ini dan itu. Duduk di bangku berjenjang. Senang sekali mendapatkan mitra strategis yang juga gemar dudukduduk menunggu air mancur berjoget. Lebih senang lagi ketika di tengah pembicaraan kami, ia bertutur; satu kalimat yang manis …
“buatku bersama kamu ya nyaman aja, semua pas, enggak usah diubah-ubah lagi.”
Dan penat pun luruh
Dan bahagia pun berkumpul di hati
Dan menenangkan
Dan sepertinya makin siap menghadapi esok -hahaha-
Satu kalimat itu
saya tahu sejak dulu sesuatu itu makin saya yakini
dia, si harum hutan teman setia menunggu air mancur berjoget yang baik
dia …
jalan pulang menuju tenang
Thursday, 24 May 2007
Awalnya semua sempurna. Sehari sebelum hari H, rasanya sudah tak sabar ingin segera melihat aksi mereka merumput. Menunggu …
masih kurang 24 jam
tunggu lagi 20 jam
10 jam
5 jam
Harus segera pulang dari kantor. Menyiapkan energi untuk perhelatan lewat tengah malam. Dan membujuk tubuh untuk tidak terlelap. “jangan tidur yah, jangan tidur…. malam ini sejarah akan kembali ditorehkan, dan kita harus jadi bagian dari pesta malam ini” -hahahaha, sombong sekali kedengarannya-
Rasanya semua sempurna
saat satu per satu melangkah ke bidang segi empat berwarna hijau
Merah memang selalu terlihat mencerahkan sekeliling bukan?
Ah, mana si kapten? Itu dia. Malam itu ia tampak lebih gagah.
Rasanya semua sempurna
Kerumunan merah tak henti-hentinya bertepuk tangan. Menyenangkan
Dan pelatih berdasi merah berdiri di pinggir lapangan, meneriakkan ini dan itu.
Ya, semua hampir terasa sempurna
Hingga satu tendangan melewati tubuh pemain lawan dan … tidak. Dan kemudian satu tendangan lagi berhasil menggulirkan bola ke gawang.
Tadinya satu gol yang akhirnya berhasil dimasukkan pemain penyerang yang wajahnya malam itu tampak kemerahan diharapkan mampu menjadi awal dari sempurna yang hampir luruh…
Tapi
Hingga akhir perhelatan, hasilnya tak berubah. Sejarah tetap diukir, sayangnya bukan mereka -si merah itu- yang ada di papan teratas liga tahun ini.
Dan wajah-wajah pun tertunduk.
Rasanya semua sempurna,
nyaris …
*tulisan ini dibuat untuk Liverpool, hey … you will never walk alone*
Thursday, 12 April 2007
Sudah April
Saya selalu jatuh cinta dengan April
suka suka suka suka sekali
Sudah April ya?
Cepat sekali
Ada apa saja?
Ya, jadi ada apa saja?
Ada tanggung jawab baru. Perubahan ritme, dari hap hap hap menjadi haphaphap. Bertemu orang-orang baru. Menulis dengan gaya baru. Berpikir dengan pola baru. Sayangnya belum juga temukan ritme yang pas. Mungkin sebentar lagi. Tahun kerja keras harusnya disambut dengan optimistis, bukan begitu?
Ada apa saja?
Lainnya tak ada yang berubah. Meja kerja yang sama, masih di sudut. Kuntum-kuntum bunga matahari juga masih di situ. Tanaman rambat di pot sudah tak ada lagi. Satu diminta dengan senyum oleh teman -dan saya memberikannya dengan semangat, sebab si teman ini akan memberikan tanaman rambat dalam pot kecil itu pada istrinya-, satu lagi … mati. Sedih sekali melihatnya lunglai. Saya lalai menyiramnya. Dan ia layu. Mati. Dan tanaman dalam pot lain datang. Seorang teman di kantor memberikannya untuk saya. Pohon dengan daun dua warna. Saya harus menjaganya dengan lebih baik lagi. Harus.
Lalu, ada apa lagi?
Ada …
Ada operasi berikutnya
Setelah melalui pemeriksaan ini dan itu, saya harus kembali berpetualang. Kali ini jauh lebih siap. Maksudnya sedikit lebih siap. Mudah-mudahan tak terlalu “menghebohkan” seperti operasi yang saya lakukan awal Februari lalu. Yang saya tahu, saya pasti akan baik-baik saja. Doa saya semoga ini kali terakhir saya berurusan dengan rumah sakit di tahun ini
Jadi, ada apa lagi?
Ada apa ya?
Ah, bagaimana dengan kalian?
Ada apa saja?
Mari sambut April dengan senyum 