Thursday, 12 April 2007
Sudah April
Saya selalu jatuh cinta dengan April
suka suka suka suka sekali
Sudah April ya?
Cepat sekali
Ada apa saja?
Ya, jadi ada apa saja?
Ada tanggung jawab baru. Perubahan ritme, dari hap hap hap menjadi haphaphap. Bertemu orang-orang baru. Menulis dengan gaya baru. Berpikir dengan pola baru. Sayangnya belum juga temukan ritme yang pas. Mungkin sebentar lagi. Tahun kerja keras harusnya disambut dengan optimistis, bukan begitu?
Ada apa saja?
Lainnya tak ada yang berubah. Meja kerja yang sama, masih di sudut. Kuntum-kuntum bunga matahari juga masih di situ. Tanaman rambat di pot sudah tak ada lagi. Satu diminta dengan senyum oleh teman -dan saya memberikannya dengan semangat, sebab si teman ini akan memberikan tanaman rambat dalam pot kecil itu pada istrinya-, satu lagi … mati. Sedih sekali melihatnya lunglai. Saya lalai menyiramnya. Dan ia layu. Mati. Dan tanaman dalam pot lain datang. Seorang teman di kantor memberikannya untuk saya. Pohon dengan daun dua warna. Saya harus menjaganya dengan lebih baik lagi. Harus.
Lalu, ada apa lagi?
Ada …
Ada operasi berikutnya
Setelah melalui pemeriksaan ini dan itu, saya harus kembali berpetualang. Kali ini jauh lebih siap. Maksudnya sedikit lebih siap. Mudah-mudahan tak terlalu “menghebohkan” seperti operasi yang saya lakukan awal Februari lalu. Yang saya tahu, saya pasti akan baik-baik saja. Doa saya semoga ini kali terakhir saya berurusan dengan rumah sakit di tahun ini
Jadi, ada apa lagi?
Ada apa ya?
Ah, bagaimana dengan kalian?
Ada apa saja?
Mari sambut April dengan senyum 
Monday, 19 February 2007
Saya lahir di kota ini, puluhan tahun lalu. Saya besar di kota yang ramai ini. Meski setiap hari beraktivitas di sini, sampai sekarang saya masih tak hafal setiap sudutnya.
Ajak saya ke daerah Tebet. Buat saya kawasan itu bak labirin. Saya bisa terheran-heran melihat Warteg Warmo tiba-tiba ada di perempatan jalan di depan sana. Loh, bukannya masih satu perempatan jalan lagi? Tebet tak sendiri. Wilayah utara kota ini dan masih banyak daerah lain yang juga tak saya kuasai.
Bukan hanya sudut kota saja yang tak saya hafal. Puluhan tahun tinggal di sini, saya juga masih mereka-reka wajah kota sebenarnya. Hingga satu waktu, awal Februari lalu, saya dihadapkan pada wajah kota ini, kota yang puluhan tahun saya diami.
Wajah itu hadir di layar kaca, bersamaan dengan rangkaian gambar yang hadir silih berganti. Saya melihat wajah kota sambil terbaring. Menahan perih paska operasi (dan teman-teman dekat yang datang ke kamar saya waktu itu bertanya setengah tidak percaya -elo beneran sakit?- ketika saya bahkan tak mampu menyuap makan siang saya sendiri)
Wajah kota itu adalah wajah warga kota yang tetap bertahan di atap rumah mereka sementara air bergerak semakin tinggi. Mengepung. Menerjang. Mengurung.
Wajah kota itu adalah wajah perempuan yang tidur di tenda. Mengipasi anaknya. Dan bingung memikirkan air yang tak kunjung surut.
Wajah kota adalah deretan pasien yang datang terus menerus. Dan kabar nyawa-nyawa yang pergi karena terlambat ditangani.
Wajah kota itu saya jumpai dari barisan laki-laki bercelana pendek dan kaos yang basah kuyup, berdiri di muka gang, yang saya lihat dalam perjalanan pulang dari rumah sakit.
Wajah kota itu juga saya dapati saat saya menatap wajah-wajah mereka secara langsung, ketika saya kembali beraktivitas setelah enam hari dirawat di rumah sakit dan melanjutkan istirahat selama beberapa hari lagi di rumah.
Wajah-wajah kota itu adalah barisan yang mengular. Mereka mengantri. Berdiri. Karena kursi yang tersedia sangat sedikit dan tak menampung semua yang hadir.
saya batuk mbak. ini ketusuk beling. mau ganti kasa, kaki saya kena seng. anak saya demam, ini kakaknya panas tinggi. saya gatal-gatal . kepala pusing terus. lumpur sepinggang, nggak kuat bersihinnya. sudah seminggu ini kurang tidur.
Saya tak punya pengetahuan medis. Tapi untunglah, masih ada yang bisa dikerjakan. Kantor, tempat saya bekerja, menggandeng sebuah perusahaan swasta. Bahu membahu kami membuka posko pengobatan.
Apa yang keluar dari mulut ratusan orang yang hadir setiap harinya adalah gambaran dari wajah kota. Di Mampang, di Kampung Melayu, di Cipinang, di Karet, di Kali Malang, di Pengadegan, di Kalibata. Dan tempat-tempat lain yang tak sempat didatangi.
Wajah kota ini adalah genggaman lemah seorang ibu, yang menitikkan air mata sambil mengucapkan terima kasih saat tangan kanannya menerima obat dalam plastik putih.
Wajah kota ini adalah muka pucat seorang bocah laki-laki, memakai sepatu boot dari bahan karet warna hitam yang kotor terkena lumpur, duduk sambil menyandarkan kepalanya di kursi plastik warna merah, menunggu antrian bertemu dokter, siang itu.
Wajah kota ini adalah rasa cemas yang hinggap setiap kali hujan datang. “Semalem aer udah naik lagi neng, wah, ribet deh, deg-degan terus,” ucap seorang bapak. Di kota ini, hujan tak lagi romantis.
Jadi, teruslah membangun tuan-tuan. Apa yang kalian kerjakan turut membawa andil bagi pembentukan wajah kota sebenarnya; baskom raksasa yang mulai renta dan tak kunjung berbenah.
Monday, 29 January 2007
Mmm … kira-kira apa saja yang akan dibawa?
Saya membayangkan tas biru -dari sebuah operator seluler- rasanya cocok untuk menampung semua perlengkapan. Petualangan sekitar tiga sampai empat hari?
Pakaian ganti, cari yang bahannya nyaman, dan tak mudah kusut
Buku, ini wajib. Akan banyak waktu senggang, tak mungkin melamun, menonton televisi juga pasti akan sangat membosankan, mendengarkan musik? Mendengarkan musik sambil tak melakukan apa-apa rasanya juga kurang asyik. Jadi buku adalah teman yang pasti menyenangkan. Di perpustakaan pagi tadi saya menjadi orang pertama yang meminjam For One More Day karya Mitch Albom, di rumah juga ada The Miracle Life of Edgar Mint yang belum sempat dijamah sejak membelinya tahun lalu. Dua saja cukup. Kalau bosan ada Majalah Tempo edisi terbaru. Kalau masih bosan? Minta tolong mitra strategis untuk membawakan beberapa buku
Apa lagi?
Handuk, pakaian dalam, selimut harum yang baru diambil dari laundry, lalu Bergson -boneka anjing coklat yang ramah dan sabar- biasanya ditaruh di atas bantal saat membaca buku agar letak kepala lebih tinggi, kalau tidur Bergson bisa menutupi kuping. Nyaman rasanya.
Apa lagi?
Pashmina larik-larik merah dari India yang diberikan sahabat tercinta, minyak kayuputih -harum minyak kayuputih menenangkan, hidup tanpa minyak kayuputih rasanya tak mungkin-
mmm …
dan ini
dan itu
dan itu
yayaya.
Nanti malam saya akan berkemas. Untuk sebuah petualangan baru. Petualangan yang pintu gerbangnya saya masuki minggu lalu.
jadi prof? tanya saya kala itu pada sosok berambut putih dengan jas putih
ya, operasi, jawabnya, memandang saya.
Ia lalu mencoret-coret kertas putih. Profesor dengan serentetan gelar di depan dan belakang namanya itu menggambar. Ada luka di sini, di kedua sisinya, katanya sambil terus menggambar, membuat hitam yang lebih pekat pada kedua sisi garis lurus yang ia buat. Operasi akan menyembuhkannya, ucapnya, singkat.
Saya tak banyak bertanya. Usapan di lengan dari suster berbaju hijau, yang bahkan namanya pun tak saya ingat, terasa meneduhkan.
Dalam hidup selalu ada kali pertama, bukan begitu? Nah, ini kali pertama untuk saya. Petualangan baru ini tak ubahnya perjalanan yang sebelum ini pernah saya lakukan (bedanya kali ini saya tak ditemani Teddy -kamera Nikon andalan, yang memahami saya seutuhnya-). Semoga ada nutrisi jiwa yang saya kantungi setelah petualangan baru ini.
Saya tahu saya pasti akan baik-baik saja. Bukan operasi besar, hanya sedang saja. Ma’e tak akan direpotkan. Tak nyaman rasanya membiarkannya mengurus ini dan itu. Tokh saya tak benar-benar sendiri. Mitra strategis dengan sabar memberi dukungan tanpa henti. Teman-teman dekat juga selalu siaga. Saya akan baik-baik saja, hanya perlu memperbaiki sesuatu yang tidak beres di dalam sana. Prof dokter yang handal. Jadi, saya tahu: saya akan baik-baik saja. Pasti.
Selamat berjumpa kembali. Nikmati hari. Pandangi hujan. Ciumi aroma pagi. Bercanda dengan sinar matahari. Lakukan hal-hal menyenangkan yang membuat hati berseri. Jaga kesehatan, banyak minum air putih, terus berolahraga, dan berusaha untuk hidup lebih baik setiap harinya ya 
Wednesday, 17 January 2007
Ini adalah kisah. Tentang sebuah kota. Tambang mas Cenderawasih. Hutan perawan. Suara burung pelatuk. Lonceng pabrik penanda jam pulang para pekerja. Stasiun. Deru kereta ekspress. Lumbung padi petani Peter. Hotel Komodo Platina. Sepasang kekasih -yang laki-laki menjuluki jantung hatinya “kucing liarku”, si perempuan tak jarang menyapa kekasihnya dengan sapaan “macan kumbangku-. Kota Goela.
Empat puluh lima tahun berlalu. Manisnya Kota Goela tak lagi tersisa. Tambang emas Cenderawasih tak lagi beroperasi. Kereta api ekspress tak singgah di stasiun. Lonceng pabrik kini senyap. Pengangguran di mana-mana. Kota Goela bangkrut.
Dan sepasang kekasih itu …
Kucing liar telah lama pergi dari Kota Goela. Empat puluh lima tahun lalu. Menikah dengan Zakanasian, laki-laki kaya. Berganti nama menjadi Klara Zakanasian. Setelah kematian Zakanasian, ia menikah lagi, dan bercerai, dan menikah lagi, dan bercerai, dan menikah lagi, dan bercerai, begitu terus hingga tujuh pernikahan (dalam kisah ini Klara masih akan menikah dua kali lagi) … Harta Klara berlimpah ruah.
Macan kumbang tetap tinggal di Kota Goela. Sehari-hari menjaga toko kelontong miliknya; Toko Serba Ada Alipredi. Menikah dengan Mathilda. Memiliki dua anak, Koral yang tampan dan Otilli yang jelita.
Hingga satu saat, kereta ekpress berhenti di Stasiun Kota Goela. Dan Ia, Klara Zakanasian, datang menjenguk kota kelahiran yang kini muram. Dan warga kota menyambut dengan suka cita, penuh harap. Ini bukan kunjungan biasa. Nyonya tua -yang tetap memancarkan kecantikan masa mudanya- itu pasti dapat membuat perekonomian di kota ini bergerak kembali, menyulap warna kota yang kelabu menjadi cerah, begitu pikir warga.
Dan benar. Perempuan kaya raya itu berkenan mengucurkan dana, 1 triliun. Ya, satu triliun, ujarnya di pesta penyambutan. Lima ratus miliar untuk kota praja, lima ratus miliar lagi dibagikan ke penduduk kota.
Penduduk Goela bersorak
Tapi …
Uang akan dikucurkan dengan satu syarat; kematian Ilak Alipredi. Kucing liar akan merogoh kocek, memberikan satu triliun, dengan satu imbalan, nyawa macan kumbang, atas apa yang ia buat empat puluh lima lima tahun lalu; menghamili dan mencampakkan Klara.
Kunjungan Cinta. Sejak tahu kalau Teater Koma akan manggung, saya sudah bersiap memesan tiket. Satu tiket, di Selasa malam, selepas deadline. Sempurna
Dan kunjungan ke Taman Ismail Marzuki selalu mendatangkan debar tersendiri. Entah mengapa. Setelah menghabiskan ovaltine dingin di warung langganan depan gerbang, saya segera menuju Graha Bakti Budaya.
Ini produksi ke-seratus sebelas, di usianya yang ketiga puluh. Bisa bertahan selama itu dengan tetap kreatif sekaligus produktif adalah sebuah prestasi yang ditorehkan Teater Koma di jagat budaya dalam negeri.
Dan menonton sajian sekitar empat jam yang naskahnya disadur dari karya dramawan Jerman, Friedrich Durrenmatt ini menyentil kita tentang sebuah pilihan; membunuh tapi hidup makmur atau menolak membunuh dan dibelit kemiskinan.
Butet Kertarejasa bermain sangat baik. Saya kagum akan kualitas vokalnya. Ratna Riantiarno? Ibu yang satu ini memang layak diberi tepuk tangan panjang selepas pentas. Budi Ros juga mantap. Sayang Salim Bungsu tak banyak muncul (I love him so much ;)). Dan hohoho, Rangga Riantiarno, enak dilihat dan perlu :D. Ah ya, detail panggung juga layak diacungi jempol. Bintang dari pentas itu ada di balik layar, N. Riantiarno, terima kasih telah menyuguhkan satu lagi karya yang bernas.
Apa lagi yang perlu saya tulis? Datanglah jika sempat atau … sempatkanlah untuk datang
—————————————-
30 Tahun TEATER KOMA (1977 – 2007).
Oleh Friedrich Durrenmatt. N. Riantiarno
Graha Bhakti Budaya Taman Ismil Marzuki (GBB TIM)
Jl. Cikini Raya no. 73, Jakarta Pusat
Tanggal: 12 – 28 Januari 2007, Waktu: 19:30 WIB
Pemesanan Tiket: TEATER KOMA
Jl. Cempaka Raya No.15, Bintaro, Jakarta 12330.
Tlp: 735 0460 – 735 9540.
Jl. Setiabudi Barat No.4, Jakarta Selatan.
Tlp: 522 4028 - 525 1066.
Thursday, 11 January 2007
Tahun ini pasti akan sangat istimewa. Saya tahu itu. Sebab apa? Tahun ini sudah memberikan saya satu kejutan, yang cukup membuat saya terkejut-kejut.
Kejutan itu datang selepas tengah hari. Di hari keempat 2007. Ia -ya, kejutan itu-, tiba di hadapan saya tanpa terbungkus kotak dengan pita di sana-sini. Ia datang dalam bentuk lembaran kertas.
Ingin tahu isinya?
Bayangkan
Sebuah kertas putih. Tersimpan di dalam sebuah map plastik transparan. Ada tabel di sana. Tujuh baris. Dua kolom. Kolom pertama berisi nama. Kolom kedua berisi huruf yang membentuk kata “Yes” dan “No”.
Hanya itu?
Ya, hanya itu
Di mana letak kejutannya?
Ya, di situ itu
Saat saya menyusuri nama saya dengan jari dan membentuk garis lurus ke kolom di sampingnya, loh, loh, loh, tepat di samping nama saya, tercetak kata “No”.
Alamak
Saya tak naik kelas
Hiks
Ya, lembar kertas itu adalah pengumuman tentang kenaikan kelas. Yes berarti boleh melanjutkan ke kelas yang lebih tinggi dan No artinya tinggal kelas.
Sebelum datang ke tempat di mana kertas itu ditunjukkan, semangat saya masih penuh, sangat penuh, benarbenar penuh. Ah, rasanya dada saya penuh, gembira, menyongsong sebuah pengalaman baru, di awal tahun.
Tapi
Ha-ha-ha
Saya tak naik kelas
Ouch
Ini sebuah kelas yang saya ikuti, sebuah perwujudan resolusi tahun lalu. Kelas yang rumit, karena begitu mengikutinya, saya baru tahu kalau bahasa yang satu itu ternyata benar-benar ajaib
jangan gunakan too saat kalian sudah puas dengan kenyataan yang ada
ingat, will tidak boleh digunakan untuk kejadian yang terjadi di depan mata, saat itu juga, gunakan to be going to
see, hear, taste, smell tidak bisa menjadi verb-ing, pelajari kata-kata lain yang juga tidak bisa digunakan
dan masih banyak lagi
Grammar Enhancement, begitu kelas ini dinamakan. Kelas ini memberi saya pengetahuan baru tentang aneka peraturan yang sering -sering pangkat 10 mungkin lebih tepat, untuk menggambarkan betapa saya tak memberi perhatian teramat banyak- saya abaikan
Beberapa bulan sebelum Januari ini saya sempatkan untuk mempelajarinya lebih tekun. Saya jarang membolos. Pulang dari kantor selepas maghrib, tergesa-gesa menuju tempat di mana kelas diselenggarakan, dan tiba di rumah dalam keadaan lelah.
Dan pengorbanan saya (hohoho, pengorbanan :D) terbayar dengan satu hasil; saya tak naik kelas.
Nasib … nasib
Saya perlu beberapa menit untuk meratapi kenyataan pahit ini ;). Setelah mencuci wajah dengan air, minum air putih, dan menarik nafas panjang, saya bertekad untuk menemukan kembali semangat saya.
Bulan ini tak ada grammar dulu untuk sementara. Saya menggantinya dengan kelas lain di akhir pekan. Pagi-pagi bangun tidur di hari Sabtu, jelas bukan saya banget. Saya tambahkan kalimat tadi dengan; pagi-pagi bangun tidur di hari Sabtu lalu mengikuti kelas selama sekitar empat jam, jelas bukan saya banget. Tapi ini harus saya lakukan. (Mengingat betapa saya kerap membuang waktu dan tak pernah serius mempelajari bahasa -yang katanya menjadi syarat dalam pergaulan internasional ini- kadang membuat saya tak berhenti mengutuki diri sendiri)
Saya tak akan mundur. Tidak barang selangkah pun. Itu juga berlaku untuk kelas Grammar Enhancement tadi.
Dengarkan itu kelas grammar, tunggu saya beberapa bulan lagi. Saya akan datang dan … tak ada lagi cerita tak naik kelas. Ha-ha-ha
Kejutan awal tahun membuat saya yakin tahun penuh kerja keras ini pasti akan sangat istimewa
Selamat tahun baru semua