Thursday, 9 July 2009

Mencontreng di Negeri Tulip

Pengalaman meliput pemilihan umum legislatif pada 9 April 2009 menjadi catatan tersendiri dalam karir jurnalistik saya. Maklum, sebagai jurnalis yang ditempatkan di halaman politik. perhelatan pesta demokrasi merupakan puncak dari rangkaian persiapan pemilihan umum yang sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari. Alhasil, pada hari pencontrengan, saya meliput mulai pagi hari hingga lepas maghrib.

Saya masih ingat betul momen itu. Melihat proses pemungutan suara, menghubungi pengamat politik, menelepon lembaga riset yang melakukan penghitungan cepat, sampai menunggu pernyataan dari para peserta pemilihan umum. Bisa dibilang itu adalah hari tersibuk sepanjang tahun ini.

Semula saya kira saya juga akan kembali mengalami hari yang heboh pada pemilihan presiden. Tapi ternyata takdir berkata lain :D

Saat ini saya berada jauh dari rumah, jauh dari kantor, jauh dari rutinitas yang saya lakoni selama di Jakarta. Tapi saya tetap bersemangat untuk memberikan suara. Kian semangat sejak saya mendengar kabar bahwa Mahkamah Konstitusi mengeluarkan putusan yang membolehkan pemilih menggunakan hak pilihnya dengan berbekal Kartu Tanda Penduduk dan paspor. Kalau peraturan ini belum keluar, bisa jadi saya akan kesulitan menggunakan hak pilih, karena nama saya jelas-jelas tak ada di dalam daftar pemilih tetap di Belanda.

Jadi, sore tadi, setelah kelas usai, saya, Ina, qq, dan Mbak Wangge berangkat dari Utrecht menuju Kedutaan Besar RI (KBRI) di Den Haag. Kami bertolak dengan menumpang kereta api. Perjalanan menuju Den Haag memakan waktu sekitar 40 menit. Dari Stasiun Den Haag Central, kami melanjutkan perjalanan dengan bis dan berjalan kaki menuju KBRI.

pemilu-011
Prosesnya sangat mudah. Sesampainya di KBRI, kami hanya perlu menunjukkan paspor. Pendaftarannya juga sangat cepat. Setelah mendapatkan kartu suara, masing-masing dari kami, kecuali Mbak Wangge karena ia telah mendapatkan surat suara yang dikirimkan lewat pos, menuju bilik suara dan memilih. Mudah dan cepat.

pemilu-03
Ketua Panitia Pemilihan Pemilu Luar Negeri (PPLN) Pak Moeljo Wijono menuturkan bahwa animo masyarakat Belanda untuk mengikuti pemilihan presiden terlihat tinggi. Sejak pagi, pemilih datang ke KBRI dan mengantri untuk mencontreng. Suasana KBRI juga terlihat kian semarak karena pemilih umumnya datang bersama keluarga. Ia juga optimistis, jumlah surat suara yang kembali juga akan tinggi.

Meski sibuk mengurusi ini dan itu, Pak Moeljo mengatakan ia senang melakukan ini. “Ini sudah pemilu ketiga loh saya jadi Ketua,” ujarnya, tersenyum.

Berbeda dengan Pak Moeljo yang telah berkali-kali menggunakan hak pilihnya di Negeri Tulip, ini pengalaman pertama untuk saya. Senang melihat bahwa kendati dipisahkan oleh jarak yang teramat jauh, ikatan sebagai bangsa tidak lantas pupus.

Bagi saya, siapapun presiden yang terpilih, semoga keadaan di Tanah Air ke depannya jauh lebih baik. Saya ingin sekali sistem transportasi kita jauh lebih baik, seperti yang saya lihat di sini. Saya juga ingin perekonomian kian meningkat; tidak hanya besaran pertumbuhan ekonominya saja tapi juga pertumbuhan yang menggenjot kualitas hidup masyarakat. Saya juga berharap makin banyak orang Indonesia yang dapat mengenyam pendidikan tinggi dan ikut terlibat dalam komunitas global. Saya percaya kita sebenarnya mampu :) Bukan begitu?

2 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 4:13.

kembali ke atas

Wednesday, 8 July 2009

Tentang Sekolah Musim Panas

blog-11
Kalau saya menyebut kata “liburan”, apa yang muncul di pikiran kalian bisa jadi adalah pasir putih dengan pohon nyiur yang melambai. Atau menjelajah Bangkok, yang tak hanya membuat kaki menjadi lelah tapi juga mengakibatkan kantong kian menipis -yang ini tentu karena banyak produk-produk lucu ditawarkan dengan harga yang miring- ;) Atau makan sate ayam enak bersama dua sahabat di Penang, Malaysia.

Untuk Hee Rim, mahasiswa Desain Tekstil dari Korea Selatan, liburan kali ini sama artinya dengan bepergian meninggalkan Benua Asia menuju Eropa dan mendarat di Utrect. Ia menjadi salah satu peserta Utrecht Summer School untuk program European Cultures and Identities yang diadakan Universitas Utrecht. Ini program yang juga tengah saya ikuti.

Ya, liburan kali ini baginya berbeda dengan liburan-liburan sebelumnya. Seorang diri, Hee Rim berangkat dari Seoul menuju Amsterdam.

“Saya ingin mencari pengalaman,” ujarnya, ramah, ketika satu sore saya berjalan dengannya di pinggir kanal tak jauh dari gedung kampus tempat kelas berlangsung.

Mengisi liburan dengan mengikuti program-program singkat yang ditawarkan universitas bukan hanya milik Hee Rim semata. Tapi juga milik Jane dari Hong Kong, Noah dari Amerika Serikat, Cheng dari Beijing, Unou dari Estonia, Sasha dari Inggris, dan ribuan mahasiswa lainnya.

Mengikuti Sekolah Musim Panas di Universitas Utrecht bahkan menjadi program wajib untuk mahasiswa Studi Eropa di Universitas Hong Kong.

“Ada sekitar 40 orang yang tahun ini ikut. Semua teman satu angkatan. Kami berangkat bersama-sama dari Hong Kong. Ini memang program rutin dari universitas kami,” ujar Jane.

blog2

Dimulai pertama kali pada 1987, hanya dengan satu program; Dutch Culture and Society, kini Utrecht Summer School menawarkan lebih dari 90 program, yang terbagi ke dalam enam program besar, yaitu budaya, bahasa, ilmu-ilmu sosial, ekonomi dan hukum, ilmu pengetahuan, dan life sciences.

Pada tahun lalu, program-program tersebut mampu menarik lebih dari 1.300 peserta yang berasal dari 80 negara di berbagai belahan dunia.

Kendati singkat, umumnya satu program berlangsung selama satu hingga enam minggu, banyak hal yang bisa didapatkan oleh peserta Utrecht Summer School. Interaksi antara peserta yang satu dengan peserta yang lain misalnya akan menambah pengetahuan dan tentu saja memperluas jejaring pertemanan.

Universitas Utrecth mengemas program ini dengan sangat baik. Informasi mengenai jadwal dan sebagainya dapat dengan mudah dilihat di situs mereka. Selain urusan akademis, sekolah musim panas ini juga dibekali dengan program sosial yang dapat diikuti mahasiswa. Beberapa program mengharuskan pesertanya untuk membayar, tapi banyak juga yang dapat diikuti tanpa harus merogoh kocek alias gratis. Biasanya program sosial ditaruh di jam-jam di mana kelas usai. Peserta dapat memilih aneka program; dari tur berjalan kaki melihat sejumlah titik menarik di Utrecht, menonton film, berolahraga, musik, hingga menyusuri kanal dengan kano. Seru bukan?

Saya sudah mencoba tur dalam kota. Agenda ini ditaruh di hari pertama kelas dimulai. Tujuannya untuk mendekatkan kota Utrecth kepada para peserta. Dengan dua pemandu -mereka ini juga mahasiswa yang tergabung dalam Erasmus Student Network-, kami berkeliling melihat Utrecht lebih dekat lagi. Titik awalnya dimulai dari Dome Tower. Di sela-sela perjalanan kami juga sempat mengunjungi kafe Olivier untuk melepas haus dan penat.

kanal

Selain tur, saya juga telah mengantungi tiket untuk jalan-jalan dengan kano. Harga tiketnya 15 euro. Perjalanan akan dilakukan pada hari Jumat. Kemarin saya lihat Hee Rim juga membeli tiket.

Jadi siapa bilang Hee Rim kehilangan liburannya. Meski jauh dari rumah, keluarga, dan sahabat, Juli di Belanda justru adalah liburan yang berbeda dan menyenangkan untuknya. Di sini, ia bersua dengan teman baru dari negara sendiri, Hee Rim bertemu dengan tiga orang dari Korea Selatan, dan dari negara lain; saya misalnya dari Indonesia. Ia juga dimanjakan oleh keelokan kota Utrecht.

“Saya suka Utrecht. Gedung-gedung tuanya bagus. Setelah kelas selesai, saya juga akan melihat kota-kota lain di Belanda,” katanya.

Kalau ingin mencari sensasi liburan yang berbeda, apa yang dilakukan Hee Rim bisa ditiru. Jauh-jauh hari menabung dan merencanakan perjalanan dengan baik; termasuk berburu tiket promo dari sejumlah maskapai dapat mengantarkan kalian sampai ke sini :)

3 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 4:49.

kembali ke atas

Monday, 6 July 2009

Utrecht; jeda terbaik

Semua berawal dari satu tulisan. Ya, dari jalinan paragraf yang saya buat menjelang tenggat. Untung saja saya masih dapat mengejarnya sebelum masa kompetisi usai.

Saya ingat betul pengalaman itu. Dimulai dari membuat janji dengan Alfian, teman jurnalis yang baik hati, lalu mengajukan pertanyaan melalui bilik percakapan di dunia maya ke Farid Nasution dan Rizki Pandu Permana, keduanya teman baik saya, mengunjungi Netherlands Education Support Office (NESO) untuk mencari tahu gambaran tentang pendidikan di Belanda, dan bertanya pada Paman Google.

Dan kejadian setelahnya membuat saya tak berhenti bersyukur. Terus bersyukur hingga saat ini, ketika saya mengetikkan tulisan ini, di kamar dengan jendela berdaun lebar, dan tempat tidur dengan alas berwarna putih yang nyaman, dan sinar matahari yang hangat, di sini, di gedung yang terletak di Kruisstraat, Utrecth, Belanda. Saya pasti tak akan menikmati Utrecht nan menawan jika saya tak memperkuat niat saya untuk ambil bagian dalam kompetisi itu.

Neso memberikan kesempatan kepada saya dan Ina untuk mengikuti Utrecht Summer School dengan topik European Cultures and Identities.

Pagi tadi, sekitar pukul 07.00 waktu setempat, ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di landasan Bandar Udara Internasional Schiphol, saya merasakan hati saya dipenuhi perasaaan bahagia. Mengingat saya akan berada di kota yang sama dengan dua teman baik saya, Rizki Pandu Permana dan Riza Nugraha mempertebal rasa senang saya.

Rizki, atau lebih beken dengan sapaan qq, tengah menempuh pendidikan S3 Human Geography, Utrecht University. Sebelumnya gelar Master di bidang Forest and Nature Conservation juga diraih penulis Novel laris “Negeri Van Oranje” ini dari Wageningen University. Dan Riza, biasa disapa Ija, bekerja di sini.

Bertemu dengan teman baik, kesempatan untuk mendapatkan pengalaman baru di kelas yang diikuti pelajar dari beragam negara, mengunjungi tempat yang memang sudah lama saya impikan; satu kombinasi yang dahsyat. Dan ya, saya bersyukur, sangat bersyukur.

Untuk saya pribadi perjalanan ini adalah jeda terbaik dari keseharian saya sebagai jurnalis. Ini saat yang tepat untuk mengisi kembali baterai dan memompa semangat, meyakini bahwa selalu ada kesempatan yang datang untuk orang-orang yang berusaha dan berusaha. Mempercayai bahwa banyak hal-hal besar datang dari mimpi (saya ingat saya pernah berkata bahwa saya ingin sekali menemui qq dan ija di Utrecht… dan Voila ;) ), dan meneguhkan hati saya untuk tidak lagi takut meraih begitu banyak harap. Kita tidak pernah tahu apa yang menunggu di ujung sana, jika kita tak pernah mencoba, bukan begitu?

Jadi, hingga dua pekan ke depan, saya akan berada di Utrecht, dan mengunjungi Belgia, perjalanan yang menjadi bagian dari kelas yang saya ambil. Setelah kelas selesai, saya akan singgah di Paris, dan mengunjungi teman di Jerman. Saya sudah mencium harum pengalaman menyenangkan yang ditawarkan dari perjalanan ini. Saya akan menikmatinya, pasti :D . Menikmati hari-hari penuh kejutan, satu pengalaman yang tentu memperkaya batin saya, nutrisi jiwa yang sebenarnya …

Jeda terbaik yang berawal dari sebuah tulisan :)

11 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 19:54.

kembali ke atas

Sunday, 21 June 2009

Menjadi Tua

Waktu menggelinding. Memakan usia kita. Berpuluh-puluh senja telah kita sambangi.

Dan, kita tiba di satu masa, di mana aku akan menjadi tua. Begitu juga kau.

Pada masa itu, fisik kita tak lagi sama. Aku akan lebih kesulitan menguruskan badan (aha) dan kau mungkin akan lebih tak tahan berlama-lama di udara dingin. Kita bisa jadi akan mudah lelah melakukan banyak aktivitas yang dulu bisa dengan leluasa kita jalani saat kita muda.

Warna rambutmu, dan rambutku tentunya, akan berubah menjadi abu-abu.

Ya, abu-abu. Seperti warna rambut dua bapak dan dua ibu, yang duduk di barisan di depan kita saat GM menyampaikan kuliah umum tentang humanisme di Salihara, pekan lalu. Dan warna rambut seorang bapak berbaju batik lengan panjang yang sore itu bertanya dan tahu banyak tentang Pram.

Rambutku dan rambutmu akan menjadi abu-abu. Kita mungkin akan tetap melaksanakan ritual memutari kota, memandangi lampu jalan, berbincang-bincang tentang apa saja, melewati rute yang sama, melihat tempat-tempat yang memiliki arti dalam perjalanan kisah kita, kemudian berhenti sebentar untuk minum air jahe yang dihidangkan di gelas kaleng di angkringan langganan di pinggir jalan.

Aku bayangkan satu sore kau akan duduk di kursi kayu ditemani teh tawar panas di halaman belakang rumah kita, memeriksa tulisan mahasiswamu. Atau bersandar, meluruskan kaki, di kursi malas di ruang tengah, tak jauh dari jendela lebar yang daun jendelanya dibiarkan terbuka, membaca buku atau jurnal, sesekali membetulkan letak kacamata, menggosok-gosok hidung, membiarkan angin memainkan anak rambutmu.

Aku mungkin akan mengedit atau menjelajah dunia maya, satu hal yang aku gemari sejak muda, melihat kabar teman-teman lama atau membaca cerita pendek di koran edisi akhir pekan atau bermalas-malasan bersama anjing berbulu coklat muda peliharaan kita

Berdua, kita akan saling menjaga.

Dan ya, kendati usia kita tua, kita akan tetap melakukan perjalanan, sayang. Tak berhenti bahkan ketika rambut kita berubah menjadi abu-abu.

Kita … mengantungi begitu banyak bahagia.

Satu hal yang aku tahu dengan pasti; saat itu, ketika helai-helai rambut hitammu berjejalan dengan helai-helai putih rambutmu, kau akan terlihat jauh lebih tampan dibandingkan hari pertama aku melihatmu puluhan tahun lampau.

Percayalah, akan ada banyak kasih di kisah kita; saat kita menjadi tua, bersama…

-aku menyayangimu, selalu-

Tags:

7 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 12:29.

kembali ke atas

Thursday, 30 April 2009

Bergerak Menuju Holland


Jakarta terlihat lebih molek dari ketinggian. Apalagi saat malam datang. Saya menikmati wajah Ibu Kota dari sebuah restoran di lantai sepuluh di sebuah pusat perbelanjaan. Alfian, teman yang ingin saya temui, belum nampak.

Tapi jurnalis muda, dari harian berbahasa Inggris The Jakarta Post itu tak membuat saya menunggu lama. Perjumpaan pertama saya dengan laki-laki kelahiran Desa Krueng Seunong, Aceh Utara, terjadi pada awal Februari tahun lalu. Kala itu kami meliput perayaan akbar hari lahir sebuah organisasi keagamaan yang digelar di Gelora Bung Karno, Jakarta. Setelahnya, saya juga kerap bersua dengan Alfian dalam beragam liputan. Dalam beberapa kali perjumpaan dan percakapan, saya akhirnya tahu ia pernah mengecap studi Master of Arts in Media Culture, Faculty of Arts and Social Sciences, Maastricht University, Belanda.

Malam itu, saya khusus memintanya menyisihkan waktu untuk berbagi pengalaman selama ia menempuh pendidikan di Negeri Kincir Angin pada Juli 2006 hingga Juli 2007. Ia menyambut permintaan saya dengan bersemangat. Berdua kami melewati mesin waktu miliknya.

Alfian mengantarkan saya pada September 2005, saat perwakilan dari Netherlands Education Centre (NEC) -pada 2007 berganti nama menjadi Netherlands Education Support Office (NESO)- memberikan presentasi mengenai pendidikan di Belanda. “Pemaparannya memicu untuk mulai lagi mempersiapkan diri dan berusaha mendapatkan beasiswa,” ujarnya.

Dan cerita setelahnya adalah serangkaian upaya persiapan yang dijalani lulusan S1 Agribisnis dari Institut Pertanian Bogor itu, termasuk upaya menggenjot skor Test of English as a Foreign Language (Toefl).

Maastricht nan cantik

Maastricht nan cantik

Saat itu, Alfian masih bekerja di sebuah majalah mingguan berbahasa Indonesia di Jakarta. “Mulainya dari skor 500. Ikut kursus, terus naik 530. Tapi udah itu mandek, susah naik lagi. Hahaha,” ia tergelak. Tidak berhenti sampai di situ, Alfian kemudian mengubah cara belajarnya. Selama satu jam setiap hari ia bergulat dengan contoh soal-soal Toefl. Begitu terus selama sekitar sebulan. Hasilnya? “Skor naik jadi 580.” Ia juga berhasil diterima di Maastricht University dan pergi meneruskan sekolah dengan mengantungi beasiswa Studeren in Nederland (StuNed).

Cerita sebenarnya pasti jauh lebih panjang dari rangkuman kisah yang dituturkannya malam itu. Di sana berbaur ketekunan, kesabaran, keteguhan, dan keyakinan akan keberhasilan menggapai mimpi. Anak keenam dari enam bersaudara itu mengaku beruntung dikelilingi sahabat dan teman, yang disebutnya kelompok pendukung, dan keluarga yang berperan dalam memompa semangatnya.

Masih dengan mesin waktunya, Alfian kemudian membawa saya ke kesibukan menjelang keberangkatan, mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa, saat pertama kali tiba di Bandar Udara Internasional Schiphol, Amsterdam, sambutan hangat dari teman mahasiswa Indonesia di sana, adaptasi awal, rindu rumah, kesulitan memahami buku teks, mendengarkan aneka aksen dari orang-orang berbagai bangsa, interaksi dengan teman dari beragam latar belakang budaya, hingga kegagalan presentasi pertama.

Ah ya, ia juga bertutur tentang betapa ia dengan mudah jatuh hati pada Maastricht, pada lalu lintasnya yang teratur, pada perpustakaan yang nyaman, pada udara yang bersih -sangat bersih-, pada suasana kelas kecil yang mengasyikkan -tempat di mana mahasiswa berdiskusi dan bebas mengeluarkan pendapat-, pada kemudahan menjelajah kota-kota lain di Eropa.

Alfian belajar banyak hal dari Belanda. “Dari kebingungan bikin paper pada awal-awal kuliah sampai akhirnya diminta untuk presentasi tesis di konferensi bersama dari tiga universitas dari Belanda, Kanada, dan Amerika Serikat. Benar-benar peningkatan,” tuturnya.

Suasana kota Amsterdam

Suasana kota Amsterdam

Ia tak sendiri. Belanda juga adalah jalinan kisah milik Rizki Pandu Permana, lulusan program Master di bidang Forest and Nature Conservation, Wageningen University dan tengah menempuh studi S3 Human Geography, Utrecht University dan Farid F. Nasution, peraih gelar LL.M dalam International Business Law di Vrije Universiteit Amsterdam, yang kini menjabat sebagai Kepala Subdirektorat Pemberkasan Direktorat Penegakan Hukum Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Apa yang dipetik dari pengalaman bersekolah di Belanda? “Etos kerja yang jauh lebih baik, juga kemampuan berbahasa yang jauh lebih pede dibanding dulu,” ujar qq, sapaan akrab Rizki. Untuk Farid, pengalaman terbesar dari tinggal di Belanda pada 2005 sampai 2006 adalah bagaimana ia merasakan pergaulan antarbangsa. “Bahwa after all we all are human, enggak ada bedanya satu sama lain. Dan we belong to the great nation of Indonesia. Saya merasakan betul bangga berbangsa Indonesia di tengah-tengah pergaulan global,” urai Farid.

Magnet Penarik Mahasiswa

Belanda laksana magnet yang setiap tahunnya menyedot mahasiswa dari berbagai penjuru dunia. Pada tahun akademik 2007-2008, jumlah mahasiswa internasional mencapai 70.000 orang. Jerman menjadi negara asal terbesar dengan 16.750 mahasiswa, lalu China 4.750 mahasiwa, Belgia 2.450 mahasiswa, Spanyol 2.000 mahasiswa, dan Perancis 1.650 mahasiswa.

Pemerintah Belanda berupaya keras untuk membuat pendidikan tinggi bisa dengan mudah diakses oleh tidak hanya mahasiswa tapi juga kalangan profesional dari negara lain, misalnya dengan pemberian subsidi. Alhasil biaya kuliah dapat jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Inggris dan Amerika.

Di sini tersedia dua jenis pendidikan tinggi reguler yang utama, yaitu universitas riset, yang melatih para mahasiswa untuk menggunakan ilmu secara mandiri, dan university of applied sciences, yang lebih berorientasi ke praktek. Ada 1.391 program studi internasional, yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar, terdiri dari 1.006 program dengan gelar dan 385 program short course dan preparatory course. Sejumlah disiplin ilmu telah menggondol pengakuan internasional, antara lain manajemen dan bisnis, pertanian, kedokteran, teknik sipil, dan seni serta arsitektur.

Menghargai pendapat dan keyakinan individu, yang menjadi landasan negara Belanda, termanifestasi dalam metode pengajaran. Hasilnya, para siswa memiliki kebebasan dalam mengembangkan pendapat dan kreativitas.

Banyak Jalan Menuju Holland

Utrecht, salah satu kota tertua di Belanda

Utrecht, salah satu kota tertua di Belanda

Kalau ada banyak jalan menuju Roma, pasti hal senada juga berlaku untuk kalian yang ingin melanjutkan studi di Holland. Ada beragam jalur untuk dapat menjejakkan kaki di sana. Pilihan pertama adalah pergi dengan biaya sendiri. Biaya untuk mahasiswa dari luar negara-negara Uni Eropa umumnya berkisar antara 2.000 euro hingga 15.000 euro.

Persiapan sebelum studi dapat dilakukan dengan mengontak universitas yang dituju secara langsung atau dapat juga melalui agen pendidikan di Indonesia, seperti Atlas Education Services (AES), Consultancy Dutch Universities (CDU), Dua Bangsa Education Service, Groningen, dan StudyLINE. Hubungi agen-agen ini untuk mengetahui apakah mereka memiliki kerja sama dengan universitas yang kalian tuju.

Kalian juga dapat mengambil program bersama antara universitas di Indonesia dengan universitas di Belanda. Program dual degree misalnya. Melalui program ini, selama tiga tahun mahasiswa belajar di kampus di Indonesia kemudian sisanya selama satu tahun dihabiskan di Belanda.

Data dari Biro Perencanaan dan Kerja sama Luar Negeri Departemen Pendidikan Nasional menunjukkan pada periode 2006-2007 terdapat 16 peserta program yang belajar di sejumlah daerah di Belanda. Jumlah ini meningkat menjadi 40 orang pada periode tahun 2007-2008.

Cara lain yang tak kalah menarik, dan juga menantang, adalah mengajukan aplikasi beasiswa. Tren pelamar beasiswa terus menunjukkan peningkatan. Informasi dari NESO menunjukkan pada 2006, jumlah pelamar mencapai 731 dengan penerima beasiswa sebanyak 183 dan meningkat menjadi 877 pelamar dengan 187 penerima beasiswa pada 2007. Pada tahun lalu, aplikasi beasiswa yang masuk tumbuh menjadi 1.000 dengan total penerima beasiswa sebanyak 214. Selama kurun waktu 2000 sampai 2008, aplikasi beasiswa mencapai 5.283 dan penerima beasiswa sebanyak 1.269.

Melihat deretan angka ini, tolong jangan dulu ambil langkah seribu. Ada beragam beasiswa yang menanti kalian untuk direbut, sebut saja HSP Huygens Programme, Netherlands Fellowship Programme (NFP), StuNed, The Indonesian Young Leaders Scholarship Programme, Amsterdam Merit Scholarships, Berlage Institute Scholarship, CHN-SGS Scholarship, Erasmus Mundus Scholarship programme, Eric Bleumink Fund Ph.D. researchers, Eric Bleumink Fund Students, dan Japan/World Bank Graduate Scholarship Program.

Daftar ini dapat lebih panjang lagi dengan LUF Scholarship, NWO Rubicon Scholarship, Rembrandt Scholarship for new students, RSM Scholarships, TU/E Scholarships, Ubbo Emmius programme University Groningen, University of Groningen Phd Fellowship, juga Utrecht University Excellence scholarship.

Masih ada Utrecht University TNO Scholarship, VU Fellowshiship Programme, Webster University “Gateway” Graduate Studies, dan WOTRO Integrated.

Informasi mengenai beasiswa di Belanda dapat diperoleh dari NESO. Pintu menuju Belanda ini menyediakan segudang informasi mengenai universitas dan program studi di sana. Para staf yang ramah akan dengan senang hati membantu kalian.

Dari dalam negeri juga tersedia beasiswa Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) dan Departemen Komunikasi dan Informatika.

Jadi percayalah banyak sarana untuk bisa turut menikmati suasana pendidikan di Belanda, mereguk pergaulan internasional, meraup begitu banyak pengalaman berharga.

Untuk Alfian, Negeri Tulip tetap menariknya untuk kembali. Mulai tahun depan, Alfian -yang kini meliput di desk pertambangan dan energi- akan kembali mengajukan aplikasi beasiswa. “Wartawan kan mesti banyak tahu. Sesuai dengan desk yang sekarang, jurusan yang akan dipilih kemungkinan public policy atau business administration,” ujarnya, mantap.

Jalannya mungkin akan sama berlikunya seperti sebelumnya. Tapi langkahnya tak surut. “Setelah kuliah S2 selesai, rasa percaya diri saya meningkat. Saya tak lagi takut meraih mimpi.”

Jadi tunggu apalagi? Jangan hanya menggantang asa, kini saatnya bergerak, menuju Holland ;)

Keterangan: foto-foto milik Rizki Pandu Permana. Dipasang atas seizinnya

Tags:

48 komentar » Diletakkan dalam General oleh atta pada 12:52.

kembali ke atas

Kredit

© Negeri Senja | Ditenagai oleh WP 3.1.3. | Tree oleh Headsetoptions, tema minimal berbasis HyperBallad | Kandungan: XHTML + CSS | Ke Atas